Buah antara Bersyukur dan Kufur Nikmat
( Tagur hari ke-127
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Pada masa dulu ada tiga orang dari Bani Israil semuanya cacat, yang pertama kulit badannya penuh penyakit eksim (Si Belang), kedua kepalanya tak ada rambutnya (Si Botak), dan yang ketiga matanya buta tak dapat menikmati indahnya alam dunia (Si Buta).
Pada suatu waktu Allah SWT mengutus malaikat untuk mendatangi dan sekaligus menguji mereka. Pertama, malaikat mendatangi Si Belang. Malaikat bertanya, “Nikmat apa yang paling kamu sukai?”. “Aku sangat senang bila penyakit kulitku sembuh, sehingga kulitku jadi baik,”. Lalu malaikat berdoa memohon kepada Allah agar Si Belang sembuh dan diganti dengan kulit yang baik. Seketika itu kulitnya berubah menjadi bersihdan baik. “Lalu kekayaan apa yang kau senangi?”, tanyanya lagi. “Saya ingin seekor Unta.”. Maka diberikannya seekor Unta, dan didoakan agar membawa berkah.
Kedua, malaikat mendatangi Si Botak. Malaikat betanya, “Nikmat apa yang paling kau sukai?”. “Aku sangat senang sekali bila penyakit di kepalaku sembuh dan ditumbuhi rambut yang lebat,”. Lalu malaikat berdoa memohon kepada Alah agar Si Botak sembuh dan kepalanya ditumbuhi rambut yang lebat. Seketika itu juga kepala Si Botak sembuh dan sudah ditumbuhi rambut yang lebat.”Lantas kekayaan apa yang paling kau senangi,”tanyanya lagi. “Aku ingin lembuh betina yang hamil.” Maka diberikannya seekor lembu betina yang hamil,dan didoakan agar menjadi berkah. Sehingga dalam jangka beberapa waktu kemudian berkembang biak menjadi banyak.
Ketiga, malaikat mendatangi Si Buta. Malaikat bertanya, “ Nikmat apa yang paling kau sukai.”. “Aku sangat senang bila mataku sembuh, sehingga dapat melihat alam dunia,” jawab Si Buta. Lalu malaikat berdoa memohon kepada Allah agar Si Buta segera dapat melihat. Seketika itu juga Si Buta dapat melihat. “Lalu kekayaan apa yang kau senangi?” tanyanya lagi. “Cukup seekor kambing betina .”. Maka diberikannya seekor kambing betina,dan didoakan agar membawa berkah.
Beberapa tahun kemudian, Allah mengutus malaikat mendatangi ketiga orang tersebut untuk mengujinya, dengan menyamar seperti musafir yang kehabisan bekal. Pertama, malaikat mendatangi Si Belang dengan kondisi dan tingkah laku sebagaimana bekas Si Belang, seraya berkata, “Aku ini seorang musafir yang kehabisan sangu, aku mohon bantuan Tuan, agar penyakitku dapat sembuh dan dapat meneruskan perjalanan.” Namn permintaan musafir ini ditolak Si Belang dengan jawaban yang kasar. Menurutnya rizki itu harus dicari dengan banyak pengorbanan, baik tenaga dan pikiran, tidak bisa hanya dengan duduk-duduk dan meminta-minta.
“Kamu termasuk orang yang bohong dan kufur nikmat. Aku tahu kau dulu cacat dan melarat sepertiku, tapi sekarang sombong dan bakhil. Semoga Allah mengembalikanmu sebagaimana semula.” Seketika itu juga kondisi bekas Si Belang kembali seperti asalnya. Kedua malaikat mendatangi Si Botak, dengan kondisi dan tingkah laku seperti bekas Si Botak. Malaikat mengujinya sebagaimana yang dilakukan pada Si Belang. Dan ternyata ia mendapat jawaban dan perlakuan yang sama seperti jawaban dan perlakuan Si Belang.. Karena bohong , sombong, dan kufur nikmat, akhirnya S Botak pun didoakan sehingga kondisinya kembali sebagaimana asalnya.
Kemudian malaikat mendatangi Si Buta, dengan kondisi dan tingkah laku menyerupai bekas Si Buta. Malaikat mengujinya sebagaimana yang dilakukan pada Si Belang dan Si Botak. “Sungguh aku dulu buta dan melarat. Allah telah menyembuhkan mata dan memberikan kekayaan yang melimpah ruah kepadaku,” jawab Si Buta. “Apa yang menjadi semua keinginan dan kebutuhanmu silakan mengambil dengan sesuka hati,” tambahnya. Mendengar jawaban yang ramah dan ikhlas Si Buta. Maka Si Musafir berkata, “Sebenarnya aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku ini malaikat yang diutus Allah untuk menguji orang yang telah diberiNya nikmat. Sungguh Allah telah meridhaimu dan murka kepada kedua temanmu (Si Belang dan Si Botak).”
Kisah ini dapat kita dijadikan ibrah, agar kita senantiasa bersyukur atas banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah. Allah berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu ingkar, maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih.”(QS. Ibrahim:7).
Karena itu kita harus sadar, hakekat bersyukur kepada Allah itu keuntungannya untuk manusia sendiri. Karena meskipun kita bersyukur Allah tak akan beruntung, tapi sebaliknya jika kita tidak mau bersyukur Allah tak akan merugi, bahkan kita yang akan mendapat adzabNya.
Sumber gambar : **(censored)**;source=univ&tbm=isch&q=gambar+bersyukur+kartun&sa=X&ve
Buku rujukan : Shahih Muslim
Salam literasi
Wismah Berkah, Jombang, 15 /3/ 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan