Kas Pani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Langkah Kaki Pengawas Sekolah

Langkah Kaki Pengawas Sekolah

Langkah Kaki Pengawas Sekolah

* Kas Pani

"Untuk apa terlalu bersemangat berkunjung ke sekolah?"

Pertanyaan itu menusuk kepala, disusul dengan senyum sinis yang seolah-olah sudah tahu arahnya kemana. Toh, tanpa kunjungan atau pengawas pembina, sekolah tetap bisa jalan. Bahkan dengan kunjungan pun tak ada perubahan yang signifikan. Semua biasa saja.

Saya terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena pertanyaan itu seperti pisau yang tajam, mengiris semangat yang selama ini saya bangun. Saya tercenung, membiarkan kata-kata itu meresap. Dan jujur, ada getar kecil di hati yang berbisik, "Betul juga kata mereka."

Tapi, Tiba-tiba tiba saya sadar, ocehan itu pembunuh semangat. Mereka berbicara tentang perubahan yang signifikan, angka-angka, data, dan indikator yang kasat mata.

Menurut saya, itu terlalu sulit untuk mengukur dampak sebuah kunjungan dalam lembaran laporan. Tidak ada grafik yang naik drastis selepas saya datang. Tidak ada papan pengumuman yang tiba-tiba berkilau karena kehadiran saya.Tapi sejak kapan makna sebuah kehadiran diukur dari perubahan yang instan?

Saya ingat seorang guru muda di sebuah sekolah pelosok. Saat saya datang, ia bercerita tentang kesulitannya mengajar anak-anak yang sebagian besar adalah korban broken home, murid-murid yang minim motivasi, dan perhatian orang tua,

Ia sampaikan, ia tidak butuh saya untuk memeriksa administrasi pembelajarannya. Ia butuh seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, ia ingin meyakinkan dirinya, bahwa ia tidak sendiri. Ada orang lain yang peduli akan tugasnya.

Saya hentikan sementara, tidak periksa administrasinya. Saya fokus mendengarkan dengan cermat curahan hatinya. Tapi saya melihat matanya berbinar, setelah ia tumpahkan keluh kesahnya, apalagi saya menawarkan solusi untuk dipertimbangkan. Dan itu, bagi saya, adalah perubahan yang luar biasa, bahwa ia puas.

Selain itu, kalimat yang paling sering saya lontarkan sebagai dalih akan rasa pesimisme mereka akan kehadiran pengawas sekolah.

"Sekolah yang sering dikunjungi saja masih terseok-seok, apalagi sekolah yang sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh pengawasnya."

Tentu bukan alasan yang sempurna, tapi saya berpegang pada logika sederhana ini. Kehadiran, sekecil apa pun, tetaplah kehadiran. Seperti halnya seorang pasien yang tetap membutuhkan dokter meski hanya untuk sekadar mengecek tekanan darahnya. Seperti pohon yang tetap membutuhkan sinar matahari, meski ia bisa tumbuh di tempat teduh, tapi tidak akan pernah setinggi jika ia mendapat cukup cahaya.

Saya tahu, ada sekolah-sekolah yang berjalan tanpa kunjungan pengawas sama sekali. Mereka berjalan, ya, tapi seperti kereta yang melaju di atas rel yang mulai berkarat. Saya sering membayangkan, bagaimana jadinya jika seorang pengawas hadir tepat waktu? Memberi nasihat saat guru sedang lelah. Mengingatkan saat kepala sekolah mulai kehilangan arah. Menjadi cermin yang jujur, bukan hakim yang menakutkan.

Mungkin selama ini kita salah memahami peran. Pengawas bukan polisi yang mencari kesalahan. Bukan auditor yang hanya menghitung angka. Kita adalah penjaga harapan, orang yang hadir untuk mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan.

Tantangan terbesar bukanlah menjawab pertanyaan mereka yang pesimis, tapi terus hadir meski terkadang tidak dianggap. Seperti seorang nelayan yang tetap melaut meski cuaca tak menentu, karena ia tahu di sanalah hidupnya berarti.

Saya tetap bertahan dari gempuran pesimisme ini. Bukan karena saya naif, tapi karena saya telah melihat sendiri, ada kepala sekolah yang menangis saat saya datang setelah beberapa minggu tidak berkunjung, bukan karena takut, tapi karena lega, karena akhirnya ada yang peduli. Ada guru yang mengucapkan terima kasih karena saya mengingatkannya bahwa ia adalah guru yang baik, saat orang-orang di sekitarnya hanya mengingatkannya pada kekurangan.

Mereka bertanya untuk apa terlalu bersemangat. Saya menjawab, karena di sekolah-sekolah itu ada mimpi-mimpi yang rapuh. Karena di balik setiap buku administrasi, ada guru yang lelah danmurid-murid yang haus perhatian. Karena kehadiran saya mungkin bukan perubahan besar, tapi bagi mereka yang menunggu, kehadiran adalah segalanya.

Saya tetap akan melangkah ke sekolah-sekolah itu. Bukan karena tugas, tapi karena saya percaya, bahwa di setiap langkah kaki pengawas, tersimpan harapan. Dan harapan, meski tak terlihat, adalah hal paling nyata yang bisa saya berikan.

Seperti kata penyair: "Kadang kita datang bukan untuk mengubah, tapi untuk memastikan bahwa perubahan itu mungkin terjadi."

Maka, biarlah mereka terus bertanya. Saya akan terus melangkah. Karena bagi saya, menjadi pengawas bukan tentang signifikansi di mata mereka, tapi tentang kesetiaan pada panggilan yang telah saya pilih. Dan di situlah makna itu hidup dalam setiap kunjungan, setiap sapaan, dan setiap senyum yang terukir di sekolah-sekolah yang saya datangi.]]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post