Kas Pani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Perayaan Spontan Di Sekolah Antara Semarak dan Pengorbanan Waktu Belajar

Perayaan Spontan Di Sekolah Antara Semarak dan Pengorbanan Waktu Belajar

* Kas Pani

Akhir-akhir ini, kegelisahan saya semakin menguat. Bukan tanpa sebab. Di berbagai platform media sosial, linimasa saya dipenuhi unggahan kemeriahan perayaan di sekolah-sekolah. Mulai dari peringatan hari kartini dengan busana adat, festival budaya dadakan, hingga pameran karya yang digelar tiba-tiba. Semarak memang. Tapi di balik gemerlapnya, ada pertanyaan mengusik, di mana posisi belajar saat ini?

Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, saya memahami bahwa sekolah memang tak melulu tentang ruang kelas dan papan tulis. Alam terbuka, panggung, bahkan halaman sekolah, bisa menjadi media pembelajaran yang sah. Prinsip Merdeka Belajar yang digaungkan pun memberi ruang kreativitas seluas-luasnya. Tapi ketika kreativitas itu justru " memakan " hari-hari efektif belajar secara masif dan tak terencana, bukankah kita sedang terjebak dalam euforia yang keliru?

Dalam tatanan yang ideal, setiap sekolah memiliki kalender pendidikan yang disusun sejak awal tahun ajaran. Di dalamnya termaktub jadwal Hari Besar Nasional, Hari Besar Keagamaan, bahkan kegiatan rutin seperti Porseni atau pentas seni. Semua telah diperhitungkan dengan cermat agar tidak mengganggu jam belajar efektif. Itulah fungsi kalender pendidikan: sebagai peta jalan, bukan sekadar tempelan di dinding ruang guru.

Namun yang terjadi belakangan, saya menyaksikan gelombang perayaan yang muncul secara sporadis. Tidak jarang, kegiatan itu lahir dari usulan mendadak, semangat spontanitas yang memang menghangatkan suasana, tetapi tanpa pertimbangan matang terhadap dampaknya pada waktu belajar. Padahal, setiap hari yang hilang dari jadwal intrakurikuler adalah hari yang sulit tergantikan. Guru harus kejar-kejaran materi, siswa kehilangan ritme belajar, dan pada akhirnya, yang dikorbankan adalah kualitas pemahaman.

Yang lebih memprihatinkan, ada kecenderungan menjadikan proses pembelajaran sebagai "etalase" di atas kertas. Roster pelajaran terpajang rapi, mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, dan seterusnya dengan kode gurunya tertulis indah. Tetapi ketika memasuki kelas, entah karena persiapan perayaan, rapat mendadak, atau kegiatan seremonial lainnya, jam pelajaran itu sirna. Terlaksana tidak semestinya, atau bahkan tidak terlaksana sama sekali.

Ini bukan sekadar soal administrasi. Ini persoalan esensial tentang bagaimana kita memaknai tanggung jawab pendidikan. Tugas utama sekolah adalah memastikan anak-anak belajar dan mencapai kompetensi yang ditargetkan. Kegiatan perayaan boleh menjadi pelengkap, tetapi tidak boleh menjadi pengganti. Ketika frekuensi perayaan spontan meningkat, sementara capaian pembelajaran terancam tertunda, kita perlu berani bertanya, siapa yang bertanggung jawab?

Belajar tak harus dalam ruang Kelas, Seribu persen saya setuju. Ekspedisi alam, kunjungan industri, atau proyek sosial adalah bukti bahwa pengalaman di luar kelas dapat memberi makna mendalam dan dapat membentuk karakter murid. Namun, semua itu tetap membutuhkan perencanaan yang matang dan keterkaitan yang jelas dengan kurikulum. Bukan sekadar jalan-jalan atau foto-foto yang viral di media sosial.

Yang dikhawatirkan adalah ketika kegiatan perayaan berlangsung berhari-hari, anak-anak terlepas dari suasana akademik yang sesungguhnya. Mereka mungkin senang dan merasa merdeka. Namun ketika ujian tiba, ketika tuntutan kompetensi menghadang, kita akan kembali menyalahkan sistem, tanpa sadar bahwa kita sendiri turut andil dalam menggerogoti waktu belajar mereka.

Dalam struktur pendidikan, semua kegiatan baik intrakurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler seharusnya terintegrasi. Perayaan bukanlah musuh, melainkan bagian dari ekosistem yang bisa disinergikan. Festival budaya, misalnya, dapat menjadi ajang penguatan profil pelajar Pancasila. Pameran karya bisa menjadi bentuk asesmen proyek. Namun semua itu membutuhkan perencanaan yang terintegrasi ke dalam kalender, bukan kegiatan dadakan yang memotong waktu belajar tanpa kompromi.

Saya tidak anti-perayaan. Saya justru percaya bahwa sekolah yang membosankan adalah sekolah yang gagal. Tetapi kemeriahan tanpa perencanaan, euforia tanpa integrasi kurikulum, sama bahayanya dengan kebosanan itu sendiri.

Mari kita jujur, mungkin kita terlalu asyik merayakan, hingga lupa bahwa anak-anak kita sedang berproses. Barangkali, kita terlalu sibuk tampil semarak di luar, hingga lupa bahwa esensi pendidikan justru sering kali adalah kerja-kerja sunyi di dalam kelas.

Sudah saatnya kita menimbang ulang. Bukan menolak perayaan, tetapi mengembalikannya pada porsi dan waktu yang tepat, dan tidak mematikan kreativitas, tetapi mengarahkannya agar tetap sejalan dengan tujuan utama, mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar menghibur sekejap.

Karena pada akhirnya, hari-hari efektif belajar adalah aset berharga yang tak bisa dikembalikan. Dan ketika waktu itu terlewat, yang rugi bukan hanya sekolah, tapi masa depan anak-anak kita sendiri.]]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post