Khusrur Rony

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Berkat Gurusiana, Bisa Disiplin Menulis

Berkat Gurusiana, Bisa Disiplin Menulis

#LombaMei2021_Satu Buku Sejuta Cerita

( Tagur hari ke-183

Oleh. Khusrur Rony Djufry *)

Dunia tulis menulis sudah saya lakukan sejak ketika menjadi mahasiswa. Hanya saja motivasnyai menulis waktu itu secara umum dipandang kurang elok. Betapa tidak, karena motivasinya cenderung bersifat finansial. Yakni untuk mendapatkan honor.

Munculnya motivasi tersebut bukanlah tanpa sebab. Karena sehabis lulus dari sekolah menengah Atas, orangtua meminta agar saya tidak melanjutkan kuliah, alasannya saudara banyak, sekolah semua, biaya yang dibutuhkan banyak. Sedangkan orangtua sudah tidak bekerja karena sudah lanjut usia.

Saya sangat sedih mendengarnya. Lantas saya berusaha menggalang dukungan moral dengan mendatangi saudara saudara orangtua, agar mau membujuknya, yang intinya supaya mengizinkan saya untuk melanjutkan belajar. Setelah orangtua mendapat masukan dari saudara saudaranya akhirnya beliau pun mengizinkannya..

Karena itulah konsekwensinya saya harus mencari jalan bagaimana caranya bisa mendapatkan uang tapi yang tidak mengganggu kuliah. Akhirnya saya coba menulis. Meskipun dengan modal ketik pinjaman. Alhamdulillah tulisan pertama dimuat di kolom opini harian “Surya” tahun 1989 dengan honor Rp. 45,000,-, juga menulis di Jawa Pos, di rubrik “Tanggapan Mahasiswa” setiap harinya dipilih 5 tanggapan yang baik.

Sekali lagi saya bersyukur karena sering dapat honor dari nulis tanggapan mahasiswa tersebut dengan honor Rp. 25.000,-. Selain itu juga menulis di majalah amanah dan Kampus. Padahal sebelum kuliah tidak pernah menulis artikel. Barangkali ini namanya “The Power Of Kepekso”. Menulis kepekso untuk mendapatkan honor.

Saya menyadari tulisan saya bisa dimuat di koran dan majalah bukanlah semata-mata karena tulisan saya baik, tapi semua itu karena kemurahan Allah SWT, agar saya bisa terus kuliah.

Dunia tulis menulis ini berlangsung terus, hingga suatu masa yang menyebabkan semangat menulis menurun, yakni ketika menjadi PNS. Karena sudah dapat gaji tetap, jadinya tidak lagi mencari kebutuhan hidup dari honor menulis, Sehingga menulis hanya pada saat moment-moment tertentu saja.

Pada suatu acara Diklat di MTsN Jombang, saya berkenalan dengan seorang guru MAN 10, Mas Nanang Setiawan, ia bercerita banyak bahwa ia telah menerbitkan dua buku solonya. Ia merupakan alumni Sagusabu, Saat itu istilah sagusabu masih asing. Karena saya tertarik, maka saya pesan kalau ada acara Sagusabu tolong saya diberitahu. Setelah selang dua bulanan saya dapat informasi dari mas Nanang, kalau ada Diklat Sagusabu di MtsN 7 Kediri.

Setelah tilpun dan WA ke beberapa teman, akhirnya saya mendapat teman Pak Azis Sunhadi, seorang kepala madrasah, kemudian mendaftar dan mengikuti Diklat Sagusabu di MTsN 7 Kediri. Namun saya gagal karena tak bisa menulis satu buku. Di sini saya menyadari bahwa efek motivasi menulis awal masih berpengaruh. Tidak disiplin menulis, nyantai, ‘nulis sak koberi’.

Setelah beberapa bulan teman yang ikut Diklat Sagusabu bercerita kalau istrinya masuk daftar di gurusiana dan juga menulis di blognya. Saat itu saya juga masih asing dengan istilah apa gurusiana itu, Namun setelah teman saya bercerita banyak tentang gurusiana hubungnnya dengan Sagusabu dan Mediaguru. baru saya paham dan hanya bisa manggut-manggut. Wah ini keren. Kataku dalam hati,

Setelah itu saya mencoba buka-buka link gurusiana, kemudian mendaftar dan langsung menulis di blog gurusiana. seminggu kemudian mendaftar menjadi anggota Mediaguru pada tanggal 8 November 2020.

Sejak bergabung dengan gurusiana dan Mediaguru telah terjadi banyak perubahan dalam menulis. Pertama. Motivasi menulis tidak hanya pada honor semata, tetapi untuk berbagi ilmu, semoga menjadi amal jariyah. Kedua. Semakin disiplin dalam menulis, meskipun pada awalnya terpaksa karena dituntut menulis setiap hari akhirnya menjadi biasa. Ketiga termotivasi untuk menerbitkan buku, yang juga menjadi ladang jariyah.

Sebagai pendatang baru, Alhamdulillah telah berhasil memenangkan lomba menulis yang diadakan setiap bulan oleh Media Guru. Diantaranya Literasi Masyarakat, dan Colourful Ramadan. Selain itu saya juga berkolaborasi membuat buku antologi yaitu buku Pekik Meredeka, Jalan Terang Santri, Berlian Hikmah Pandemi, Kopi Renjana, dan Cinta Ramadan.

*) Khusrur Rony Djufry, lahir di Jombang 16 November , Alumni PP. Babrul Ulum Tambak Beras Jombang. Alumni IAIN Sunan Ampel Malang dan PPs UNDAR Jombang, Pengasuh di Yayasan Babul Ulum Gumulan Kesamben Jombang. Menulis artikel di berbagai media massa lokal maupun nasional, koran, dan majalah, termasuk majalah MPA Kemenag Jatim. Tinggal di desa Gumulan, Kesamben,Jombang. Bersama istrinya. Hj. Umi Maslicha, dan 2 putrinya, yaitu Nicha Minanda Zulva Salsabila dan Nicha Qotrunnada Halwa Zahirah. Nomor WA. **(censored)**, email, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post