tantangan(45) SELAMAT JALAN MENUJU KEABADIAN
Setelah beberapa waktu lalu, Sapardi Djoko Damono berpulang, hari ini kita juga mendengar Ajip Rosjidi, salah satu sastrawan senior Indonesia juga telah dijemput oleh Sang Pencipta, 28 Juli 2020, pada usia 82 tahun. Dunia kesusastraan Indonesia tengah berduka.
Ajip Rosjidi adalah penulis serba bisa. Ia adalah penulis yang sangat kreatif khususnya pada periode 1953 -1960. H.B. Jassin memasukkannya ke dalam Angkatan 66. Ia telah menulis puisi, cerpen, novel, drama, terjemahan, saduran, kritik, esai dan buku yang sesuai dengan bidang yang digelutinya. Ia menulis dalam bahasa daerah maupun berbahasa Indonesia.
Ajip sangat aktif dalam mengembangkan kesusastraan Indonesia dengan menjadi pimpinan berbagai penerbit maupun kegiatan seni. Tahun 1967, ia bekerja sebagai dosen Universitas Pajajaran. Ia pun pernah menjadi pimpinan Ikatan Penerbit Indonesia(1973 – 19798), Ketua Dewan Kesenian Jakarta ( 1973 – 1981). Ajip pernah mendapat kesempatan menjadi anggota Staf ahli Mentrei Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1980).
Ia pun diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo (Universitas Bahasa-BAhasa Asing Osaka), guru besar luar biasa di Kyoto Sangyo Daigaku (Universitas Indutsri Kyoto), di Tenri Daigaku (Universitas Tenri) dan di Osaka Gaidai (Osaka University of Foreign Studies).
Ajip juga memberi penghargaan kepada sastrawan dan budayawan daerah berupa “Hadiah Sastra Rancage” khususnya sastra Sunda dan Jawa. Sebagai seorang penyair, ia pernah mendapat Hadiah Sastra nasional BMKN atas kumpulan puisinya berjudul “Pesta”. Kumpulan cerpennya berjudul “Sebuah Rumah buat Hari Tua juga mendapat hadiah serupa.
A.Teew mengatakan bahwa sejak pertama karya Ajip terbit (1950-an) sampai 1989, ia menjadi tokoh di segala bidang sastra hingga orang akan tak mau tahu betapa masih muda ia sebenarnya. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah). Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955)
Di akhir masa hidupnya, Ajip Rosidi tetap aktif menulis. Ia menulis terutama perkembangan bahasa dan sastra Sunda. Ajip meraih gelar doktor kehormatan, Honoris Causa di bidang ilmu budaya dari Universitas Padjajaran tahun 2011.
Nundang Rundagi, salah satu anak Ajip, mengatakan bahwa ayahnya telah tinggal di Pabelan, Kabupaten Magelang sebelum bulan puasa 2020. "Sebelumnya, Bapak biasa selalu bepergian Jakarta, Bandung (di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut Nomor 2)," katanya.
Selamat jalan, Bapak. Semoga semua amal ibadahmu diterima Allah SWT. Aamiin.
Rumahku, 30 Juli 2020
Sumber:
Sugono, Dendy. 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Moder. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
**(censored)**
**(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
