tantangan(39) DIDIKLAH ANAK-ANAKMU SESUAI TUNTUNAN AGAMA DAN ZAMANNYA
Hari ini, saya baru saja membaca salah satu artikel di majalah Al Falah Edisi Juli 2020, berjudul “Mendidik Anak Berkarakter” buah pena Misbahul Huda. Saya tertarik dengan artikel ini karena di dalamnya terdapat ulasan tentang bagaimana medidik anak agar berkarakter.
Misbahul Huda mengatakan bahwa, di antara modal untuk sukses adalah memiliki karakter. Bukan hanya karakter moral, tetapi juga karakter kinerja. Bukan hanya jujur, tetapi juga professional. Bukan hanya cerdas, tetapi disiplin.
Ada kata-kata yang menjadi perenungan saya yakni sukses kita hari ini adalah produk pendidikan karakter orangtua 30-40 tahun lalu. Jika kita ingin anak-anak sukses di masa depannya, maka siapkan segalanya agar mereka siap berkompetisi kelas dunia di 30 tahun yang akan dating.
Rosulullah pernah bersabda, “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian".
Demikian juga sahabat sekaligus menantu Rasullullah, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Memang, cara mendidik orang tua kita dulu, berbeda dengan kita yang telah menjadi orangtua. Zaman semakin berkembnag apalagi kemajuan ilmu dan teknologi begitu cepat. Kita harus siap. Diperlukan bekal sabar dan kompetensi spiritual seperti yang dilakukan orangtua kita dulu, prihatin. Bukan itu saja, kita juga harus melek tekonologi karena kalau ketinggalan, maka kita akan dikelabiu oleh anak-anak kita.
Misbahul Huda menyebutkan, untuk mengantarkan generasi sukses berkarakter, diperlukan redefinisi sukses, reorientasi visi, dan reposisi peran.
Redefinisi sukses, artinya, harus menyamakan persepsi tentag definisi sukses. Keluarga sebagai madrasah utama, yang di dalamnya ada suami dan sitri, harus memiliki persepsi dan definisi yang sama tentang sukses. Sukses bukan pintar secara intelektual, tapi juga membentuk anak berkarakter.
Reorientasi visi, artinya suami istri harus memiliki tujuan yang sama untuk membentuk kepribadian anak. Niat yang kuat harus terpatri dalam hati agar bisa membentuk keluraga yang sakinah mawadah warahmah dengan anak-anak yang sholih dan sholihah.
Reposisi peran, artinya suami (ayah) dan istri (ibu) harus mengetahui posisinya. Demikian juga dengan guru. Mereka harus mengetahui potensi yang dimiliki anak atau siswa. Mereka dapat melejitkan potensi itu sesuai dengan tuntunan agama.
Tak mudah memang, menjadi orangtua. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholih dan sholihah, sukses dunia dan akhirat. Aamiin.
Rumahku, 24 Juli 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
