Khusrur Rony

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Mengembalikan Manusia pada Fitrahnya

Renungan hari raya Idhul Fitri

Mengembalikan Manusia pada Fitrahnya

(Tagur Hari Ke-185)

Oleh. Khusrur Rony Djufry

Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita panjatkan puji syukur kehadhirat Allah Swt., atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita, baik yang berupa nikmat jasmani maupun nikmat rohani. Sehingga kita dapat melaksanakan aktivitas keseharian kita.

Selanjutnya, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad Saw, yang telah memberikan petunjuk, bimbingan dan keteladanan kepada kita lewat ajaran beliau yakni agama Islam.

Dalam sebuah syair disebutkan;

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ جَدِيْدُ، وَلَكِنَّ الْعِيْدُ لِمَنْ تَقْوَاهُ يَزِيْدُ

Artinya : ”Hari Raya itu bukan bagi orang yang bajunya baru, tapi Hari Raya itu bagi orang yang bertambah takwa.”

Karena itu, di Hari Raya Idhul Fitri ini, mari kita tingkatkan rasa iman, dan takwa kita dengan benar-benar takwa. Takwa yang, menyatu dalam jiwa kita. Dengan takwa yang demikian itulah, Insya’Allah kita akan dapat melaksanakan semua apa yang diperintah oleh Allah Swt., dan meninggalkan apa yang dilarangNya.

Paket ibadah di bulan ramadhan yang penuh, rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka telah usai. Masalahnya sekarang dapatkah kita meraih prediket Muttaaqin, yakni sosok manusia ideal yang indah luar dan dalamnya, yang menjadi dambaan bagi setiap orang yang melaksanakan ibadah puasa ramadhan, karena ia telah mampu mengembalikan fitrah kemanusiaannya, yang suci bersih tanpa noda bagaikan bayi yang baru lahir, yang kelak di kemudian hari akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt.

Lantas apa tanda-tandanya orang yang berhasil menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan?.tanda-tandanya adalah sejauhmana seseoarang itu mampu melestarikan amalan-amalannya itu di luar bulan ramadhan sehingga dapat mengembalikan fitrah kemanusiaannya, dan dapat mempertahankan fitrah kemanusiaannya. Sebaliknya orang yang tidak berhasil, mengembalikan fitrah kemanusiaannya akan menjandi orang yang kehilangan watak dasar aslinya (fitrahnya).

Karena itu, tepat sekali jika keberhasilan itu kemudian dirayakan dalam bentuk hari raya ”Idhul Fitri” yang berarti hari kemenangan dan keberhasilan dalam mengembalikan dirinya menjadi manusia yang sesuai dengan fitrahnya.

Fitrah manusia adalah beriman. Ketika ruh manusia belum ditiupkan ke jasad manusia, ruh manusia sudah diajak dialog oleh Allah sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam surat Al A’raf ayat 172. Allah bertanya kepada arwah manusia " alastu birabbikum” (Bukankah Aku ini Tuhanmu). Arwah manusia menjawab, ”Qaaluu balaa syahidnaa” (Benar kami telah menyaksikan).

Disamping beriman, fitrah manusia itu mulia. Sebagaimana firman Allah Swt.

Artinya; ”Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, dan Kami telah

memberikan mereka kendaraan di darat dan laut. Dan Kami telah memberikan rizki yang baik-baik, dan Kami telah melebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan sebenar-benarnya lebih”. (S. Al Isra’:70).

Jadi secara fitrah manusia itu, mulia, cinta damai bukan permusuhan, pekerja keras bukan pemalas, mempunyai kesetiakawanan yang tinggi, tidak egois, tidak serakah, dan tidak dholim.

Maka dengan ” Idhul Fitri” Itu berarti kita kembali pada fitrah insani yang sejati, yang cenderung kembali kepada keagungan dan kemuliaan, kembali kepada kesucian dan kerahmanan, kembali kepada kebaikan dan keindahan, kembali kepada kebenaran dan keadilan, yang kesemuanya itu sejiwa dengan fitrah manusia yang cenderung rindu kepada Allah yang Maha Agung lagi Maha Mulia.

Dengan demikian, manusia akan memilih keagungan menolak kerendahan, memilih kemuliaan menolak kehinaan, memilih kesucian menolak kenajisan.

Ruh manusia sebelum ditiupkan ke dalam jasad memang masih suci, tapi setelah masuk dalam jasad dan menghirup udara dunia, kondisinya bisa jadi lain. Jasad mulai tergoda dengan tuntutan kenikmatan dunia yang bersifat sesaat. Di sinilah mulai terjadi tarik menarik dua kutub kepentingan, antara kepentingan ruhani dan jasmani, atau antara kepentingan ukhrawi dan duniawi.

Manusia satu sisi diberi akal, tapi di sisi lain diberi nafsu, sehingga setiap hari mengalami pergolakan bisikan antara akal yang positif konstruktif dengan nafsu yang negatif destruktif. Sehingga tidak sedikit manusia yang secara fitrah itu mulia, lantas martabatnya jatuh menjadi makhluk yang kadang lebih rendah dan kejam dari binatang yang sesungguhnya, yang tidak segan-segan memangsa sesamanya yang lemah dan tak berdaya. Masalah ini telah dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya :

Artinya: ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (Q.S. At Tiin:4-6).

Karena itu wajarlah jika kita sering mendengar orang yang berprilaku jelek atau buruk dinisbatkan pada manusia. Misalnya ada yang dijuluki linta darat, kupu kupu malam, buaya darat, Srigala berbulu domba, kumpul kebo dsb.

Saat ini tidak sedikit secara fisik bentuknyia adalah manusia tapi sifat dan kelakuannya laksana binatang. Kini banyak orang yang semakin sulit membedakan mana yang benar dan salah, antara yang baik dan buruk. Kebenaran semakin terabaikan, hukum bagaikan sekedar hiasan, kehidupan penuh dengan tipu daya dan rekayasa, orang yang benar cenderung tersingkir, tak berdaya bersama kebenarannya yang dipegangnya. Sementara para penjahat, orang yang salah bergembira ria dengan keberhasilan dan tipu dayanya.

Sedang Masjid, tempat-tempat ibadah dan tempat-tempat mencari ilmu kadang dibenci dan semakin dijauhi. Sebaliknya tempat-tempat maksiat selalu digemari dan ramai pengunjungnya

Kejahatan lainnya pun baik secara kuantitas maupun kualitas terus meningkat, misalnya; pencurian, pembunuhan, masalah narkoba, perkosaan, dsb. Kini pun banyak wanita menjajakan kehormatannya, banyak bayi lahir tanpa mengenal siapa Ayahnya, banyak anak lupa dan berani dengan orang tuanya, sebaliknya banyak orang tua yang tega memperkosa anaknya, bahkan sang kakek memperkosa cucunya. Banyak bayi tak berdosa yang dibuang di tempat sampah, dan masih banyak lagi sifat dan kelakuan manusia saat ini yang seperti binatang, dan bahkan lebih keji dan kejam dari binatang yang sesungguhnya.

Selanjutnya jika hawa nafsu itu dijadikan pedoman dalam memutuskan masalah atau menentukan kebijakan, maka apa yang ada di langit, bumi, dan di antara keduanya akan menjadi binasa, sebagaimana diterangkan Allah Swt dalam firmanNya :

Artinya: ”Dan kalau sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, sungguh rusaklah langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya”. (Q.S.Al Mu’minun:71).

Dari sini dapat dipahami, bahwa adanya berbagai macam bencana alam, berbagai macam krisis yang melanda bangsa kita, dan rusaknya tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan saat ini, itu lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia, oleh karena sudah banyaknya manusia yang mengabaikan tuntunan syariat, dan tidak mau bersyukur padaNya, dan Allah pun sudah menjelaskan dalam firmanNya :

Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan lautan yang disebabkan oleh tangan manusia”. (Q.S. Ar Rum: 41).

Karena penyebabnya lebih banyak karena faktor manusia. Maka solusi atau jalan keluarnya yang tepat adalah melalui pendidikan, yakni pendidikan yang tidak hanya mengedepankan life skill atau kecekapan hidup semata, tapi pendidikan yang juga mengutamakan budi pekerti, moralitas (akhlakul karimah) yang berbasis Ilahiyah yang benar-benar dapat memanusiakan manusia. Hal ini sesuai dengan risalah Rasulullah yang diutus ke dunia ini tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak. Sebagaimana sabda beliau yang artinya ; Sesungguhnya aku diutus (ke dunia) untuk menyempurnakan akhlak”.

Semua kenyataan tersebut, kiranya patut untuk kita renungkan, lebih-lebih di hari raya ’Idhul Fitri’ ini. Mari kita perbanyak bacaan takbir, tahlil, dan tahmid. Kita mohon ampunan atas segala kekhilafan dan dosa. Kita saling bersilaturrahim untuk saling maaf memaafkan kepada kedua orang tua, sanak saudara, famili, dan kerabat kita seraya mengucapakan, ”Taqabalallahu minna wa minkum taqabbal Yaa Kariim, Minal ’aiddiin wal faiziin, Kullu am wa antum bil khairi”.

Karena kini masih dalam pandemi covid 19, maka kita harus tetap mematuhi protokol kesehatan, memakai masker, jaga jarak, menghindari kerumunan, dan sering cuci tangan.

Akhirnya, semoga di hari raya Idhul Fitri ini kita benar-benar kembali suci tanpa noda dan dosa, mampu mempertahankan fitrah kemanusiaan dalam setiap saat, bukan hanya di bulan Ramadan saja, tapi juga di bulan bulan lainnya terus sepanjang masa. Semoga kita diselamatka Allah SWT dari virus Corona, dan Allah SWT segera mengangkatnya dari muka bumi. Dan diakhir hayat kita diberi khusnul khatimah. Amiin3X Ya Rabbal ”alamiin.

Sumber Gambar : **(censored)**;sxsrf=ALeKk008F6F3wPscQ2TqWdrY7dTheDeuHw:1620811638770&source=univ&tbm=isch&q=gambar+renungan+idul+fitri

Jombang, Wismah Berkah, 12/05/2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post