tantangan(46) SURAT YASIN DAN CHRISYE
Berapa kali dalam sehari kalian membaca Al Quran, Anak-anak? Begitu pertanyaan guru agama kepada para anak didiknya di dalam sebuah kelas, suatu hari. Berapa kali seminggu kalian membaca Al Quran? Berapa kali sebulan kalian membaca Al Quran? Berapa kali dalam setahun kalian dapat menamatkan Al Quran? Apakah pernah kalian mengerti arti yang terkadung di dalamnya? Apakah kalian sudah mengamalkannya? Kesibukan kita di dunia seperti jalan-jalan, menonton televisi, memencet gawai dan seambrek kegiatan yang bersifat duniawi dalam sehari, terlewat begitu saja, tanpa nilai ibadah.
Goresan berikut terinspirasi dua tulisan yang bisa menjadi renungan tentang pentingnya membaca, memahami, mempelajari, dan mengamalkan Al Quran sebagai pedoman hidup. Pertama, tulisan Nur Cholis Huda dalam Rumput Tetangga Tidak Lebih Hijau (2011) dan buah pena Taufik Ismail dalam Majalah Horison, Juni 2007 yang terangkum dalam himpunan tulisan Taufik Ismail, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 3 (2008).
Pada tahun 1997, Pak Taufik Ismail, salah satu sastrawan terkemuka di Indonesia, bertemu Chrisye (almarhum meninggal, Maret 2007) dalam sebuah acara. Setelah acara, Chrisye meminta tolong Pak Taufik untuk membuatkan syair religius untuk satu lagunya. Pak Taufik dikenal sangat indah membuat syair, seperti untuk grup Bimbo dan Gigi. Beliau menyanggupi sebulan selesai.
Minggu pertama, Pak Taufik tidak punya ide. Minggu kedua, macet. Ketiga macet, sampai di penghujung minggu keempat, macet juga. Beliau tidak ada ide. Beliau heran mengapa bisa seperti itu.
Pak Taufik memiliki kebiasaan rutin membaca surat Yasin. Suatu malam , putra ulama terkenal Ghafar Ismail itu, mengaji surat Yasin. Sampai ayat 65, yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim. “Ayyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidihim, wa tasyhadu arjuluhum bima kaanu yaksibuun,” beliau berhenti. Makna yang terkandung dalam ayat itu adalah “ Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan. Beliau terperangah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini sungguh luar biasa. Dihidupkan lagi pita rekaman dan segera beliau pindahkan pesan ayat itu ke dalam lirik-lirik lagu.
Ketika pita rekaman itu sudah di tangan Chrisye, terjadi peristiwa yang tidak biasa. Ketika berlatih di kamar, baru dua baris Chrisye menangis, mencoba lagi, menangis lagi. Begitu berkali-kali. Menurut Chrisye, lirik yang dibuat Taufik adalah satu-satunya lirik terdahsyat sepanjang kariernya. “Lirik yang dibuat Taufik Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus dengan melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan,”begitu kata Chrisye dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye-Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 208-209). Yanti (almarhumah, meninggal Februari 2020), istri Chrisye, sampai sok melihat hal yang tidak biasa ini. Dia kaget melihat respon suaminya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu.
Pak Taufik memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
“Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat yasin ayat 65…” kata Pak Taufik ketika mendapat telepon dari Chrisye yang gelisah sepanjang malam setelah berlatih menyanyikan syair tersebut. Pak Taufik menyarankan Chrisye agar tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Betapa tidak berdayanya manusia saat hari akhir tiba.
Di studio rekaman, kejadian serupa terjadi lagi. Chrisye mencoba, tetapi baru dua baris sudah menangis. Mencoba, menangis lagi, mencoba dan gagal lagi. Erwin Gutawa yang menunggui sampai senewen. Yanti, lalu shalat khusus mendoakannya. Dengan susah payah akhirnya Chrisye berhasil menyanyikan lagu itu sampai selesai. Rekaman itu sekali jadi, tidak diulang karena Chrisye tak sanggup menyanyikan lagi.
Al Quran adalah sastra agung, firman Allah swt yang sanggup menggetarkan hati yang bersih. Umar bin Khatab yang garang dan menghunus pedang akan membunuh Rasullullah saw, berubah lunglai dan bercucuran airmata mendengar ayat-ayat dari surat Thaha yang saat itu dibaca. Rasulullah menangis tersedu samapi subuh ketika membaca surat Ali Imran ayat 190-191. Ayat itu berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim.”inna fii kholqis-samaawa ti wal-ardi wakhtilaa fillaili wan-nahaari la’ayaatili ulil albaab. Allaziina yazkuruunallaha qiyamaw wa qu’uudaw wa ’alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii khalqis-samaawaati wal- ard, rabbanaa maa kholaqta haaza baatila, subhaanaka fa qinaa azaa ban-naar” Sesunggunhya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. “Ya Tuhan kami, tiada Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka selamatkan kami dari siksa neraka”.
Bagaimana dengan saya? Apakah hati saya bergetar atau bahkan menangis ketika Al Quran dibaca? Atau saya cuek bahkan cenderung tidak suka? Al Quran menegaskan dalam surat Al Anfal :8 yang berbunyi “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu apabila disebut nama Alllah, bergetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka tawakal”.
Mengapa hati saya tidak bergetar? Mungkin saya tidak mengerti bahasa dan sastra Arab. Mungkin saya tidak memiliki rasa seni sehingga jiwa sulit untuk tergugah oleh karya yang indah. Mungkin hati saya tidak bersih sehingga gelombang saya tak tersambung dengan gelombang Allah yang Maha Bersih. Atau barangkali ketiga-tiganya.
Saat mengaji, saya membaca Al Quran, hanya membunyikan saja. Ketika membaca surat Yasin, saya hanya membaca saja. Apakah saya mengetahui makna yang terkandung di dalamnya? Apakah saya mempelajari maksud yang ada di dalamnya? Memang, membunyikannya dapat pahala, tetapi bukankah lebih baik saya memahami makna yang ada, mempelajari, apalagi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ah, masih jauh, sangat jauh.
Ah, bulu kuduk saya berdiri. Saya pun merenungkan syair lagu ini:
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik: Taufik Ismail
Lagu: Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Ke mana saja dia melangkahnya
Tak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
Hambamu
Yang hina.
Rumahku, 31 Juli 2020
Sumber saduran:
Huda, Nur Cholis. 2011 Rumput Tetangga Tidak Lebih Hijau.
Ismail, Taufik. 2008. Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (3).
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
