tantangan(102) NAIK PESAWAT PERTAMA KALI
Perkenalkan, namaku Rahmi. Hari ini, aku senang sekali karena ayah dan ibuku mengajak aku ke rumah om Yahya, sepupu ayah di Jakarta. Om Yahya akan menikah. Om mewakili kakek dan saudara-saudara ayah, yang tidak bisa hadir. Maklum, Jakarta sekarang memasuki PSBB. PSBB singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar. Aku tahu istilah ini ketika ada pertanyaan saat belajar IPS secara online dengan Pak Sultan, beberapa waktu lalu.
Calon mertua Om Yahya, mengadakan acara pernikahan yang dihadiri kerabat dekat dan tetangga saja. Tak lebih 10 orang. Sebenarnya, aku tak mau menerima ajakan ayah dan ibu karena masih ada pembelajaran daring. Namun, ayah dan ibu mengatakan bahwa perjalanan ini tidak mengganggu pelajaran daring. Aku pun sudah menempuh Ulangan Tengah Semester minggu lalu. Aku tetap mengikuti pembelajaran daring dan mengerjakan tugas-tugas dari guru meskipun tidak di rumah.
Alasan Ayah dan Ibu mengajak aku ikut karena agar mempunyai pengalaman naik pesawat dan silaturahmi kerabat. Mereka selalu memberikan informasi kepadaku ketika memasuki bandara sampai pesawat meninggalkannya. Kami pun siap membawa handy sanitizer, masker, tisu, dan peralatan untuk pencegahan covid 19. Aku pun harus selalu cuci tangan atau membersihkan tangan setelah dari toilet atau memegang barang milik orang lain atau memegang benda-benda di sekitar bandara.
Setelah membeli tiket secara online, di email ayah selalu ada informasi tentang penerbangan yang akan kami gunakan.Ayah memilih naik pesawat terbang karena ada diskon yang menarik sehingga tiketnya murah. Saat kami mengambil formulir di counter di bandara, kami berjumpa dengan penumpang yang penerbangannya ditunda, esok harinya. Bapak dan Ibu tersebut akan ke Kalimantan. Sepertinya, mereka dari luar kota. Kasihan juga. Mungkin Bapak dan ibu tersebut tidak melihat email di hp. Salah satu kegunaan alamat email kita adalah ya saat-saat seperti ini. Semua serba online selain pembelajaran daring.
Di dalam bandara, kami harus memperlihatkan surat bebas covid-19. Lalu masuk ke ruangan besar untuk mendeteksi barang bawaan. Pemeriksaan dilakukan dua kali. Saat masuk dan akan memasuki gate (pintu) ruang tunggu pesawat. Lucunya, tas ibu diperiksa karena ada satu paku di sana. Ibu baru ingat, ia membawa tepak yang di dalamnya ada sisa paku untuk ruang kelasnya. Ibuku seorang guru sekaligus wali kelas. Sebelum menaiki pesawat, kami mendapatkan face shield, yaitu alat pelindung wajah yang dibuat dari plastik.
Aku belajar tentang gate, pintu yang menghubungakan ruang tunggu dan pesawat yang akan kita naiki. Kata ayah, aku harus mengetahui hal itu karena siapa tahu kalau sudah besar nanti, bisa naik pesawat sendiri.
Aku pun belajar pula tentang istilah arrival, check in, boarding pass, baggage, delay, jenis-jenis pesawat, dan lain - lainnya. Di dalam pesawatpun ada pintu darurat, yaitu pintu yang berada di tengah badan pesawat dan akan digunakan dalam keadaan darurat. Biasanya, tempat duduk di pintu itu ditempati orang-orang yang masih muda. Begitu kata ayahku.
Banyak cerita yang ingin aku beritahu. Kapan-kapan saja ya. Pokoknya, pengalaman naik pesawat pertama kali menambah pengalamanku.
25 September 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
