Mempertahankan Fitrah Manusia
Kedai Kopi Literasi ke-33
Mempertahankan Fitrah Manusia
( Tagur hari ke-191 )
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Sore hari tadi, awan di langit menggelantung hitam tebal, udaranya cukup panas, seakan mau turun hujan, namun hingga malam tidak ada hujan. Seperti biasa untuk sementara kedai Cak Ifin dibuka usai bakda shalat isyak. Sedang rencananya, baru nanti kalau sudah habis lebaran kupatan akan dibuka mulai bakda magrib.
Meskipun termasuk di daerah zona aman. Karena di saat buka pertama kemarin ada beberapa orang di kedai Cak Ifin yang tidak memakai masker, Maka Cak Ifin membuat poster yang berisi tentang himbauan agar semua yang datang ke kedai Cak Ifin termasuk pelanggan dan semua jamaah diskusi hendaknya mematuhi protokol kesehatan. Yakni Memakai masker, jaga jarak, tidak berkerumun, mencuci tangan. Poster itu ditempel di dinding depan kedai dengan tulisan agak besar sehingga mudah dibaca, meskipun dari jarak agak jauh.
Sementara tandon air untuk cuci tangan sudah disediakan didepan samping kiri kedai, berikut sabun dan hand sanitizer. Ini tak lain adalah untuk kepentingan dan kebaikan bersama, terutama dalam menghambat laju penularan virus korona.
Sepeti biasa, sehabis jama’ah shalat isyak, empat serangkai yaitu ; Kang Dul Ngadi, Kang Karim, dan Kang Brahim, serta Kang Paijan tidak pulang ke rumah, tapi langsung bersama-sama menuju kedai Cak Ifin. Di samping untuk menikmati jajan gorengan dan ngopi, yang jelas mereka juga ingin dapat tambah ilmu dan wawasan terbaru.
Sehabis Cak Ifin membuatkan kopi rombongan empat serangkai. Kemudia datang rombongan Kang Majid, Kang Rohib, dan Kang Paidi. Mereka selalu datang bersama-sama. Karena memang sudah semayanan (janjian berangkat bersama). .
Setelah itu selang beberapa menit hadir juga rombongan Cak Zain, Cak Udin, Cak Lan, dan Cak Nur, yang berasal dari tetangga desa sebelah. Yang mana mereka sudah masuk menjadi anggota jamaah diskusi. Kemudian Cak Zain memperkenalkan dua orang teman barunya yang ikut bersamanya, yaitu cak Imam dan cak Nurul
Sedang “Rumah Baca” yang berada di belakang samping kanan kedai Cak Ifin masih belum dibuka, dan rencananya baru akan dibuka seusai lebaran ketupat.
“Dulur-dulur, Tema diskusi kita malam ini melanjutkan tema kemarin yang belum tuntas seputar mengembalikan fitrah manusia, dan mempertahankannya, Serta bagaimana penjelasan terkait orang yang memperoleh derajat Muttaqiin.” ungkap Kang Brahim Koordinator jamaah diskusi membuka obrolan diskusi malam itu.
Kang Brahim juga mengingatkan pada semua jamaah yang hadir di kedai kopi Cak Ifin agar mematuhi protokol kesehatan, “ Kita harus mendukung program pemerintah dalam memutus mata rantai penularan covid -19. Apalagi belakang ini muncul ada beberapa varian covid baru yang lebih ganas dan cepat penularannya.”tegas Kang Brahim.
Assalamu’alaikum,” Sapa Cak Ibnu Djufry. “Waalaikumussalam wr wb,” jawab mereka serentak seperti paduan suara. “ Cak Ifin, kopinya agak manis sedikit, sama mie kuanya rasa bakso” pesan Cak Ibnu Djufry, yang tadi ketika buka puasa syawal hanya minum teh hangat dan lima biji kurma.
“Baiklah dulur-dulur, ada yang masih ingat atau pernah mendengar pepatah Arab yang berbunyi ” Al insaanu hayawaanun naatiqun” yang artinya manusia itu hewan yang berpikir. Kemarin sudah disampaikan manusia satu sisi diberi akal, tapi di sisi lain diberi nafsu, sehingga setiap hari mengalami pergolakan bisikan antara akal yang positif konstruktif dengan nafsu yang negatif destruktif..” ungkap Cak Ibnu Djufry.
Lebih lanjut dikatakan, Nah jika jiwa akal pikiran lebih mendominasi manusia, ins sya Allah manusia akan tetap pada fitrah kemanusiaannya, namun sebaliknya jika dalam diri seeorang yang mendominasi itu nafsu-nafsunya maka fitrah kemanusiaannya akan tertutup nafsunya. Karena manusia itu hewan yang berpikir, tapi kalau sudah tidak bisa menggunakan akal pikiran sehatnya, maka martabatnya jatuh menjadi makhluk yang kadang lebih rendah dan kejam dari binatang yang sesungguhnya, yang tidak segan-segan memangsa sesamanya yang lemah dan tak berdaya..”jelasya. .
