tantangan(71) Bu Tejo dan Ghibah
Zaman kita adalah sebuah zaman yang padat dengan keluhan dan amat sedikit beristighfar. Suka mencari kambing hitam tetapi enggan evaluasi diri. Suka menuding-nuding orang tetapi enggan menerima koreksi. Suka tergesa-gesa dikejar waktu, sehingga tidak sempat sejenak untuk merenung. Bertanya, apa yang aku cari dalam hidup ini?
Demikian goresan pena Pak Nur Cholis Huda dalam bukunya Rumput Tetangga Tidak Lebih Hijau (2011). Ya, sudah lama buku ini tersimpan di lemari padahal berkali-kali saya mencarinya, namun, hari ini baru ketemu. Itupun tanpa sengaja.
Ya, sekarang zaman manusia/orang memiliki kebebasan berekspresi lebuh-lebih berkomentar. Baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun di media sosial.
Rasulullah pernah bersabda "Berkata baik, atau diam. " ya sesungguhnya lebih baik diam daripada perkataan kita menyakiti orang lain..
Sekarang, muncul Bu Tejo sebagai tokoh yang sedang viral. Tokoh dalam film Tilik ini menggelitik, ada yang simpati, ada yang antipati. Namun, dengan munculnya tokoh ini bisa menjadi pelajaran, bahwa manusia memiliki berbagai karakter ya, contohnya karakter dalam diri Bu Tejo .
Bu Tejo yang diperankan Siti Fauziah menjadi tokoh yang menjadi daya tarik. Film besutan Wahyu Agung-yang hampir seluruh adegan di atas truk yang sedang berjalan menjadi hiburan bagi siapa saja yang menonton, di tengah situasi yang tak menentu ini. Keadaan pandemi yang belum juga berakhir.
Lho, apa hubungannya dengan tulisan Pak Nur Cholis di atas? Ada, paling tidak, menjadi renungan buat kita agar hati-hati berghibah.
Dalam Al Quran surat Al Hujurat:11, Allah berfirman "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan,) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang mereka olok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Istighfar sebagai solusi. Intropeksi diri. Bertobat. Sesungguhnya semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hari pembalasan.
Bu Tejo dan kawan-kawan sebagai manifestasi kita sebagai perempuan. Perempuan yang tanpa sadar berghibah ketika sudah berkelompok. Memohon maaf pada orang yang kita perbincangkan adalah jalann terbaik. Semoga Allah mengampuni dosa kita.
Apabila siswa atau murid kita menonton film itu, kita bisa berdiskusi dengan mereka. Mana yang patut diteladani mana yang tidak. Jangan sampai memunculkan Bu Tejo-Bu Tejo baru karena ketidaktahuan mereka tentang ghibah.
Kita manusia adalah makhluk tak sempurna, namun intropeksi diri terus menerus menjadi jalan pertobatan kita.
Rumahku, 25 Agustus 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan