Khusrur Rony

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Hakikat Orang Pintar

Kedai Kopi Literasi ke-22

Hakikat Orang Pintar

( Tagur hari ke-144)

Oleh. Khusrur Rony Djufry

Sejak jam 16.30 wib sudah turun hujan sampai bakda magrib. Meskipun hujannya cukup lama, tapi tidak begitu deras, awan di langit hitam tebal. Hawannya tidak begitu dingin. selepas jamaah shalat isyak, tinggal hujan rintik-rintik. Meskipun demikian kedai kopi cak Ifin tetap saja ramai dengan para pelanggan, terutama jamaah diskusi. termasuk pelanggan yang datang dari desa sebelah.

Sementara itu, anak-anak remaja dan dewasa yang mempunyai kesadaran mengasah literasi baca dan tulisnya juga pada saling berdatangan lewat depan kedai Cak Ifin menuju “rumah baca” yang berada di samping kanan belakang kedai Cak Ifin.

Namun yang datang tidak sebanyak biasanya.

“Dulur-dulur, kemarin sudah dijelaskan bahwa hakikat orang pintar adalah orang yang telah sungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat.” ungkap Kang Brahim, . membuka obrolan malam itu. “Ternyata, selama ini pandangan kita secara umum tentang yang dimaksud dengan orang pintar masih kurang tepat. “kata Kang Brahim.

“Lantas bekal apa yang harus dipersiapkan untuk kehidupan akhirat?”, tanya Kang Dul Ngadi. “ Iya, Kang saya juga gak tahu apa saja yang semestinya harus dipersiapkan.” Kata Kang Karim. “ Lho, ya tentang amal ibadah kita to Kang. Tapi tentang persisnya saya juga tidak tahu Kang.” Kata Cak Zain.

Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab mereka serentak meskipun tanpa dikomando. “: Kopi, seperti biasanya,Cak, tapi agak manis sedikit,.Terus sama lontongnya Cak.” pesen Cak Ibnu Djufry. “Lontong tahu petis apa lontong jangan Cak. “tanya Cak Ifin. “Oh, lontong jangan wae Cak”.

Sehabis makan lontong jangan dan menyeruput kopi. ”Dulur-dulur kita harus sadar bahwa kesempatan hidup di dunia ini hanya sekali, dunia adalah ladang untuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat. ” ungkap Cak Ibnu Djufry.

.”Pada hakikatnya yang kita cari di dunia ini bukanlah harta, kedudukan, pangkat atau jabatan. Sebab dunia ini fana, kesenangan dunia hanyalah semu. ‘Addunya la’ibun walahwun’, ‘addunya mataa’ul ghurur’. Dunia adalah permainan, dunia penuh tipuan. Kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat.”, jelasnya.

” Nah, Coba kita perhatikan, orang yang meniti karir dalam bidang apa saja, kalau sudah sampai puncaknya akhirnya mau apa dan kemana lagi.. Sedang umur manusia kan sudah jelas terbatas.” tegasnya, kemudian menyeruput kopi lagi.

”Ketika di akhirat nanti, semua aktivitas manusia ketika di dunia akan ditanyakan, harta atau kekayaannya diperoleh dari mana?, dipergunakan untuk apa? Umurnya dihabiskan untuk kegiatan apa saja?, dan seterusnya.” jelasnya.

”Kemudian sekarang sudah berapa banyak teman, tetangga kanan kiri , dan sanak famili kita. Bahkan para tokoh agama dan masyarakat yang sudah meninggal dunia, cepat atau lambat jika saatnya telah tiba, kita pasti akan menyusulnya.”tambahnya.

Mendengar ulasan Cak Ibnu Djufry, suasana lantas jadi hening. Beberapa saat kemudian . ”Jujur Cak, saya jadi merasa takut setelah mendengarnya. Karena selama ini saya disibukkan dengan berbagai aktivitas. Pokoknya yang penting saya shalat dan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga ya sudah. Tidak sampai berpikir tentang apa yang bakal terjadi nanti.” ungkap Cak Zain, yang membuat suasana jadi cair kembali.

” Saya kadang juga merenung, banyak teman dan tetangga kanan kiri, sanak famili yang sudah meninggal. Saat reuni keluarga jumlahnya terus semakin berkurang. Sedang saya merasa belum mempunyai bekal kehidupan akhirat yang cukup.”ungkap Cak Udin.

”Saya sebenarnya juga merasa demikian, sebagaimana yang dirasakan baik oleh Cak Zain maupun Cak Udin. ” kata Kang Brahim. ”Jadi waktu kita sekarang harus lebih banyak porsinya untuk menambah bekal untuk kehidupan akhirat.” tegasnya.

”Benar, dulur-dulur. Jangan sampai aktivitas kita lebih banyak atau bahkan habis hanya untuk kepentingan urusan dunia saja.” kata Cak Ibnu Djufry.

”Kita memang harus selalu mengingat kematian, mempersiapkan bekal kehidupan akhirat, tapi tidak boleh malas bekerja dan lupa dengan urusan kemajuan dunia. Jadi, kata kuncinya, ’amalan akhirat bersemangat, amalan dunia pun tetap giat’. ”tegasnya.

Kemudian Cak Ibnu Djufry membacakan Al Qur’an dan hadist yang artinya; “Dan carilah kampung akhirat dengan apa-apa yang sudah dikaruniakan Allah kepadamu, tetapi jangan kamu melupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”(Q.S. AL Qoshos:77).”

. Rasulullah SAW pun juga mengingatkan dengan sabdanya yang artinya:

“Beramalah untuk duniamu, seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan beramalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi. “(H.R. Ibnu Asakir)”.

”Nah, permasalahannya, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat?. Untuk jawabannya, kita lanjutkan pada pertemuan yang akan datang .”

“Karena sudah jam 22.45 wib, kita rehat dulu, monggo dihabiskan dulu kopinya, jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang duluan.. . Waalaikumussalam wr wb. Jawab mereka semua. Mereka punr menyusul pulang.

Salam literasi

Wisma Berkah, Jombang, 1 April 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post