Fenomena Emansipasi Wanita di Era Globalisasi
Renungan : Dalam Rangka Memperingati Hari Kartini.
Fenomena Emansipasi Wanita di Era Globalisasi
( Tagur hari ke- 164 )
Oleh. Khusrur Rony Djufri
Berkat perjuangan kesetaraan gender, kaum wanita kini tidak lagi hanya sebagai ‘konco wingking’, yang berfungsi domestik, melainkan sudah berkiprah masuk hampir dalam semua aspek kehidupan kemasyarakatan sebagai mitra sejajar kaum pria. Banyak wanita yang sudah berhasil menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan, baik dalam lembaga ekskutif, legeslatif, maupun yudikatif. Begitu juga dalam dunia wiraswasta banyak yang jadi direktur, maneger, konsultan, dsb.
Dengan keberhasilan tersebut, tentu kita patut ikut berbangga, tapi bila kita mau memperhatikan yang lebih jauh, kita akan tau bahwa kecenderungan sebagian kaum wanita kini semakin tampak melangkah ke arah feminisme yang menapak tilas wanita barat yang cenderung materialis, pragmatis dan sekuler. Apa yang dihasilkan tak lebih hanyalah karir, popularitas, kebanggaan, dan materi. Dalam realitasnya tidak sedikit wanita yang cenderung lupa diri karena sebagian besar waktu, tenaga, dan pikiran, tercurahkan demi profesi, karier, dan bisnis. Sehingga banyak yang lupa dengan tugasnya yang paling pokok, yakni sebagai ibu rumah tangga, istri, dan pendidik putra-putrinya.
Nah, bagaimana dalam kehidupan rumah tangga dapat harmonis, jika sang ayah sering terlambat atau jarang pulang rumah karena sibuk dengan pekerjaannya atau bisnisnya, kadang sang ibu juga sibuk dengan profesi, karier dan acara-acara lainnya. Sementara anak di rumah terkadang hanya ditemani pembantunya. Meskipun secara finansial kebutuhan anak terpenuhi, namun bukanlah itu sebenarnya yang diinginkan anak. Tapi bimbingan, perhatian, dan curahan kasih sayang kedua orang tuanya yang dirindukannya
Jika kondisinya sudah demikian, makin lama akan terjadi kesenjangan di antara anggota keluarga, dan kompensasinya masing-masing akan mencari kepuasan, hiburan, dan kesenangan alanya sendiri-sendiri. Dampaknya rumah tangga bisa jadi tidak harmonis, bahkan lebih jauh keretakan rumah tanggalah yang mungkin bakal terjadi.
Barangkali faktor inilah yang seringkali jadi penyebab timbulnya kenakalan anak dan remaja. Padahal semua orang tentu menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang shalih-shalihah, karena merupakan asset dan investasi akhirat bagi kedua orang tuanya.
Hancurnya kehidupan rumah tangga (keluarga) inilah sebenarnya yang diinginkan oleh orang-orang yang ingin merusak umat Islam dan negara kita. Sebab keluarga adalah unit terkecil yang menjadi soko guru suatu bangsa, jika kehidupan dalam keluarga sudah pada berantakan maka tinggal nunggu saat kehancuran bangsa dan negaranya. . Disamping itu, banyak kaum wanita karena demi profesi, karier, popularitas, dan materi, relah mengeksploitasi dirinya, yang meskipun bertengan secara etika maupun agama.
Hal tersebut jadi semakin pas karena didukung sebagian perancang busana yang pinter memilihkan model yang sesuai dengan selera kaum pria, misalnya dengan kain transparan (tembus pandang) atau ‘belekan’ tepat di atas dada, dengan rok mini yang cukup ketat sehingga nampaklah lekuk-lekuk potongan tubuhnya.
Dandanan tersebut, jelas akan menggoda iman lawan jenis yang melihatnya, apalagi yang masih muda. Dan, satu lagi aktivitas sebagian wanita yang benar-benar bertolak belakang dengan kodrat kewanitaannya misalnya, sepak bola wanita, angkat besi, binaragawati, dsb
Memang demikianlah musuh-musuh umat Islam yang kalah dalam pertempuran fisik dan senjata, mereka menyerang dengan ’ghazwu tsaqafi (perang budaya) dan ’ghazwul fikri’ (perang pemikiran). Yang bertujuan mengubah pola budaya gaya hidup serta cara berpikir orang sesuai dengan yang diinginkan lawannya, dan, sasaran utamanya adalah kaum wanita.
Mereka cukup jeli dan mengerti kalau wanita cenderung tak kuat jika mendapat godaan atau cobaan. Apalagi wanita jadi parameter bagi eksis tidaknya suatu bangsa dan negara. Maka dengan dalih emansipasi dan kesetaraan gender, mereka menyemaikan ajaran-ajaran yang diantaranya, wanita harus menuntut persamaan hak secara totalitas dengan kaum pria dan kaum wanita digiring agar lebih banyak bekerja di luar rumah, dsb.
Nah, kalau suda waktunya lebih banyak di luar rumah, dampak negatipnya lebih besar, cenderung berdandan, terjadilah pergaulan bebas, ada yang hamil di luar nikah, oleh karena malu tak sedikit yang digugurkan, dan yang terlanjur lahir, banyak yang dibuang di tempat sampah atau lainnya. Ini sungguh memprihatinkan.
Selain itu, peluang dan kesempatan kerja kaum pria semakin sempit, sehingga jumlah pengangguran terus membengkak, dan ini akan menambah masalah. Karena itu, strategi yang lembut dan tersistematis tersebut harus kita waspadai, lantaran akibatnya tak nampak seketika, namun bahayanya sangat besar. Ironisnya, tanpa disadari banyak yang telah mengikutinya.
Langkah-langkah tersebut muncul, menurut DR. M.AL Bahi dikarenakan dua hal. Pertama. Aplikasi personalitas sosial yang diejawantakan ke dalam peragaan wajah, busana, percampuran pendidikan antara wanita dan pria ; pergaulan bebas, wanita bekerja di luar rumah, dsb. Kedua. Adanya tuntutan persamaan tugas dengan kaum pria, imbalan jasa, politik, kekuasaan keluarga, dan status pribadi.
Dari ilustrasi tersebut, kini jadi jelas bahwa ‘emansipasi wanita’ sebagian besar wanita sudah ‘kebablasan’.. Sehingga dampaknya tanpa disadari akan menanamkan konsep etika yang mengarah pada ’demoralisasi’ dan ’dehumanisasi’, yang justru mencampakkan harkat martabat kaum wanita itu sendiri. Akhirnya, dalam memperingati hari Kartini kali ini, hendaknya kaum wanita semakin menyadari akan fitrah dan kodrat kewanitaannya, semoga.
Salam Literasi
SumberGambar**(censored)**;source=univ&tbm=isch&q=Gambar+RA+Kartini&sa=X&ved
Wismah Berkah, 21/4/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan