Ramadan, Bulan Penuh Berkah
Kedai Kopi Literasi ke-25
Ramadan, Bulan Penuh Berkah
( Tagur hari ke-161)
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Kedai kopi Cak Ifin yang biasanya mulai buka bakda maghrib, khusus di bulan Ramadan ini dibuka sehabis shalat tarawih,Sedang tutupnya jam 22.30 wib.
Sejak awal Ramadan cuacanya cukup cerah hingga malam hari. Ini menjadi berkah bagi para petani. Mereka sangat senang, karena masih banyak yang waktunya memanen padi. Bahkan sebagian besar masih menjemur. Sehingga jemuran padinya bisa kering.
Demikian juga dengan kedai Cak Ifin, yang tampak semakin ramai, pengunjungnya tambah banyak, tidak hanya orang-orang sekitar dalam desa, tapi kini sudah banyak yang datang dari beberapa tetangga desa.
Sehabis jama’ah shalat tarawih , Kang Dul Ngadi, Kang Karim, dan Kang Brahim, serta Kang Paijan sudah terlebih dulu datang di Kedai kopi Cak Ifin. Seperti biasa mereka pada ingin ngopi. Karena habis tutup sejak H-1 Ramadan, kemudian baru buka pada hari ke empat bulan Ramadan. Kangen dengan kopinya Cak Ifin yang aromanya sedap dan maknyus rasanya , yang membikin orang ketagihan setelah meminumnya. Betapa tidak, ketika menyeduhnya Cak Ifin selalu berkomat-kamit bibirnya seperti membaca mantra, eh tak tahunya yang dibaca adalah bacaan shalawat.
“Alhamdulillah, saudara-saudara kita, meskipun banyak yang merasa capek dan lelah karena bekerja siang harinya ada yang memanen dan menjemur padi, namun tidak mengurangi semangat mereka dalam menjalankan ibadah shalat tarawih berjamaah di mushalla.” .”ungkap Kang Brahim membuka obrolan diskusi malam itu.
“Benar Kang, Hal ini terlihat ketika shalat tarawih di mushalla itu cukup ramai hampir penuh.” ujar Kang Dul Ngadi.
Padahal mushalla yang dekat dengan Kedai kopi Cak Ifin yang berjarak sekitar 75 meter itu besarnya hampir setara masjid desa, yang pembangunan masih belum selesai dan sudah menghabiskan dana lebih dari 350 juta. Pada musim panen ini dapat dana tambahan dari iuran warga sekitar mushalla sebesar 7.5 juta.
Sementara “Rumah Baca” yang ada disamping belakang kedai Cak Ifin, selama bulan Ramadan ini, hanya dibuka dua hari dalam seminggu, yaitu hari Ahad dan Rabu. Sedang anak-anak remaja dan dewasa yan biasanya mengasah literasi baca dan tulisnya di rumah baca, diarahkan lebih fokus pada tadarus di mushalla
Beberapa menit kemudian, Kang Majid, Kang Rohib, dan Kang Paidi datang hampir bersamaan dengan rombongan Cak Zain, Cak Udin, Cak Lan, dan Cak Nur dari desa sebelah. Yang mana ereka sudah menjadi anggota jamaah diskusi .
Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab mereka serentak meskipun tanpa dikomando. “: Kopi, seperti biasanya, tapi agak manis sedikit,. Cak.” pesen Cak Ibnu Djufry.
“Hampi seminggu kita tidak ngopi di sini”, kata Cak Ibnu Djufry, yang kemudian menyeruput kopi. “ Dulur-dulur, bulan Ramadan itu bulan yang istimewa, karena Allah Swt telah menawarkan berbagai keistimewaan yang berupah; berkah, rahmat, magh firah dan pembebasan dari api neraka.” ungkap Cak Ibnu Djufry.
”Berkah artinya pertambahan nilai dari nilai yang sebenarnya. Di bulan Ramdhan Allah melipatgandakan pahala ibadah dan amal kebajikan. Hari-harinya, malam-malamnya, dan jam demi jamnya adalah yang paling mulia. Betapa tidak, orang yang tidur itu biasanya untuk istirahat, menghilangkan rasa lelah atau capek ternyata dihitung ibadah, nafas-nafasnya orang yang berpuasa dinilai seperti membaca tasbih, amal kebaikannya diterima, dan doanya dimakbulkan.” tambahnya.
”Wah, kalau begitu, enaknya kalau puasa kita tidur saja, karena sudah terhitung ibadah, ya Cak Kaji” sela Kang Karim. Cak Kaji itu juga merupakan panggilan Cak Ibnu Djufry. ”Lha terus tidak kerja ta Kang Karim?. tanya Kang Paijan.
”Tidur dinilai ibadah itu maksudnya bagi orang yang berpuasa ketika waktu longgar, tidak bekerja dari pada tidak bisa menjaga diri dari hal-hal yang mengurangi pahala puasa atau bahkan dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, maka lebih baik tidur. Misalnya ngerumpi membicarakan aib orang lain, ghibah, melakukan perbuatan maksiat, dsb.” jelasnya. Kemudian menyeruput kopi.
Lebih lanjut Cak Ibnu Djufry menjelaskan, ” Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barang siapa menyambung tali persaudaraan di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmatNya di kemudian hari kelak. Siapa memberi buka pada orang yang berpuasa senilai dengan membebaskan seorang budak.”
”Sedang siapa yang membaca satu ayat Al Qur’an pahalanya seperti menghatamkan Al Qur’an di bulan lainnya, banyak membaca shalawat akan memberatkan timbangan pada hari ketika timbangan meringan, mengerjakan shalat fardhu, pahalanya seperti mengerjakan 70 shalat fardhu pada bulan yang lain.”jelasnya.
”Dan, siapa yang beribadah semalam jika bertepatan dengan ’Lailatul Qodar’ pahalanya senilai dengan beribadah 1000 bulan, atau 83 tahun 4 bulan. Dan masih banyak lagi berkah dan keistimewaan bulan ramadhan.”tambahnya.
“Karena sudah malam waktunya rehat dulu. Mari dihabiskan dulu kopinya. Jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang. Waalaikumussalam wr wb. Jawab mereka. Mereka semua pun menyusul pulang.
Salam literasi
Wisma Berkah, Jombang, 18 /4/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan