Khusrur Rony

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Menyambut bulan Ramadan

Kedai Kopi Literasi ke-24

Menyambut bulan Ramadan

( Tagur hari ke-148)

Oleh. Khusrur Rony Djufry

Sejak siang hari cuacanya hari itu cukup cerah hingga malam hari. Para petani sangat senang, karena hari itu banyak yang waktunya memanen padinya. Bahkan sebagian sudah ada yang menjemur. Sehingga jemuran padinya bisa kering, dan tidak mengulang menjemur kembali.

Kedai kopi Cak Ifin malam itu juga tampak semakin ramai, pengunjungnya tambah banyak, tidak hanya orang-orang sekitar dalam desa, tapi kini sudah banyak yang datang dari beberapa tetangga desa. Apalagi ketepatan malam itu cuacanya cukup cerah.,

Sementara itu anak-anak remaja dan dewasa yang mempunyai kesadaran mengasah literasi baca dan tulisnya pada berlalu lalang lewat depan kedai Cak Ifin menuju “rumah baca” yang berada di samping kanan belakang kedai Cak Ifin.

Sedang sehabis shalat isyak, Kang Dul Ngadi, Kang Karim, dan Kang Brahim, serta Kang Paijan sudah terlebih dulu datang di Kedai kopi Calk Ifin.

“Meskipun bulan Ramadan masih kurang satu minggu, namun suasananya sudah mulai terasa. Di Pesarean tadi, sudah mulai ada beberapa orang yang bersih-bersih. Ada yang membersihkan rumput, ada yang menyapu, mengganti patok kayu yang sudah lapuk, dan membakar sampah daun kering.”ujar Kang Brahim membuka obrolan diskusi malam itu.

“Benar sampean Kang, saya tadi juga ke makam. “ kata Kang Dul Ngadi. “ Bahkan ada juga, rombongan keluarga yang sudah datang dari luar kota, untuk berziarah berkirim do’a kepada para leluhurnya, yakni bapak ibu, kakek nenek, dan sanak familinya yang dimakamkan di pemakaman itu.” tambahnya.

“ Iya tadi terlihat ada beberapa mobil yang parkir di pinngir jalan makam. Untungnya cuacah sore itu cukup cerah, sehinngga jalan ke pelataran makam tidak becek.” tegasnya.

Kemudian, Kang Majid dan Kang Paidi datang hampir bersamaan dengan rombongan Cak Zain, Cak Udin, Cak Lan, dan Cak Nur dari desa sebelah. Mereka sudah menjadi anggota jamaah diskusi .

Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab mereka serentak meskipun tanpa dikomando. “: Kopi, seperti biasanya, tapi agak manis sedikit,. Cak.” pesen Cak Ibnu Djufry.

Setelah makan jajan gorengan dan meminum kopi .“Dulur-dulur di kalangan masyarakat kita ada kebiasaan atau adat budaya yang dilakukan saat menyambut datangnya bulan Ramadan, yang namannya “megengan”, apa ada yang mengerti maksudnya “ kata Ibnu Djufry.

“Oh, itu Cak, menziarahi kubur para leluhur dan sanak familinya sebelum datangnya bulan Ramadan, biasanya yang ramai itu pada hari min ketiga, hingga min kesatu sebelum Ramadan.” Jawab Kang Dul Ngadi, orang yang paling tua di antara jamaah yang usianya sudah 70 tahunan lebih.

“ Megengan itu biasanya mengadakan selamatan, dengan membuat nasi kemudian di bawa ke mushalla atau masjid, kemudian membaca doa bersama yang bertujuan memohonkan ampun para leluluhur dan sanak familinya yang sudah meninggal agar mendapat ampunan dari Allah SWT, dan mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.” Jawab Kang Brahim.

“ Tapi ada yang seperti yang disampaikan Kang Brahim, hanya saja selamatan membuat nasinya tidak dibawa ke mushallah atau masjid, tapi dengan cara tiap kepala keluarga mengundang para tetangga sekitar untuk doa bersama, Ini dilakukan secara bergantian dari rumah ke rumah antar tetangga .” kata Kang Karim.

“ Jawaban sampean semuanya benar. Mungkin di lain daerah juga berbeda modelnya, tapi intinya sama, yaitu memohonkan ampun pada para leluhur dan sanak familinya, sebagi wujud bakti seorang anak pada leluhurnya.” kata Cak Ibnu Djufry.

Megengan secara lughawi berarti menahan. dalam tradisi megengan juga diwarnai dengan ragam kegiatan seperti gugur gunung (kerja bakti), ziarah kubur, bersedekah dan lain-lain.” ungkapnya.

“Sebelum kedatangan Agama Islam di Pulau Jawa melalui Walisongo, di zaman Majapahit sudah ada tradisi serupa yang disebut dengan “ruwahan“. Terkait dengan bulan ruwah (jawa) atau sya’ban (bulan hijriyah). Istilah Ruwah dimaknai sebagai arwah yang berarti roh-roh, dalam hal ini adalah roh para leluhur.” Jelasnya.

“Nah, Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, strategi dakwah yang dipakai Wali songo adalah pendekatan budaya lokal. Konon Sunan Kalijogo adalah salah satu wali yang paling berperan dalam dakwah tersebut. Diduga beliau juga yang pertama kali memprakarsai tradisi Megengan, yang dimodifikasi dari tradisi ‘ruwahan’. Beliau berdakwah pada masyarakat Jawa ( Jawa Timur dan Jawa tengah bagian selatan).”

“Dalam tradisi ‘ruwahan’ biasanya ada sesaji yang dikhususkan untuk arwah dan tidak boleh dimakan, maka pada tradisi megengan sesajen tersebut diganti dengan sedekah makanan yang dibagikan dan dimakan bersama.”tambahnya.

“ Terus waktu selamatan ‘megengan’ biasanya ada kue apemnya, kok tidak kue lainnya, apa ada maknanya Cak?, tanya Kang Brahim.

“Memang kue apem menjadi simbol dari tradisi tersebut. Istilah “apem” ada yang mengatakan berasal dari kata afwan (bahasa arab), jika di depannya ada huruf alif dan lam, dibaca al-afwu, yang artinya minta maaf. “ jawab Cak Ibnu Djufry

“Maka dari situlah tradisi ‘megengan’ dijadikan media silaturrahmi dengan membagikan kue apem sebagai simbol permintaan maaf kepada tetangga dan sanak famili sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Mengingat banyak hikmah dan manfaatnya, maka budaya tersebut hendaknya kita lestarikan.” Jelasnya.

“Karena sudah malam waktunya rehat dulu. Jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang. Waalaikumussalam wr wb. Jawab mereka. Mereka semua pun menyusul pulang.

Salam literas

Wisma Berkah, Jombang, 5 /4 / 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post