”Oh begitu Cak, makanya wajarlah jika kita sering mendengar orang yang berprilaku jelek atau buruk dinisbatkan pada manusia. Misalnya ; Orang yang pekerjaannya meminjamkan uang atau barang pada orang lain dengan cara melipat gandakan bunga untuk memperoleh keuntungan yang besar ia dijuluki linta darat.” ungkap Cak Karim.
”Oh, iya Cak, perempuan yang suka keluar malam menjajahkan kehormatannya ia disebut atau dijuluki dengan kupu kupu malam.” ujar Zain.
”Sebaliknya Cak, laki-laki hidung belang yang mata keranjang dinamakan buaya darat” kata Kang Brahim.
” Ada lagi Cak, Orang yang kelihatannya baik-baik, namun sebenarnya hati dan prilakunya sangat busuk dan keji ia disebut Srigala berbulu domba..” ujar Cak Udin.,
” Nah, masih ada lagi Cak, orang yang melakukan hubungan suami istri tanpa adanya ikatan aqdun nikah maka disebut dengan kumpul kebo,” ungkap Kang Dul Ngadi, jamaah diskusi yang paling tua, yang mengenal istilah kumpul kebo saat ia masih muda.
”Nah, kalau manusia akal pikiran sehatnya sudah tidak berjalan lantas melakukan perbuatan yang jelek atau buruk sebagaimana yang biasa dilakukan suatu hewan, maka ia dijuluki dinisbatkan dengan hewan tersebut..” tegas Cak Ibnu Djufry
”Kini kehidupan kian hari semakin sulit, hidup penuh rivalitas serba kompetitif, yang tidak mampu beradaptasi bisa stres, putus asa, gila, bahkan tak sedikit yang sampai bunuh diri. Ironisnya untuk bisa sukses atau berhasil dalam kehidupan, banyak orang yang cenderung tidak sabaran, malas bekerja, sehingga banyak yang mencari jalan pintas, misalnya korupsi, ngrentener, merampok, berjudi, mencari pesugihan, dsb”, jelasnya..
”Tindak kejahatan pun terus meningkat, misalnya; pencurian, perampokan, pembunuhan, masalah narkoba, perkosaan, dsb. Kini banyak wanita menjajakan kehormatannya, banyak bayi lahir tanpa mengenal siapa Ayahnya, banyak anak lupa dan berani dengan orang tuanya.
Sebaliknya tidak sedikit orang tua yang tega memperkosa anaknya. Banyak bayi tak berdosa yang dibuang di tempat sampah, dan masih banyak lagi sifat dan kelakuan manusia saat ini yang seperti binatang, dan bahkan lebih keji dan kejam dari binatang yang sesungguhnya.”tambahnya.
Allah Swt menjelaskan bahwa manusia yang mempertuhankan hawa nafsunya maka ia laksana binatang ternak. Sebagaimana diterangkan Allah dalam firmanNya yang artinya; ”Terangkan kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?. Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. ((Q.S. Al Furqan:43-44). Ayat senada (Q.S. Al Anfal: 22)
””Adanya pergolakan bisikan antara akal yang positif konstruktif dengan nafsu yang negatif destruktif dalam kurun waktu sebelas bulan, menjadikan banyak manusia yang lebih didominasi oleh nafsu-nafsunya. Sehingga martabatnya yang asalnya mulia menjadi jatuh laksana hewan atau binatang ternak. Maka, Allah SWT dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan istimewa dan mulia, karena di dalamnya penuh rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka, selain itu juga ada lailatul Qadar.” jelas Cak Ibnu Djufry
”Di bulan Ramadan inilah manusia diberi kesempatan untuk mengikuti Diklat, selama sebulan dengan tujuan untuk memanusiakan manusia, agar martabat yang tadinya jatuh laksana binatang bisa kembali kepada fitrah kemanusiaan (Idul Fitri), yang selanjutnya mendapatkan predikat Muttaqiin. Dan semoga setelah raya Idul Fitri ini, kita dapat mempertahankan fitrah kemanusian kita. Aamiin.” Pungkasnya dengan tegas dan penuh harap..
Sudah jam 22.45 wib, waktunya rehat.” Mari dihabiskan dulu kopinya. Jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang. Waalaikumussalam wr wb. Jawab mereka. Mereka semua pun menyusul pulang
Jombang, 18 /5/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan