10 Hari Kedua Bulan Ramadan
Kedai Kopi Literasi ke-27
10 Hari Kedua Bulan Ramadan
( Tagur hari ke-166)
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Malam ini, Ramadan sudah masuk hari yang ke 11 . Cuacanya cukup cerah dan terang, langit bersih tak ada awan. Rembulan sudah kelihatan sinarnya meskipun sinarnya tak seterang saat bulan purnama. Sedang jama’ah shalat isyak dan tarawih di mushala Al Barokah, alhamdulillah masih tetap banyak, semoga tetap semangat hingga akhir Ramadan.
Seperti biasanya, habis jama’ah shalat tarawih, empat serangkai yaitu ; Kang Dul Ngadi, Kang Karim, dan Kang Brahim, serta Kang Paijan sudah terlebih dulu datang di Kedai kopi Cak Ifin. Di samping untuk menikmati jajan gorengan dan ngopi, yang jelas mereka juga ingin dapat tambah ilmu dan wawasan.
Sehabis Cak Ifin membuatkan kopi rombongan empat serangkai. Kemudia datang rombongan Cak Zain, Cak Udin, dan Cak Lan, serta Cak Nur dari desa sebelah. Yang mana mereka sudah masuk menjadi anggota jamaah diskusi .
Setelah itu beberapa menit kemudian hadir juga rombongan Kang Majid, Kang Rohib, dan Kang Paidi datang bersamaan. .
Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab merek serentak tanpa dikomando. “ Cak Ifin, kopinya agak manis sedikit ya, sama mie kua rasa bakso, karena tadi buka hanya minum kolak saja.” pesan Cak Ibnu Djufry .
“ Dulur-dulur besok kita masuk pada sepuluh hari kedua bulan Ramadan.”ungkap Kang Brahim membuka obrolan diskusi malam itu.
“Benar Kang, kemarin bakda shalat tarawih, sebelum shalat witir K.H.Saichun Afandy dalam tausiahnya di mushalla Al Barokah menyampaikan, bahwa sepuluh hari pertama adalah rahmat, sepuluh hari kedua adalah maghfirah (ampunan), dan sepuluh hari terakhir “itqun minan nar (pembebasan dari api neraka)” ujar Kang Dul Ngadi, di antara jamaah majlis taklim yang paling tua.
“Kalau begitu, kesempatan ini jangan kita sia-siakan. Pokoknya bagaimana caranya kita harus memohon ampun kepada Allah. Karena sebaik apapun sesesorang itu tentu punya salah, khilaf, dan dosa. Baik dosa karena perbuatan yang disengaja maupun tidak.” ungkap Kang Karim.
”Sadar atau tidak, kita hampir setiap saat sulit terhindar dari melakukan perbuatan dosa, baik yang dilakukan oleh mulut, mata, telinga, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya. Apalagi bisikan nafsu yang jelek , dan itu dalam kurun waktu yang lama selama sebelas bulan.”ujar Cak Zain, sambil sesekali menghisap panjang-panjang rokok Gudang Garam Surya kesukaannya.
”Lha whong, Rasulullah SAW yang ma’sum, yakni terjaga dari melakukan perbuatan dosa meskipun hanya dosa kecil, itu saja setiap hari banyak membaca istighfar, setiap malam shalat tahajud hingga kakinya bengkak. Terus berusaha untuk memohon ampunan pada Allah. Lantas bagaimana dengan kita yang sudah jelas banyak dosa?. tambahnya.
“Masalah pembagian dalam bulan Ramadan menjadi tiga, yakni sepuluh hari pertama itu rahmat, sepuluh hari kedua maghfirah, dan sepuluh hari ketiga itu itqun minan nar, itu ada hadistnya. Namun menurut penelusuran para ahli hadist, riwayat hadist tersebut tergolong dalam hadist dhaif (lemah).Sedang menurut mayoritas ulama, hadist dhaif itu boleh digunakan hanya yang terkait dengan ‘fadhailul a’mal (keutamaan amal ibadah), jadi untuk memotivasi dalam beramal ibadah.” ungkap Cak Ibnu Djufry.
“Jadi kalau kita merasa berbuat salah atau dosa, kalau bisa ya segera bertobat memohon ampun kepada Allah SWT kapanpun,tidak hanya waktu bulan Ramadan. Kapan dan di mana saja asalkan dengan sungguh sungguh. Insya Allah akan diampuni.”tegasnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya ; “Keputusan Tuhan kita setiap malam turun ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiga yang akhir. Dia berfirman ; Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku akan aku ijabahi, barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan barangsiapa meminta ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.
“Jadi, Allah dengan sifat Rahman- RahimNya. Allah akan mengampuni siapapun yang memohon ampun asalkan dengan sungguh sungguh Sebab Allah tidak akan mengazab orang-orang yang benar-benar shalat dan sujud untuk bertaubat.”: jelasnya..
”Allah pun akan menjawab ketika mereka menyeruNya, menyambut ketika mereka memanggil-Nya, dan mengaabulkan ketika mereka berdoa kepada-Nya. Jadi kalau merasa berbuat dosa, segeralah bertobat, lagi pula tidak ada orang yang tahu kapan umurnya berakhir.”tambahnya.
.”Hanya saja kalau pas bulan Ramadan itu merupakan bulan yang istimewa dan mulia, dimana amal ibadah dan amal kebaikan pahalanya dilipatgandakan, Di sinilah Allah memberikan kesempatan kepada siapapun yang pernah berbuat dosa, kemudian lupa atau belum sadar atas dosa-dosa yang diperbuatnya, dan itu dalam kurun waktu yang lama, yakni selama sebelas bulan.”, jelasnya, yang kemudian Cak Ibnu Djufry menyeruput kopinya.” tambahnya.
“Padahal untuk bisa mendapatkan idul fitri (kembali pada fitrah kesucian) tanpa noda dan dosa, bagaikan bayi yang baru lahir, maka seseorang harus bebas alias tidak punya salah atau dosa baik yang terkait dengan haqqullah maupun dengan haqqul adam.
Lantas bagaimana cara bertobat, dengan taubatan nasuha, serta bagaimana bisa terbebas dari dosa haqqul adam, dilanjutkan pada pertemuan yang akan datang.
“Karena sudah jam 22.35 wib, waktunya rehat dulu. Mari dihabiskan dulu kopinya. Jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang. Waalaikumussalam wr wb. Jawab mereka. Mereka semua pun menyusul pulang.
Salam literasi
Wisma Berkah, Jombang, 23 /4/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan