tantangan(42) GRUMBUL MEDI
Tiap libur kenaikan kelas, aku selalu berlibur ke rumah kakek di desa. Tepatnya sebuah dusun yang sangat jauh dari kotaku. Nama dusun itu Grumbul Medi. Nama yang aneh menurutku. Biasanya, aku menginap di rumah kakek selama 3 hari. Namun, kali ini aku hanya setengah hari di rumah kakek karena menurut Papa, sekarang masa pandemic covid 19 sehingga kami ke rumah kakek sebentar saja. Papa mengingatkan aku untuk jaga jarak dengan kakek karena untuk melindungi kakek dari bahaya covid 19. Aku pun harus memakai masker juga berbicara dengan kakek.
Aku senang berkunjung ke rumah kakek meskipun tidak menginap. Salah satu yang membuat aku penasaran adalah pohon di belakang rumah kakek. Pohon itu besar sekali. Daunnya pun rimbun. Aku hanya bisa melihat dari jauh karena kakek melarangku untuk mendekatinya.
Pohon itu di antara kolam yang cukup dalam. Kakek menyebutnya jublang. Ainya bewarna hijau karena ditutupi daun-daun kecil. Aku pun tidak boleh medekati kolam itu.
"Tono, jangan bermain dekat kolam dan pohon weringin itu,” kata kakek beberapa waktu yang lalu.
“Tempat itu angker. Penguhuninya berbadan besar,” kata kakek.
Akupun mengangguk tanpa bertanya mengapa kakek melarangku ke sana.
Hari ini, akupun penasaran ingin melihat pohon itu dari dekat. Kakek menyebutnya weringin. Dalam bahasa Indonesia, beringin. Setelah mencari di google saat pelajaran IPA, aku tahu bahwa pohon ini termasuk jenis ficus. Ia memiliki akar gantung. Batangnya berdiameter besar.
Dengan mengendap-endap, aku mendekati pohon ini. Aku takjub. Pohon ini besar sekali. Aku pun memeluknya. Ternyata tanganku tak bisa bertemu karena diameter pohon ini sangat lebar. Menurut kakek, pohon ini sudah ada sejak kakek masih kecil. Berarti usia pohon ini sangat tua.
Aku pun duduk di bawahnya. Udara terasa sejuk. Terdengar burung berkicau silih berganti. Buahnya yang kuning berjatuhan dan berserakan di tanah. Aku pun memungutinya. Lalu, aku duduk-duduk sampai tak terasa, aku pun tertidur di bawah pohon itu
” Tonooo, di mana kau?” terdengar sayup-sayup suara kakek.
“Tooonnoooo,” teriak Papa.
Aku pun terbangun karena teriakan kakek dan papa.
“Iya, Kek. Aku di sini,” jawabku setengah berteriak.
“Alhamdulillah,” kata Papa.
“Kamu tadi kami cari kemana-mana. Eh, ternyata di sinI,” kata Papa dengan wajah agak khawatir.
“Kek, kenapa sih, kok aku tidak boleh mendekati pohon ini?” kataku bertanya.
“Waduh, pertanyaan itu lagi. Baiklah, aku akan cerita ya. Ayo, kita duduk di sini saja. Di bawah pohon ini. Aku pun menuruti keinginan Kakek. Demikian juga dengan Papa. Ia ikut nimbrung.
“Tono, dusun ini dulunya sangat terkenal karena adanya pohon ini,” kata kakek sambil menepuk-nepuk batang pohon beringin.
“Banyak orang pergi ke dusun ini tujuannya memberi sesaji di bawah pohon dan menyatakan keiniginannya. Itu, lihat, ada lubang besar di pangkal pohon,” kata kakek.
“Itu kan perbuatan syirik, Kek,” kataku.
“Ya, perbuatan yang menyekutukan Tuhan, Kek,” kataku lagi.
Papa pun menyahut,” Iya, saat itu adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh Papa dan kawan-kawan karena setelah orang-orang pergi, sesajen berupa kue dan makanan itu kami makan bersama-sama,” kata Papa.
“Papa saat itu sudah tahu perbuatan mereka itu tidak baik karena guru agama Papa menjelaskannya. Kakekpun mengatakan hal yang sama. Lalu beliau melarang Papa untuk bermain di sekitar pohon ini karena takut ikut terbawa perbuatan mereka. Papa dulu bandel. Tidak menurut. Bahkan memakan sesaji mereka hahaha,” kata Papa sambil tertawa.
“Coba lihat, dusun ini paling ujung di antara dusun-dusun di desa ini,” kata Kakek.
“Ayo, kamu tahu apa itu dusun?”tanya kakek padaku.
“Beberapa dusun membentuk desa. Jadi wilayah dusun lebih kecil daripada desa,” jawabku.
“Betul. Pinter cucu kakek,” kata kakek sambil bertos denganku, namun tanganku dan tangan kakek tak sempat bertemu.
“Tempat ini sangat jauh dari kota. Nenek moyang kami hidupnya berpindah-pindah. Lalu, ketika mengetahui lokasi ini cocok, maka kami tidak berpindah-pindah lagi. Nah, pohon weringin inilah yang menjadi patokannya,” kata kakek.
“Mengapa tidak ditebang saja, Kek. ‘Kan membuat orang menjadi syirik?” tanyaku.
“Kami tidak menebangnya karena pohon ini sangat berguna. Dengarkan suara burung-burung itu. Coba rasakan, “kata kakek.
“Pohon ini mengeluarkan oksigen yang berguna untuk kita dan hewan-hewan di sekitarnya,” kata Papa yang dari tadi mendengarkan percakapan kami sambil terkantuk-kantuk.
“Makanya, kakek membuat cerita agar orang-orang tidak mendekati dan menebang pohon ini. Kakek katakan pohon ini tidak boleh ditebang karena penghuninya marah. dengan cara menakut-nakuti mereka dan mengarang cerita. Bahkan kakek berbohong bahwa penghuni pohon ini tidak suka sesaji lagi, haha. Namun, cerita itu berkembang sampai pada akhirnya tidak ada yang ke sini lagi apalagi pemahaman agama mereka bertambah,” kata kakek.
“Karena itu, dusun ini bernama Grumbul Medi, dusun tempat bergerombolnya memedi atau hantu, hahaha,” kata kakek.
“Oya, kakek baru mau menebang pohon ini kalau dusun ini membuat jalan dan melewati pohon ini,” kata kakek lagi.
“Lho, nanti tidak sejuk lagi, rumah kakek,” kataku.
“Jangan khawatir, tuh, Kakek sudah menyiapkan beberapa tanaman baru di teras rumah. Kakek buat bonsai. Kalau kamu mau, ambil saja!” kata kakek.
Aha, aku punya ide. Aku akan bawa 2 tanaman. Yang satu tetap menjadi bonsai di depan rumahku dan satunya lagi akan aku tanam di sekolah. Pasti Bu Santi, guru IPAku akan setuju.
“Terima kasih, Kek,” kataku.
Aku segera ingin memeluk kakek.
“Eit-eit, jangan memeluk kakek, Ingat, tetap pakai masker dan jaga jarak, “ kata Papa.
Kami pun tertawa bersama. Hari ini, aku mendapatkan ilmu dan mengalaman yang berharga.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
