Hakikat Orang Pintar
Kedai Kopi Literasi ke-21
Hakikat Orang Pintar
( Tagur hari ke-143)
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Dari hari ke hari, Kedai kopi Cak Ifin tampak semakin ramai, pengunjung tanbah banyak, tidak hanya orang-orang sekitar dalam desa, tapi kini juga ada yang datang dari beberapa tetangga desa. Ketepatan malam itu cuacanya cukup cerah., apalagi masih Padhang mbulan, suasananya kelihatan terang.
Sementara itu anak-anak remaja dan dewasa yang mempunyai kesadaran mengasah literasi baca dan tulisnya pada berlalu lalang lewat depan kedai Cak Ifin menuju “rumah baca” yang berada di samping kanan belakang kedai Cak Ifin. Meskipun perbendaharaan buku bacaan belum cukup banyak, namun setidaknya sudah bisa sedikit membantu yang mereka butuhkan.
“Dulur-dulur, Siapa sih orang pintar itu.” tanya Kang Brahim, . membuka obrolan malam itu. “ Lho orang pintar itu ya orang yang berprestasi, orang yang banyak ilmunya, orang yang berpendidikan, dengan gelar berderet di depan dan belakang namanya. “ jawab Kang Dul Ngadi. “ Orang pintar itu semacam paranormal atau dukun yang dianggap mampu membantu mengatasi berbagai macam kesulitan atau problematika kehidupan. “ sahut Cak Zain.
“ Kalau menurut saya. Orang yang ahli dalam suatu bidang keilmuan.” Kata Kang Karim.
Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab mereka serentak meskipun tanpa dikomando. “: Kopi, seperti biasanya,Cak, tapi agak manis sedikit,. “Wah, sepertinya tambah teman, tambah ramai, seru banget,” kata Cak Ibnu Djufry.
“ Dulur-dulur, saya tadi sudah mendengarkan apa yang sudah sampean diskusikan, ketika saya di belakang kedai saat melihat anak-anak di rumah baca. ” kata Cak Ibnu Djufry. “Apa yang sampaen sampaikan tadi semua benar. Masing-masing pendapat sampean tidak ada yang salah. Tapi, kalau menurut versi hadist Rasulullah, yang dimaksud dengan orang pintar itu adalah yang paling banyak mengingat kematian.”jelasnya.
“ Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Orang yang pintar ialah orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling cukup persiapannya untuk menghadapinya. Orang-orang itulah yang benar-benar dapat disebut orang-orang pintar. Mereka pergi (ke alam baka) dengan membawa kemuliaan dunia dan akhirat.”(H.R. Ibnu Majah).” Jadin hakikat orang pintar adalah orang yang telah sungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat. “tambahnya.
“Wah, ternyata, selama ini pandangan kita secara umum tentang yang dimaksud dengan orang pintar masih kurang tepat. “kata Kang Brahim.
”Mengapa yang dimaksud dengan orang pintar itu kok orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang sudah mempersiapkan bekalnya.” tanyannya.
”Hal ini mengingat, Jika saat kematian tiba, itu tidak peduli kepada siapa saja, kapan saja, di mana tempatnya, dan dalam kondisi bagaimana. Jadi tidak pandang apa itu terhadap orang yang sudah tua, remaja, anak-anak, bahkan pada bayi yang masih dalam kandungan. Dalam Al Qur,an surat Al Haj ayat 5 diterangkan yang artinya;“Dan sebagian kamu mati (pada umur muda) dan sebagian lagi dari pada kamu dikembalikan kepada serendah-rendahnya umur (lanjut usia), supaya ia tidak tahu lagi sesudah tahunya.”. jelasnya.
”Sedang penyebab kematian pun cukup beragam, tidak peduli dengan apa yang sedang kita lakukan. Kita dapat ditemui kematian baik ketika sedang naik kendaraan apa saja, baik mobil, kereta Api, kapal laut, pesawat terbang, dan lain sebagainya. Kematian pun dapat menjemput manusia dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan sibuk atau luang, di saat sehat atau sakit, ketika masih kaya atau miskin, secara sendirian maupun bersama-sama, sebagaimana yang akhir-akhir ini sering terjadii seperti tertimpa gempa bumi, gelombang tsunami, banjir bandang, tertimbun tanah longsor.” terangnya.
”Namun demikian, kematian itu tidak perlu ditakuti dan juga tidak perlu diharapkan-harapkan. Sebab bagaimanapun takutnya jika waktunya sudah tiba maka tidak dapat dihindari. Sebaliknya, bagaimanapun sangat mengharapkannya, tapi kalau belum waktunya ya takkan kunjung tiba. (Q.S. Al Jum’ah:8). Karena Malaikat yang bertugas tidak akan pernah lupa (Q.S. Al An’am:61). ”tambahnya.
” Dulur-dulur, kematian adalah hal yang biasa, pintu yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup termasuk manusia. Namun jika kita tidak mempunyai bekal, sungguh di akhirat nanti akan sangat menyesal. Sedang penyesalan di saat itu sudah terlambat, tidak berguna lagi. Nah, permasalahannya, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat?. Untuk jawabannya, kita lanjutkan pada pertemuan yang akan datang .
“Karena sudah jam 22.30 wib, kita rehat dulu, jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang duluan.. . Waalaikumussalam wr wb. Jawab mereka semua. Mereka juga menyusul pulang.
Salam literasi
Wisma Berkah, Jombang,31 Maret 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan