tantangan(36) BISA BELAJAR DENGAN WIFI GRATIS DI WARKOP
“Bu, saya salut dengan orang ini,” Arif berkomentar, di ruang tengah, saat membolak-balik koran yang dipegangnya.
“Lho, kenapa, Rif? “tanya Ibunya.
“Ini lho, ada warung kopi yang menyediakan wifi, untuk siswa, belajar online,” jawab Arif.
Arif pun memberikan koran kepada ibunya. Bu Binti pun membaca berita itu.
Memang, hari ini, Bu Binti lupa membaca koran. Ia sibuk dengan pembelajaran daring dengan siswanya. Ia bersyukur ada Arif, si bungsu, yang membantunya kalau kesulitan. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan pembelajaran online. Ia sudah 3 tahun ini akan pensiun menjadi guru sekolah dasar. Namun situasi tidak memungkinkan. Kotanya termasuk zona merah. Kalau dipaksa, covid – 19 akan tambah merajalela. Ia pun termasuk guru gaptek. Bahkan, ia tidak tahu metode apa untuk mengajarkan sopan satun kepada siswanya melalui daring. Pelajaran ini bisa berhasil jika terdapat keteladanan. Baru kali ini ia harus berpikir keras untuk menjelaskan sopan santun kepada siswanya. Ia pun tak segan-segan meminta guru muda untuk berbagi ilmu bagaimana menggunakan laptop atau hp dan metode yang tepat untuk mengajarkan pendidikan karakter.
“Iya, ya, Rif. Ide ini bagus sekali,” kata Bu Binti.
“Mereka ke warkop harus pakai seragam biar tidak keluyuran,” kata Arif.
Bu Binti pun membaca berita itu.
Android dan jaringan interet menjadi perangkat wajib yang dimiliki siswa untuk memulai pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tahun ajaran baru selama Surabaya masih di zona merah. Sayangnya, tidak semua orang tua bisa memberikan fasilitas ini pada anaknya….
…Husin Ghozali, pemilik warung mengaku cukup prihatin melihat sejumlah orangtua yang memang tidak memiliki fasltas internet. Karena itu, ia memberikan peluang wifi gratis bagi siswa yang mau belajar…”Asal tidak main game, ke sini bawa perlengkapannya. Saya kasih wifi gratis dan teh gratis,” ujarnya.
Di tengah pro dan kontra pembelajaran daring, ada gagasan yang brilian. Bukan dari pemerhati pendidikan atau yang terlibat dalam dunia pendidikan. Namun, ide itu berasal dari pemilik warung kopi. Malah, ide ini memberi keuntungan bagi warungnya. Ini sebuah keberkahan bagi orang yang ikhlas.
Bu Binti pun bersyukur karena ada satu solusi pembelajaran daring untuk anak-anak yang tidak mampu di kotanya. Di balik itu, ia merasa prihatin karena di kota adiknya, warung kopi makin marak dan sangat meriah. Apalagi di malam hari setelah sholat isya. Mereka tanpa mempedulikan jaga jarak ketika di warkop. Kejadian ini berlangsung sejak Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) dilonggarkan. Padahal saat PSBB berlaku, warkop-warkop sepi. Apakah pemerintah daerah tidak melihat kondisi ini? Mata Bu Binti menerawang.
“Bu, jangan melamun!” kata Arif tiba-tiba.
“Ngelamunin apa, Bu?” tanya Arif penasaran.
Ngelamunin kamu. Kamu kok santai-santai saja di rumah. Mahasiswa harus kreatif. Mulai besok, kita jualan ya. Biar kamu ada kegiatan haha,” kata Bu Binti.
“Siap!”
“Jualan online,” kata Bu Binti lagi, tapi jaga jarak kalau kirim barang!
“Siap, Bu. Nunggu kuliah lagi kayaknya lamaa banget…”
Mereka pun tertawa bersama
“Wis, disyukuri ae,” kata Bu Binti sambil mengusap kepala Arif.
Kotaku, 21 Juli 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
