tantangan(83) KENALKAN BUKU SEJAK DINI PADA ANAK
Rumah merupakan madrasah pertama anak-anak. Mereka mulai belajar mengenal segala hal baru dalam hidupnya, dari rumah. Penulis bersyukur mengenal buku dari orang tua. Majalah Tempo, Prisma, Intisari, Penjebar Semangat, Bobo, Ananda, Hai, Donald Bebek, adalah bacaan-bacaan yang ada di rumah, saat penulis masih kecil. Entah berlangganan atau sekadar membeli di toko buku. Orang tua secara langsung/sadar atau tidak, memperkenalkan bacaan-bacaan itu pada anak-anaknya.
Ketika itu, penulis heran dengan majalah Prisma. Orangtua berlangganan. Majalah ini jarang ada gambarnya dan penulis tidak mengerti isinya. Ternyata, setelah besar, penulis baru tahu, majalah ini berupa jurnal, diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan sempat berhenti tahun 1998.
Kini, memantik anak-anak untuk gemar membaca, kami terapkan juga di rumah. Ketika anak-anak masih di sekolah dasar saat hari libur, kami kerap mengajak mereka ke perpustakaan daerah dengan menaiki mikrolet. Anak anak sangat senang. Kami bisa meminjam buku sampai 8 buku karena tiap peminjam maksimal 2 buku dan ada 4 kartu anggota yang kami punya.
Kami menawarkan anak-anak untuk mendapatkan buku yang mereka suka. Detektif Conan dan Naruto adalah koleksi terbanyak di rumah. Mereka juga suka dengan filmnya di televisi. Penulis pun ikut-ikutan membaca dan melihat filmya. Bahkan anak-anak sering menyanyikan sound track Naruto bersama-sama. Penulis juga ikut menyanyi meskipun dengan berucap Na… na…na. Yang penting, ikut nimbrung hehe.
Sebelum pandemi covid-19 mewabah, kami selalu memiliki jadwal untuk ke toko buku di jalan Basuki Rachmat, Surabaya. Paling tidak satu bulan sekali. Anak-anak lebih suka ke toko buku daripada ke mal. Terkadang, kami juga blusukan ke Blauran dan jalan Semarang Surabaya untuk sekadar jalan-jalan atau mendapatkan buku yang kami cari.
Tabungan yang mereka punya, sebagian besar untuk membeli buku. Buku-buku yang sesuai dengan kantong mereka, juga saku kami hehe. Anak-anak tak pernah les di luar rumah. Mereka mengerjakan latihan soal dari buku yang mereka beli di toko.
Artikel si Sulung pernah dimuat di Harian Surya (31/12/2016). Saat itu, ia duduk di kelas X. Ia menulis tentang Masjid Namira, Lamongan. Ketika kelas XI, Ia bersama teman-temannya mendapat tugas dari guru membuat antologi cerpen. Judul cerpennya “Tak Biasa tetapi Ada” dipilih teman-temannya menjadi judul di sampul depan. Cerpennya bercerita tentang seorang sahabat, penggemar bus dan hunting bus-bus keren sampai lupa belajar.
Si bungsu suka membaca cerpen di wattpad. Ia sudah memiliki buku solo kumpulan cerpen berjudul “Maaf, Moka”, hasil pelatihan satu siswa satu buku Angkatan 1 yang diselenggarakan oleh MediaGuru, Mei 2020. Salah satu cerpennya bercerita tentang makanan khas dan souvenir Jepang.
Biarkan anak-anak berjalan mengikuti “passion” mereka. Namun, nilai agama tetap diterapkan dan didisiplinkan agar menjadi kebiasaan. Mereka wajib membaca Al Quran setelah salat maghrib dan membiasakan diri untuk salat berjamaah awal dan setiap waktu.
Pernah, ketika Ramadan, kami mengadakan lomba menamatkan Al Quran satu bulan dengan hadiah buku. Saat itu, mereka menginginkan buku Harry Potter episode terakhir, kisah Voldemort, tokoh jahat, tewas.
Rumah adalah madrasah pertama anak-anak. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q.S.Al Nahl:78).
Ketika manusia dilahirkan tidak benar-benar dalam posisi kosong. Ada potensi prinsip berpikir yang akan terwujud seiring perkembangan jiwa dan fisiknya. Potensi prinsip berpikir inilah yang bisa diartikan sebagai fitrah manusia yang dibawa sejak dilahirkan. Orangtualah yang berperan besar dalam membangkitkan potensi diri anak tersebut. Sinergi ayah dan ibu. Orangtua berikhtiar. Lalu berserah diri padaNya.
Rumahku, 6 September 2020
**(censored)**
Tentang Penulis:
Laili Rusmawaty, adalah guru bahasa Indonesia dan pengurus perpustakaan SMAN 1 Kebomas, Gresik. Korespondensi dapat melalui email **(censored)**.


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
