Makna Lebaran Ketupat
Kedai Kopi Literasi ke-34
Makna Lebaran Ketupat
( Tagur hari ke-192 )
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Sudah hampir setengah bulan tidak turun hujan, malam itu meskipun berawan tebal, tapi tidak hujan, udaranya cukup panas, Kedai Cak Ifin bakda magrib masih belum dibuka, tapi Cak Ifin duduk-duduk di depan Kedainya, menunggu mengisi air tandon yang sudah habis dipakai cuci tangan para pelanggannya. Setelah beberapa menit menjelang adzan isyak, tandonya sudah penuh. Selain itu tak lupa juga menyiapkan sabun dan hand sanitizer.
Tandon air untuk cuci tangan yang berada didepan samping kiri kedai, selalu siap tersedia berikut sabun dan hand sanitizer. Ini tak lain adalah untuk kepentingan dan kebaikan bersama, terutama dalam menghambat laju penularan virus korona.
Sepeti biasa, sehabis jama’ah shalat isyak, empat serangkai yaitu ; Kang Dul Ngadi, Kang Karim, dan Kang Brahim, serta Kang Paijan tidak pulang ke rumah, tapi langsung bersama-sama menuju kedai Cak Ifin. Di samping untuk menikmati jajan gorengan dan ngopi, yang jelas mereka juga ingin dapat tambah ilmu dan wawasan terbaru.
Sehabis Cak Ifin membuatkan kopi rombongan empat serangkai. Kemudia datang rombongan Kang Majid, Kang Rohib, dan Kang Paidi. Mereka selalu datang bersama-sama. Karena memang sudah semayanan (janjian berangkat bersama). .
Setelah itu selang beberapa menit hadir juga rombongan Cak Zain, Cak Udin, Cak Lan, dan Cak Nur, yang berasal dari tetangga desa sebelah. Yang mana mereka sudah masuk menjadi anggota jamaah diskusi. Kemudian Cak Zain memperkenalkan dua orang teman barunya yang ikut bersamanya, yaitu cak Imam dan cak Nurul
Sedang “Rumah Baca” yang berada di belakang samping kanan kedai Cak Ifin rencananya baru akan dibuka seusai lebaran ketupat.
“Dulur-dulur, Tema diskusi kita malam ini adalah seputar masalah lebaran ketupat, kaitannya dengan asal asul dan makna filosofisya.” ungkap Kang Brahim Koordinator jamaah diskusi membuka obrolan diskusi malam itu.
Untuk menjaga kebaikan dan keselamatan bersama, Kang Brahim juga senantiasa mengingatkan pada semua jamaah yang hadir di kedai kopi Cak Ifin, agar mematuhi protokol kesehatan, “ Kita harus mendukung program pemerintah dalam memutus mata rantai penularan covid -19. Apalagi belakang ini muncul ada beberapa varian covid baru yang lebih ganas dan cepat penularannya.”tegas Kang Brahim.
Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab mereka serentak meskipun tanpa dikomando. “ Cak Ifin, kopinya agak manis sedikit, pesan Cak Ibnu Djufry.
“Dulur-dulur, besok pagi kita akan merayakan hari raya ketupat. Hari raya ketupat itu dirayakan pada hari kedelapan terhitung mulai dari hari raya Idul Fitri yang pertama. Berbarengan dengan usainya seseorang yang melaksanakan puasa syawal, yang dilaksanakan sehari setelah hari raya Idul Fitri selama enam hari ke depan. Dan umumnya di kalangan masayarakat menyebutnya denga sebutan ”riyoyo kupat”. Yang ditandai dengan membuat kupat, lepet, dan lontong. Ada yang dimakan dengan sayur lodeh, opor ayam, bumbu kelapa pedas, serundeng, dsb.” ungkap Cak Ibnu Djufry.
” Iya Cak. Pada saat riyoyo kupat hampir setiap keluarga membuat seperangkat makanan kupat, lepet, lontong dan sayur atau bumbu kelapa pedas, dsb. Kemudian dibagi bagikan kepada oarangtua, sanak kerabat, dan para tetangga. Ada yang dibawa ke mushalla atau masjid saat malam riyoyo kupat, untuk acara kirim doa bersama pada arwah para leluhur para orangtua, kakek, nenek, dst, yang didahului dengan membaca tahlil bersama. Usai acara doa bersama makanan kupat, lepet, lontong dan sayur baru dibagikan kepada para jamaah. ” Ujar Kang Brahim.
” Selama ini kita sudah melaksanakan riyoyo kupat, apakah dulur-dulur ada yang tahu asal muasalnya atau sejarahnya ketupat.” tanya Kang Karim.
” Benar Cak, selama ini saya juga tidak tahu apa maksudnya kok ada riyoyo ketupat, maksudnya apa zaman nabi Muhammad, para sahabat dan para ulama-ulama dulu juga ada melaksanakan hari raya kupat.?, tanya Kang Paijan
” Sebelum menjadi bagian dari tradisi lebaran masyarakat di Indonesia, ketupat itu sudah ada sejak zaman Hindu-Budha, pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga Seorang wali, di antara Wali Songo yang menggunakan strategi pendekatan kultural dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15. Dengan adanya asimilasi akulturasi budaya dan keyakinan akhirnya berhasil mengubah kesakralan ketupat menjadi bagian tradisi islami yang sarat muatan makna.” jelas Cak Ibnu Djufry
”Dalam dakwahnya, Sunan Kalijaga mengenalkan dan membudayakan istilah “Bakda”. artinya "setelah". Ada dua buah bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran adalah saat Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan Bakda Kupat adalah hari raya bagi orang yang melaksanakan puasa syawal selama enam hari.” tambahnya.
“Ketupat atau kupat singkatan dari frasa bahasa jawa "ngaku lepat" artinya mengakui kesalahan. Ada juga yang mengatakan kupat itu singkatan dari "laku papat" (empat tindakan). Sedang wujud dari ngaku lepat berupa tradisi sungkeman, yakni bersimpuh di hadapan orang tua sambil meminta maaf. Hingga saat ini, tradisi ini masih ada. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati dan memuliakan orang tua. Sedangkan laku papat (empat tindakan) tersebut adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan.” Urai Cak Ibnu Djufry, kemudian menteruput kopinya.
“ Kemudian makna filosofinya Kupat dan Lepet itu bagaimana Cak.” tanya Kang Rohib.
“Bungkus ketupat yang rumit mencerminkan beragam kesalahan manusia. Kupat” selalu dibungkus “Janur”. Janur dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ). Bentuk kupat adalah segi empat ibarat “Hati” manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti “Kupat yang dibelah”, isinya putih bersih, laksana hati yang tak dikotori penyakit hati, misalnya sombong, iri, dengki, dsb.. Kenapa? Karena hatinya sudah dibungkus “cahaya” (ja'a nur), Jelasnya.
“Sedang Lepet singkatan dari silep kang rapet (Kubur /tutup yang rapat). Jadi setelah ngaku lepet, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya “Ketan dan lepet”. ”tambahnya.
“Cak, terus istilah lebaran, luberan, leburan, dan laburan.itu bagaimana maksudnya.?.“ tanya Kang Dul Ngadi.
“Lebaran artinya sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Luberan artinya, meluber (melimpah), Hasil sedekah dan zakat fitrah untuk fakir miskin melimpah. Leburan artinya, sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena saling maaf memaafkan satu sama lain. Sedang laburan berasal dari kata labor dengan kapur atau gamping yang biasa digunakan untuk penjernih air atau ngelabor dinding agar putih. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya. “ Jelas Cak Ibnu Djfry.
“Alhamdulillah, kini sudah paham, jelas dan gamblang tentang asal muasal dan makna filosofi lebaran ketupat. Ini menunjukkan betapa hebatnya strategi dakwah Sunan Kalijogo dalam menyebarkan agama Islam.
Dengan pendekatan kultural. Mungkin cara seperti inilah yang dimaksudkan dengan Islam Nusantara. Bukan ajaran Islamnya yang diganti, sebagaimana pemahaman sebagian orang, tapi ajaran yang terkait dengan budaya disesuaikan dengan kondisi adat budaya di Nusantara. Misalnya sebagaimana Sunan Kalijogo yang tidak memakai jubah dan sorban, tapi memakai blangkon dan pakaian buadaya setempat” Ungkap Kang Brahim, koordinator diskusi.
”Sudah jam 22.40 wib, waktunya rehat.” Mari dihabiskan dulu kopinya. Jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang. Waalaikumussalam wr wb. Jawab mereka. Mereka semua pun menyusul pulang
SumberGambar**(censored)**;source=univ&tbm=isch&q=sejarah+ketupat&sa=X&ved=2ahUKEwiJ8Y7Fgdbw
Rujukan :Dari berbagai sumber
Jombang, 19 /5/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan