Mempertahankan Fitrah Manusia
Kedai Kopi Literasi ke-32
Mempertahankan Fitrah Manusia
( Tagur hari ke-190 )
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Sebagaimana Whatsapp (WA) yang telah beredar di grup jamaah kedai kopi, bahwa malam ini kedai Cak Ifin mulai dibuka kembali. Ini setelah menunggu silaturrahmi antar tetangga dan antar warga sudah meredah.
Mengingat hari raya Idul Fitri tahun ini meskipun masih dalam pandemi korona mobilitas masyarakat makin tampak dan lebih berani beranjang sana dibanding hari raya tahun sebelumnya. Namun demikian masih tetap dengam mematuhui protokol kesehatan.
Mobilitas yang tinggi tampak juga ketika para jamaah shalat Idul Fitri berangkat dan pulang dari shalat Idul Fitri. Mereka memenuhi sepanjang jalan. Masjid dua lantai dipenuhi jamaah, halaman masjid juga penuh, hingga meluber sampai ke jalan raya. Namun demikian, jamaah sangat tertib dan khusuk dalam mengikuti shalat Idul Fitri, dan juga saat mendengarkan khutbah.
Bertindak sebagai Imam dan Khatib pada shalat Idul Fitri adalah Drs. H. Khusrur Rony Djufry, M.Pd.I. yang mana beliau adalah salah satu anggota jamaah diskusi di kedai kopi literasi.
Sejak malam 21 Ramadan hingga saat ini belum turun hujan. Udaranya cukup panas, Cuacanya cerah, langit bersih tak ada awan. Meskipun rembulannya masih belum bersinar terang karena masih menyerupai sabit. Tapi penerangan lampu di jalan cukup terang. Apalagi dengan adanya empat lampu besar yang dipasang di setiap pojok atas Mushallah Al barakah yang sinarnya menjangkau sampai jauh, sehingga semakin terang Sedang tempat Kedainya Cak Ifin. Tidak jauh dari Mushalla
Sehabis jama’ah shalat isyak, empat serangkai yaitu ; Kang Dul Ngadi, Kang Karim, dan Kang Brahim, serta Kang Paijan tidak pulang ke rumah, tapi langsung bersama-sama menuju Kedai kopi Cak Ifin. Mereka sudah seminggu lebih tidak nyeruput kopinya Cak Ifin. Di samping sudah kangen untuk menikmati jajan gorengan dan ngopi, yang jelas mereka juga ingin dapat tambah ilmu dan wawasan terbaru.
Sehabis Cak Ifin membuatkan kopi rombongan empat serangkai. Kemudia datang rombongan Kang Majid, Kang Rohib, dan Kang Paidi datang bersamaan. Mereka memang sudah semayanan (janjian berangkat bersama). .
Setelah itu beberapa menit kemudian hadir juga rombongan Cak Zain, Cak Udin, dan Cak Lan, serta Cak Nur dari tetangga desa sebelah. Yang mana mereka sudah masuk menjadi anggota jamaah diskusi
“Asslamualaikum Wr Wb,, Dulur-dulur semua, Minal “aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir batin.” Sapa Cak Zain, Kemudian mereka saling bersalaman saling maaf memaafkan. Maklum mereka rombongan berasal dari tetangga desa masih baru sempat bertemu.
“Dulur-dulur, Tema diskusi kita malam ini seputar mengembalikan fitrah manusia, dan mempertahankannya, Serta bagaimana penjelasan terkait orang yang memperoleh derajat Muttaqiin.” ungkap Kang Brahim membuka obrolan diskusi malam itu.
“Benar Kang, demikian juga tentang tanda tandanya orang yang ibadah puasanya diterima oleh Allah SWT.”” ujar Kang Karim, peternak sapi yang sukses..
Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab mereka serentak tanpa dikomando. “ Taqabalallahu minna waminkum, Minal “aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir batin., dulur-dulur semua,”. Kemudian mereka saling berjabat tangan dan saling maaf memaafkan.
“ Cak Ifin, kopinya agak manis sedikit, ” pesan Cak Ibnu Djufry,
“Baiklah dulur-dulur, Paket ibadah di bulan ramadhan yang penuh, rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka telah usai. Masalahnya sekarang dapatkah kita meraih prediket Muttaaqin, yakni sosok manusia ideal yang indah luar dan dalamnya, yang menjadi dambaan bagi setiap orang yang melaksanakan ibadah puasa ramadhan, Mengapa demikian, karena ia telah mampu mengembalikan fitrah kemanusiaannya, yang suci bersih suci tanpa noda bagaikan bayi yang baru lahir, yang kelak di kemudian hari akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt..” ungkap Cak Ibnu Djufry.”
“Lantas apa tanda-tandanya orang yang berhasil menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan?.tanda-tandanya adalah sejauhmana seseoarang itu mampu melestarikan amalan-amalannya itu di luar bulan ramadhan sehingga dapat mengembalikan fitrah kemanusiaannya, dan dapat mempertahankan fitrah kemanusiaannya. Sebaliknya orang yang tidak berhasil, mengembalikan fitrah kemanusiaannya akan menjadi orang yang kehilangan (fitrahnya).” tegasnya.
”Karena itu, tepat sekali jika keberhasilan itu kemudian dirayakan dalam bentuk hari raya ”Idhul Fitri” yang berarti hari kemenangan. Keberhasilan dalam mengembalikan dirinya menjadi manusia yang sesuai dengan fitrahnya.” tambahnya.
”Maksudnya memanusiakan manusia itu bagaimana Cak, ”tanya Kang Dul Ngadi.
”Secara fitrah manusia itu suci bersih, beriman, mulia, cinta damai bukan permusuhan, pekerja keras bukan pemalas, mempunyai kesetiakawanan yang tinggi, tidak egois, tidak serakah, dan tidak dholim.”jelas Cak Ibnu Djufry
”Ruh manusia sebelum ditiupkan ke dalam jasad masih suci, tapi setelah masuk dalam jasad dan menghirup udara dunia, kondisinya bisa jadi lain. Jasad mulai tergoda dengan tuntutan kenikmatan dunia yang bersifat sesaat. Di sinilah mulai terjadi tarik menarik dua kutub kepentingan, antara kepentingan ruhani dan jasmani, atau antara kepentingan ukhrawi dan duniawi.”tegasnya.
”Selain itu, manusia satu sisi diberi akal, tapi di sisi lain diberi nafsu, sehingga setiap hari mengalami pergolakan bisikan antara akal yang positif konstruktif dengan nafsu yang negatif destruktif. Sehingga tidak sedikit manusia yang secara fitrah itu mulia, lantas martabatnya jatuh menjadi makhluk yang kadang lebih rendah dan kejam dari binatang yang sesungguhnya. Masalah ini telah dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya :
Artinya: ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (Q.S. At Tiin:4-6). ”tambahnya.
Karena sudah jam 22.35 wib, waktunya rehat. Karena tema yang dibahas belum tuntas, dilanjut pada pertemuan selanjutnya..” Mari dihabiskan dulu kopinya. Jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang. Waalaikumussalam wr wb. Jawab mereka. Mereka semua pun menyusul pulang
Jombang, 17 /5/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan