tantangan(24) BELAJAR SASTRA, BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS
Taufik Ismail memunculkan ide membuat Rumah Puisi dari diskusi tim redaktur Horison dalam 10 Program Gerakan Membawa Sastra ke Sekolah (1998-2008). Alhamdulillah, 20 Februari 2008, impian tersebut terealisasi dengan lokasi di kaki Gurung Singgalang dan Kaki Gunung Merapi, Sumatera Barat, di antara Padang Panjang dan Bukit Tinggi, di Aie Anggek.
Saya mengetahui adanya pembangunan Rumah Puisi ketika membaca buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (ada 4 jilid). Saya mendapatkan buku jilid 3 dan 4 saja (2013). Dalam buku tersebut terdapat Senarai Buku dan Informasi Rumah Puisi. Ternyata, hasil Penjualan buku tersebut disumbangkan oleh panitia "Taufik Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia" kepada pembangunan Rumah Puisi ini. Modal awal berasal dari perolahan hadiah sastra Habibie Award 2007 kepada Taufik Ismail sebesar $25.000 US, setelah dipotong pajak menjadi Rp200.000.000,00.
Buku- buku milik Taufik Ismail di Jakarta, menjadi koleksi pertama perpustakaan Rumah Puisi. Rumah puisi bukan sekadar kegiatan dengan persajakan saja, tetapi seluruh aktivitas yang berhungan dengan sastra dan pengembangan budaya membaca dan menulis di Indonesia.
Gagasan rumah puisi ini bermula dari kegelisahan Taufik Ismail tentang generasi muda Indonesia yang minim pengetahuannya dalam kegiatan sastra. Saat berpidato di depan Rapat Terbuka Senat Universitas Negeri Yogyakarta, Sabtu, 8 Februari 2008, Taufik memaparkan idenya “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Menulis”. Taufik menjelaskan 35 persoalan bermula dari isu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang rabun membaca dan pincang mengarang. Apakah kabar tersebut benar adanya?
Terdapat beberapa paradigma baru mengajarkan sastra yang disampaikan oleh Taufik. Pertama, siswa dibimbing memasuki sastra secara asyik, nikmat, dan gembira. Kedua. Siswa membaca langsung karya sastra puisi, cerpen, novel, drama, dan esai, bukan melalui ringkasan. Perpustakaan sekolah seharusnya menyediakan buku-buku tersebut. Ketiga, kelas mengarang harus diselenggarakan secara menyenangkan. Tidak menjadi beban siswa dan guru. Keempat, saat membicarakan karya sastra, segala tafsir harus dihargai. Kelima, pengetahuan tentang teori sastra tidak utama dalam pengajaran sastra di SMU, cukup informasi yang bersifat sekunder. Kelima, pengajaran sastra mestilah menyemaikan nilai positif pada batin siswa, yang membekalinya menghadapi kenyataan kehidupan masa sekarang. Dalam kurikulum 2013, istilah ini disebut membentuk karakter siswa.
Taufik juga menjabarkan uraiannya disertai tabel buku sastra wajib di SMA 13 negara, Jumlah halaman buku yang dibaca siswa kelas 7-12 Amerika (1989), dan beberapa tabel yang menguatkan argumentasinya. Pada tabel 15, Taufik menjelaskan kuantifikasi kewajiban membaca dan mengarang (menulis) di Indonesia.
KUANTIFIKASI KEWAJIBAN MEMBACA DAN MENGARANG
Sekolah
Kewajiban Membaca
Kewajiban mengarang
SD selama 6 tahun
6 buku
12 pertemuan setahun (12 karangan)
SLTP selama 3 tahun
9 buku
24 pertemuan setahun (24 karangan)
SMU selama 3 tahun
15 buku
36 pertemuan setahun(36 karangan)
Sudah 12 tahun gagasan tersebut bergulir. Alangkah baiknya apabila pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia menindaklajutkan gagasan Taufik Ismail karena sepengetahuan saya, masih belum ada kebijakan yang spesifik mengenai pembelajaran sastra dan kewajiban membaca buku sastra. Paling tidak, terdapat program pemberian buku-buku karya sastra gratis untuk sekolah dan kewajiban membacanya seperti buku-buku paket. Memang terdapat program literasi, namun masih sebatas otonomi daerah dan masing-masing sekolah.
Apalagi, problem pendidikan kita bertambah dengan maraknya gadget dan perkembangan IT yang begitu cepat dan adanya pandemi covid-19. IT seperti dua sisi mata uang yang memiliki dampak positif dan negatif.
Memang tidak mudah membalikkan tangan. Namun, kita harus optimis. Maraknya lomba dalam bidang sastra, karya tulis, dan pelatihan-pelatihan menulis (seperti yang menjadi programMGI) menjadi barometer bahwa Indonesia tidak lagi menjadi negara yang buta membaca dan pincang mengarang. Semoga menjadi perenungan bagi kita bersama.
Rumahku, 9 Juli 2020
Catatan: tabel tidak terbaca, bisa dilihat pada foto di bawah ini (sumber: Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 3 hal. 203)


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
