Orang Sombong itu Siapa?
Kedai Kopi Literasi ke-41
Orang Sombong itu Siapa?
( Tagur hari ke-424 )
Oleh. Khusrur Rony Djufry
Meskipun malam itu masih hujan gerimis, namun tetap tidak menyurutkan niat dan semangat para jamaah majlis taklim untuk berangkat ke kedai kopi Cak Ifin. Buktinya sehabis salat isyak, Kang Brahim, Kang Dul Ngadi, Kang Karim, dan Kang Paijan tidak pulang ke rumah, tapi mereka langsung menuju kedai Cak Ifin.
Belum sempat duduk rombongan Kang Brahim sudah disusul rombongan Kang Rohib yang datang bersama dengan Kang Majid, dan Kang Paidi. Anehnya setelah memesan minuman, mereka memilih tempat duduk di tempat yang baru dengan lesehan beralaskan karpet warna hijau daun. Hanya tinggal Kang Brahim dan Kang Dul Ngadi yang ada di dalam kedai, di tempat biasanya.
Lima menit kemudian, para jamaah dari beberapa desa sekitar pada mulai berdatangan. Cak Ahmad Zainuddin, yang biasa dipanggil Cak Zain dari desa Jati Pandak, bersama lima temanya, Cak Udin, Cak Lan, Cak Nur, Cak Imam dan Cak Nurul. Mereka sudah setengah tahun bergabung di majlis taklim ini..
Kemudian Cak Ahmad Mustajib, yang biasa dipanggil Cak Tajib, dari desa Pojok Kulon datang bersama Cak Iqbal, Cak I’im, dan Kang Solah, masih baru ikut empat kali pertemuan.
Berikutnya rombongan Cak Ivan Velani dari desa Semaden datang bersama Cak Budi, Cak Ghofur, dan Kang Muslih. Dan, terakhir rombongan Kang Syafi’I dari desa Kedung Betik datang bersama Cak Mujib, Cak Syakur, Cak Hudi, dan Kang Yani. Mereka baru ikut dua kali pertemuan.
Rombongan yang datang dari beberapa desa itu tidak masuk kedai, tapi langsung menuju tempat lesehan yang tempatnya memang lebih luas, hanya Cak Zain, Cak Tajib, Kang Syafi’i, dan Cak Ivan yang masuk ke dalam kedai.
“Assalamu’alaikum wr wb’, sapa Cak Ibnu Djufry . ‘Walaikumussalam” jawab mereka semua yang hadir hampir bersamaan.” Alhamdulillah, tambah banyak yang hadir, , ujar Cak Ibnu Djufry, sambil berjalan menuju tempat biasanya. “Benar Cak”, tegas Kang Brahim.
Setelah Cak Ibnu Djufry memakan pisang goreng dan beberapa kali menyeruput kopinya. Kang Brahim mengajak beberapa jamaah yang ada dalam kedai pindah di teras, yang tempatnya sudah disediakan. Ia juga mengingatkan agar kopinya dibawa sekalian.
Acara majlis taklim di kedai Cak Ifin mulai malam itu, semua jamaah berada di luar kedai, ada yang di teras dan yang lainnya berada di halaman, yakni tempat yang baru dibangun, dengan duduk lesehan. Setelah semua sudah duduk tertib, Kang Brahim kemudian memulai acaranya.
“Assalamu’alaikum.wr wb, Dulur dulur, oleh karena Cak Ibnu Djufry sudah ada di tengah tengah kita, seperti biasa marilah acara ini kita awali dengan membaca surat .al Faatihah. “ala hadzihin niyah wa ala kulli niyatin shaalihah bi syafaati rasulillah SAW al faatihah.” Ucap Kang Brahim. Semua yang hadir membaca surat al faatihah. Selanjutnya waktu sepenuhnya diserahkan kepada Cak Ibnu Djufry.
“Assalamu’alaikum wr wb. Bismillah, Alhamdulillah, amma bakdu. Dulur-dulur sekali lagi kita patut bersyukur.kini pembangunan perluasan ‘emperan’ kedai sudah jadi, lebih luas, lebih nyaman, dan malam ini yang hadir tambah banyak. Alhamdulilah sekarang sudah pada pada saling kenal semuanya.” kata Cak Ibnu Djufry
“Mari dimakan jajan gorengannya dan diminum kopinya. Kita santai saja, Kali ini temannya yang akan kita bahas yaitu tentang siapa saja sih orang sombong itu.,”. Jelasnya.
“Dulur-dulur tahukah sampean, siapa saja sih orang sombong itu?”tanngya Cak Ibnu Djufry.
“Orang sombong, itu orang yang dengan kekayaannya, merasa paling kaya, . cenderung memamerkan kekayaannya, Bahkan sampai tidak menyadari bahwa harta benda yang dimilikinya adalah barang titipan dari Allah SWT.”jawab Kang Dul Ngadi, seorang jamaah yang paling tua.
“Orang sombong itu, orang yang merasa sok, lebih hebat, lebih kuat, mempunyai kekuasaan, sehingga orang lain dianggap kecil, tidak ada yang bisa menandinginya.,.”ungkap Kang Rohib, jamaah yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang batu, yang memasang keramik tempat ini.
“Ada yang berpendapat lain,” tanya Cak Ibnu Djufry. Setelah tanya jawab dengan para hadirin. Intinya pendapat mereka hampir sama. “Baiklah dulur-dulur, jawaban sampean semua tidak ada yang salah, jadi orang sombong itu intinya, Orang yang menolak kebenaran, dan merasa lebih hebat dari orang lain.”ungkapnya. “Dan kesombongan itu bisa dalam berbagai hal.”tambahnya.
Lantas Cak Ibnu Djufry membacakan sebuah hadist, yang artinya ; “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (H. R. Muslim).
“Jadi, siapapun orangnya yang menolak atau menentang (kebenaran) apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasulnya, maka ia termasuk orang yang sombong. Orang yang merasa bahwa harta kekayaan yang dimilikinya adalah hasil jerih payahnya sendiri tanpa ada pertolongan dari Allah SWT, itu termasuk orang sombong. Termasuk juga adalah orang yang tidak mau berdoa. Meresa hebat tidak membutuhkan pertolongan atau bantuan dari Allah SWT.” Jelasnya.
“Mohon dijelaskan Cak, terkait kesombongan itu bisa dalam berbagai hal apa.”tanya Cak Ivan dari desa Semaden.
“Tadi sudah dijelaskan, orang sombong itu orang yang merasa bangga atas kelebihan yang dimiliki , lantas meremehkan orang lain, dan memandang orang lain lebih rendah. Itu bisa dalam hal merasa lebih tampan, merasa lebih cantik, merasa lebih kaya, merasa lebih pandai dan pintar, merasa lebih salih, lebih alim, merasa lebih rajin dalam beribadah, merasa paling dekat dengan Allah SWT, Bahkan merasa paling berhak atas surgaNya. “ jelasnya.
“ waduh, jangan jangan tanpa kita sadari, kita juga termasuk golongan orang yang sombong.” Ujar Cak Zain, ketua rombongan dari desa Jati Pandak, yang juga seorang pemborong.
“Benar Cak, urusan rasa itu wilyahnya hati, sangat samar dan lembut., Bisa jadi ketika di jalan berpapasan dengan orang lain, hati bisa merasa lebih tampan, lebih cantik. Saat berpapasan dengan pengemis, hati merasa berstatus sosial lebih tinggi. Bertemu dengan penjudi, peminum minuman keras, hati seolah merasa lebih salih, lebih alim, dst.”, Ungkap Kang Syafi’i.
“Kalau begitu kita harus pandai pandai menata dan menjaga hati, agar tidak mudah merasa lebih hebat dengan orang lain. Tapi ini sepertinya tidak mudah Kang.” Ujar Kang Paejan, muazin mushala sebelah. “Tolong Cak Ibnu Djufry barangkali bisa menjelaskan,” tambahnya.
”Untuk bisa menjelaskan agak lebih detail waktunya sepertinya sudah tidak memungkinkan, karena sudah jam 22.15. Lain kali saja, untuk sementara yang bisa’ dulur dulur’ lakukan, sibukkan hati dengan senantiasa berzikir kepada Allah, atau dengan membaca shalawat nabi dalam hati. Dengan bacaan yang mudah dan pendek saja, misalnya zikir Allah Allah Allah atau bershalawat “Shalallah ala Muhammad Shalallah ala Muhammad”, dengan menyibukkan hati dengan zikir tersebut, insya Allah hati jadi tenang dan terang, sehingga dijauhkan dari bisikan-bisikan atau perasaan yang tidak baik.“, pungkasnya.
Sudah pukul 22.30 wib,, waktunya rehat dulu, besok kita lanjutkan kembali dengan tema selanjutnya, Mari bersama sama kita akhiri dengan membaca tahmid, Alhamdulillahi rabbil “aalamiin , semoga manfaat berkah, ”ujar Kang Brahim menutup acara majlis ta’lim.
“Mari dihabiskan dulu kopinya. Jangan lupa shalat tahajud dan jamaah shalat subuh. “ Assalamu’alaikum.” Cak Ibnu Djufry pamit pulang. Waalaikumussalam wr wb. Jawab para jamaah serentak, dan. mereka semua pun menyusul pulang
Wismah Berkah, Jombang, 12/01/2022`
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan