Laili Rusma

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
tantangan(107) SEMANGGI SURABAYA

tantangan(107) SEMANGGI SURABAYA

Siang ini, udara cukup sejuk. Tidak seperti biasanya, cuaca panas menyengat. Tepat puku 13.00 hari ini, saat saya sedang mengoreksi tugas siswa, terdengar suara penjual semanggi menjajakan dagangannya, “ Semanggi... semanggi....!”

“Adik, apa ingin beli semanggi?” tanya saya kepada si bungsu.

“Iya, Ma. Aku mau satu porsi. Sudah lama tidak makan semanggi,” jawab si Bungsu.

“Semanggiiiii!” teriak saya dan si Bungsu hampir bersamaan.

"Masuk saja, Bu," kata saya.

"Di sini saja, Bu," kata penjual semanggi sambil menurunkan dagangannya di depan rumah.

“ Beli dua pincuk, Bu,” kata saya

“Inggih, Bu,” jawab penjual semanggi.

“Berapa satu pincuknya, Bu? “ tanya saya.

“Sepuluh ribu rupiah, Bu,’’jawab penjual semanggi.

“Hari ini kampung-kampung kok pada sepi, ya,Bu?” tanya penjual semanggi lagi.

“Iya, Bu. Kita sekarang kan pada masa pandemi. Ya, harus prihatin,” jawab saya.

Saya salut dengan semangat penjual semanggi yang tidak mengenal lelah, menyusuri kampung-kampung menjajakan dagangannya. Saya pun mengambil dingklik untuk menunggu sambil bercakap-cakap dengan penjual semanggi.

” Bu, jenengan dari Surabaya, ya? Dari Tandes, ya?” tanya saya.

“Iya, Bu, kok tahu,” selidik penjual semanggi.

“Iya, saya tahu. Umumnya, penjual semanggi dari daerah sana. Ngomong-ngomong, siapa nama Ibu?” tanya saya. Saya ingin menulis tentang semanggi pada tantangan gurusiana hari ini.

“Nama saya Bu Suminah, Bu. Saya mangkal di Gresik Kota Baru (GKB), dekat penjual bubur kacang ijo. Di sana, ada spanduk bertulis Semanggi Bu Sum. Kalau sudah siang, saya keliling,” kata Bu Suminah.

“Kira-kira, Ibu pulang pukul berapa?” tanya saya

“Ya, pukul 3 sore, Bu. Alhamdulillah, biasanya saat itu sudah habis,” jawab Bu Suminah.

"Alhamdulillah," mengulang apa yang diusapkan Bu Suminah, sebagai ucapan syukur.

“Sampun, Bu,” kata Bu Suminah sambil menggendong keranjang semangginya lagi.

Ternyata, satu pincuk semanggi banyak juga. Tidak mungkin si Bungsu menghabiskan semua. Akhir saya dan si Bungsu bupungan. Satu picuk lagi dimasukkan ke kulkas untuk suaminya yang pulang nanti sore.

Semanggi adalah salah satu makanan khas Surabaya. Bahkan, ada lagu yang mengisahkan makanan ini. Lagu Semanggi Suroboyo merupakan sebuah lagu keroncong yang diciptakan oleh S. Padimin pada era 50-an. Lagu ini merupakan salah satu lagu keroncong yang bercerita tentang makanan atau kuliner, sebuah tema jarang digunakan menjadi tema lagu keroncong. Begini liriknya,

semanggi suroboyo, lontong balap wonokromo

di makan enak sekali, sayur semanggi krupuk puli

bung… mari....

harganya sangat murah, sayur semanggi suroboyo

didukung serta dijual, masuk kampung, keluar kampung

bung.. beli…

sedap benar bumbunya dan enak rasanya

kangkung turi cukulan dicampurnya

dan tak lupa tempenya

mari bung, coba beli, sepincuk hanya setali

tentu memuaskan hati

mari beli, sayur semanggi, bung… beli…

Lagu ini pernah dinyanyikan oleh Titik Wijono, Mus Mulyadi, Cak Supali dengan Jula-julinya. Ini saya dapatkan dari pencarian di google. Lirik lagu Semanggi Suroboyo cukup sederhana. Amanat yang disampaikan cukup jelas, yakni menceritakan tentang makanan bernama semanggi. Adapun lontong balap wonokromo hanya sebagai pelengkap lirik lagu.

Mungkin anak-anak muda sekarang, jarang yang mengenal sayur atau daun semanggi. Dalam youtube **(censored)** nyanyian lagu Semanggi disertai dengan kisah bagaimana cara mengolah makanan semanggi, mulai mengambil sayuran semanggi di sekitar kebun sampai dijajakan keliling kampung.

Lagu ini mengingatkan kita bahwa Surabaya yang dulunya daerah agraris dengan rawa-rawanya, berubah menjadi kota metropolis. Kita hanya bisa menjumpai daun semanggi di pinggiran kota Surabaya.

Lirik lagu ini menarik karena menceritakan bahan-bahan pebuatan semanggi, seperti daun semanggi, kerupuk puli atau rempeyek, kecambah, tempe, dan bumbu yang terbuat dari kacang dan ubi jalar.

Adapun **(censored)** adalah jula-juli yang dibawakan oleh Supali, salah seorang seniman ludruk dari Jawa Timur.

Sepertinya, makanan ini makin lama makin sedikit penjualnya. Yang saya ketahui di Gresik ini adalah di GKB dan di kawasan PT Petrokimia. Itupun, penjualnya sudah sepuh-sepuh.

Semoga makanan ini tetap lestari. Aamiin.

Gresik, 30 September 2020

Catatan;

Pincuk adalah wadah dari daun pisang yang dilipat menjadi segitiga, seperti kerucut dengan sematan lidi di bagian ujungnya.

dingklik adalah bangku pendek untuk duduk.

Bupungan adalah makan bersama dalam satu wadah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post