Nasihat Imam Ghazali Kepada Muridnya
Kedai Kopi Literasi ke-14
Nasihat Imam Ghazali Kepada Muridnya
( Tagur hari ke-136 )
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Kedai kopi Cak Ifin dari hari ke hari tampak semakin bertambah banyak yang datang, tidak hanya orang-orang sekitar dalam desa, tapi kini juga ada yang datang dari beberapa tetangga desa. Ketepatan malam itu cuacanya cukup cerah., apalagi ketepatan pas Padhang mbulan, jadinya suasananya kelihatan ramai.
Sementara itu anak-anak remaja dan dewasa yang mempunyai kesadaran mengasah literasi baca dan tulisnya pada berlalu lalang lewat depan kedai Cak Ifin menuju “rumah baca” yang berada di samping kanan belakang kedai Cak Ifin. Meskipun perbendaraan buku bacaan belum cukup banyak, setidaknya sudah bisa sedikit membantu yang mereka butuhkan.
Di sudut pojok kedai, Kang Brahim sedari tadi senyum-senyum sendiri WA-an, sambil sesekali makan pisang goreng dan menyeruput kopi yang ada dihadapannya. Kemudian Kang Dul Ngadi dan Kang Karim datang hampir bersamaan dengan Cak Zain, Cak Udin, dan rombongannya dari desa sebelah. Mereka sudah sering ke Kedai kopinya cak Ifin, dan selalu tambah teman baru.
“Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab mereka yang ada di Kedai Kopi serentak, seperti paduan suara. “Kopi thok ae seperti biasanya Cak,,”.pesannya.
“Siapa yang pernah mendengar nama Imam Ghazali yang mendapat julukan ‘Hujatul Islam.” tanya Cak Ibnu Djufry. Semua yang ada di kedai kopi pada berusaha mengingat-ingat. “Nama itu kalau tidak salah yang mengarang kitab “Ihya’ Ulumuddin” ya Cak.” Jawab Cak Udin, yang berasal dari desa sebelah.
“Benar, beliau yang mengarang kitab ‘Ihya’ Ulumuddin, yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, misalnya bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Perancis, bahasa Jerman, termasuk ke dalam bahasa Indonesia.”
“Wah, berarti orangnya itu ilmunya hebat luar biasa.” Sela Kang Dul Ngadi. “Beliau adalah seorang ahli filsafat,, filosuf, namun ketika dengan ilmunya tidak bisa menemukan hakekat hidup, tidak bisa mendapatkan ketenangan jiwanya. Maka di kemudian hari beliau berubah haluan mempelajari ilmu tasawuf. Sehingga menjadi seorang sufi. Dengan ilmu tasawuf beliau bisa merasa mendapatkan ketenangan jiwa. Jiwanya tenang bisa selalu berkomunikasi dengan sang pencipta alam (Tuhannya).”jelasnya.
Mereka yang hadir di kedai kopi, hanya bisa manggut-manggut, sambil sesekali menyeruput kopi, dan makan jajan gorengan.
“Kitab beliau Ihya’ Ulumuddin, sekarang menjadi referensi, literatur Perguruan-perguruan Tinggi di dunia.’ Tambahnya.
“Malam ini, saya akan sampaikan enam nasihat beliau yang pernah disampaikan kepada murid-muridnya, Yaitu ; Apa yang paling dekat, paling jauh, paling besar, paling berat, paling ringan, dan paling tajam.
“Ketika Imam al-Ghazali bertanya kepada murid-murid beliau tentang apa yang paling dekat dengan kita dalam kehidupan ini. Di antara murid – murid beliau ada yang menjawab orang tua, saudara, guru, teman,dan kerabatnya. Imam al-Ghazali kemudian menjelaskan bahwa yang paling dekat adalah “Mati”, karena mati itu Janji Allah. Setiap pasti yang bernyawa.pasti akan mati.” Allah berfirman : “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah)Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia.Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segela penentuan, dan hanya kepada Nyalah kamu dikembalikan”. (Q.S. Al Qashash :88).
Kemudian beliau meneruskan dengan pertanyaan yang kedua. “Wahai murid-muridku, apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?. Dengan antusias murid-muridnya menjawab beragam, ada yang menjawab, negara Cina, bulan, matahari, bintang-bintang. “Semua jawabannya benar, tapi yang paling benar adalah ‘masa lalu”.
Salah satu muridnya bertanya, “Kok bisa demikian?. Lalu Imam Ghazali menjelaskan, apapun dan bagaimanapun keadaan kita sekarang tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Oleh karena itu hendaklah berhati-hati dalam berperilaku dan bersikap. Terkait dengan memperhatikan waktu, Allah mengingatkan agar manusia tidak merugi karena tidak memanfaatkan waktu yang sebaik-baiknya (beribadah). Allah berfirman: “Demi masa , sesungguhnya manusia itubenar-benar dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati, supaya mentaati kebenarandan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Q.SW. Al.”Ashr :1-3).
Karena sudah Jam 22.30 Wib, kita rehat dulu, besok dilanjutkan. “Terima kasih Cak,.” Kata Kang Brahim. Semua yang hadir juga menyampaikan hal yang sama. “Jangan lupa tahajud dan jamaah shalat shubuh,” pesannya. Kemudian Cak Ibnu Djufry pamit pulang terlebih dulu.
Salam literasi
Wismah Berkah, Jombang,24 Maret 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan