tantangan(59) BU CACA
Sudah lama Bu Caca memiliki penyakit diabetes. Sejak pensiun jadi guru 3 tahun lalu, penyakit ini mulai terasa di badannya. Meskipun demikian, ia tidaklah berputus asa. Waktu luang yang ada dia gunakan untuk mengikuti pengajian ibu-ibu satu RT di kompleks rumahnya dan jalan-jalan keliling nusantara. Pernah ia pergi ke Kalimantan karena sekadar untuk bersilaturahmi dengan adiknya dan ingin mendapatkan pengalaman baru di Pulau Borneo meskipun hanya satu minggu. Ia pernah juga ke Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Bu Caca tinggal di Surabaya.
Bu Caca adalah orang yang periang. Semua orang disapanya. Tak pernah kulihat ia sedih atau duka. Tawanya selalu paling kencang dan menjadi semarak jika ia ada di antara kami. Meskipun penyakitnya bertambah, yakni terdapat gangguan jantung, namun ia tetap ceria. Ia pun tak segan-segan makan apa saja kesukaannya, mulai dari rawon, pecel, kare ayam, otak-otak, dan lain-lain.
Sudah tiga bulan ini ia menunggu operasi pemasangan ring. Namun, antrenya sangat panjang. Ia pun menunggu dengan sabar gilirannya. Ia dan suami sering bersilaturahmi ke rumah para sanak saudara, bahkan yang rumah jauhpun ia datangi.
Hari ini takbiran berkumandang di masjid-masjid, mushola, dan langgar. Esoknya, umat muslim sedunia memperingati Hari Raya Idul Adha. Kala itu, menjelang subuh, ia sudah menyetor bacaan mengaji di grup wa pengajian. Bu Caca juga mengupdate status takbiran di status wanya. Aku pun terheran-heran. Tumben, nih Bu Caca. “Ibu-Ibu, saya sudah mengaji juz ke-30. Hari ini saya sudah tamat. Alhamdulillah,” Demikian kata-kata Bu Caca di wa. Aku pun ingin membalas wa beliau, namun ragu karena hari masih gelap.
“Ah, nanti saja. Tidak baik membalas wa Bu Caca di grup dini hari,” pikirku
Tiba-tiba, aku terkejut karena ada pesan di wa grup mengajian. “Innalillaahi wainna ilaihi rojiun. Telah berpulang ke Rahmatulllah, Ibu Caca, pagi ini. Semoga almarhumah husnul khotimah dan keluarga yang ditinggal diberi kesabaran.
Aku pun tak percaya. Bu Caca begitu cepat meninggalkan kami. Ya, hari ini Allah telah menjemput salah satu hambaNya. Suami Bu Caca mendapati Bu Caca terduduk di kamar mandi. Jiwanya tidak tertolong.
“Ia sudah mandi dengan air hangat. Saya izin kepadanya untuk bersepeda putar-putar rumah. Ia pun sudah makan nasi pecel. Kami tidak mengerjakan sholat Id karena di sekitar rumah kami masih ada larangan karena pandemi” kata suami Bu Caca. Suami Bu Caca terlihat sangat tabah. Kalau dilihat dari kondisi suami Bu Caca dan Bu Caca sendiri kelihatan lebih sehat Bu Caca. Suami Bu Caca sudah memasang 5 ring di tubuhnya.
Saat jenazah Bu Caca akan diberangkatkan, datang seseorang membawa daging kurban sambil berkata,” Ini kurban milik Bu Caca.”
"Ah, hewan kurban terakhir,"batinku berbisik.
Selamat jalan, Bu Caca. Semoga Allah mengampuni dosa Ibu dan mendapatkan jannahNya. Aamiin.
Tidak ada orang yang tahu kapan Allah menjemput setiap makhukNya.
Rumahku, 13 Agustus 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
