Kenangan Terindah (T.1093)-165
Kenangan Terindah
Karya: Kharirotus Sakdiyah (Guru MAN 6 Jombang)
…
Pagi itu Riana kelihatan resah sekali. Riana akan berpisah dengan orang yang sangat disayanginya, Raihan. Riana tak ingin jauh darinya. Namun, Raihan telah menyelesaikan studinya. Dia telah wisuda dengan prediket cumlaude. Sementara itu, Riana kurang lebih masih dua tahun lagi. Raihan harus segera pulang ke kampung halamannya.
Raihan berjanji pada sebuah yayasan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sebelum Raihan lulus, dia telah dipinang oleh yayasan tersebut. Dia tak kuasa untuk menolaknya. Yayasan tersebut adalah tempat dia belajar mulai pendidikan dasar sampai menengah sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siang itu Raihan menunggu di depan kampus tempat Riana belajar. Setengah jam lagi Riana akan keluar kelas. Raihan yang mendapat julukan si kutu buku, memanfaatkan waktu menunggu Riana sambil membaca buku.
“Kak Raihan, sudah lama duduk di sini?” tanya Riana.
“Lumayan, hampir setengah jam,” jawab Raihan singkat.
“Riana! Bagaimanapun aku harus pulang kampung. Aku tak bisa berlama-lama tinggal di sini!” jelas Raihan.
“Apakah Kak Raihan tidak bisa bekerja di sini terlebih dulu, sampai Riana selesai kuliah?” pinta Riana .
“Tidak bisa, Riana! Aku sudah ditunggu si pemilik yayasan. Berkali-kali aku dihubungi lewat telepon. Saat ini ada salah satu guru yang pensiun. Murid-murid tidak ada yang mengajar. Kasihan jika murid-murid belajar tanpa didampingi seorang guru,” jelas Raihan.
“Kamu harus lebih semangat belajar, ya! Aku doakan agar kuliahmu lancar dan selesai tepat pada waktunya. Jangan sia-siakan kesempatan belajarmu. Raih prestasi setinggi-tingginya.”
Tak terasa bulir-bulir air mata Riana menetes dengan derasnya. Riana tak kuasa untuk berpisah dengan Raihan. Selama ini, Raihan selalu membimbing Riana dalam menyelesaikan tugas kuliahnya. Raihan pun selalu menasihati Riana apabila mendapat masalah. Raihan benar-benar laki-laki yang sempurna di hadapan Riana.
“Riana, maafkan aku! Aku tak bisa membersamaimu sampai kamu lulus. Kamu bisa menghubungiku setiap ada permasalahan. Aku siap 24 jam,” ucap Raihan untuk meyakinkan Riana.
Selesai salat Asar, Raihan berpamitan pada Riana. Riana mengantar Raihan di halte bus depan kampus. Sinar jingga sang mentari sore itu menjadi kenangan teridah bagi Riana dan Raihan. Setelah menunggu lama, bus yang ditunggu pun telah datang. Dengan lambaian tangan Raihan berucap selamat tinggal pada Riana.
Riana segera pulang ke tempat tinggal sementara di dekat kampus. Senja itu menjadi kenangan tak terlupakan. Riana kemudian menghibur hatinya dengan memutar musik yang berjudul “Mungkinkah.”
Tetes air mata basahi pipiku Di saat kita kan berpisah Terucapkan janji padamu kasihku Takkan kulupakan dirimu Begitu beratnya kau lepas diriku Sebut namaku jika kau rindukan aku Aku akan datang
…………
Salam Literasi!
Jombang, 20 Juli 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan