tantangan(150) TAK SELAMANYA MENJADI ANAK PENURUT
Toge Aprilianto, psikolog anak, mengatakan bahwa mendidik anak agar bersikap patuh dan menuruti segala yang dikatakan orangtua sama halnya dengan mengendarai delman, semua serba dikendalikan. Apakah baik untuk perkembangan jiwanya?
Seto Mulyadi atau akrab dpanggil Kak Seto pernah diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta menjelaskan bahwa, jangan pernah bermimpi punya anak penurut. Tapi bermimpilah punya anak yang bisa diajak bekerjasama.
Dalam perkembangan psikologi anak, menjadi anak yang penurut adalah hal itu tidak baik. Anak akan menjadi anak yang tidak mandiri dan tergantung kepada orangtuanya. Ia tidak memiliki inisiatif dan kreativitasnya terkukung. Namun, anak yang mau diajak kerjasama adalah anak yang peduli dan menghormati orangtua yang membutuhkan pertolongan. Karena itu, melibatkan anak melakukan pekerjaan di rumah dengan memberi peluang anak untuk memilih pekerjaan itu (misalnya menyapu, mengepel, mencuci baju, dan lain-lain) adalah tindakan yang tepat.
Ada anak ketika di rumah, ia menjadi anak yang penurut, namun di sekolah, ia menjadi anak pembangkang dan agresif. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi orangtua untuk intropeksi diri. Sebagai guru, harus memiliki kejelian terhadap tingkah laku siswa dan menggali informasi mengapa siswatersebut menjadi seperti itu dan mencari jalan keluar, bekerjasama dengan orangtua.
Tiap anak memiliki karakter masing-masing. Orangtua dan gurulah yang dapat memberikan rasa nyaman untuk tumbuhkembang kejiwaan dan kepribadian mereka. Orangtua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Kita lebih baik banyak mendengar dan memberikan kesempatan kepada anak tetang apa yang diiginkan kemudian didiskusikan.
Selama ini, banyak orangtua yang menuntut agar nilai rapor anak memuaskan terutama pada pelajaran matematika dan pengetahuan alam. Bahkan orangtua memberi kekerasan fisik pada anak. Ketakutan pada anak membuat anak menjadi pribadi yang tertutup, pendiam, dan tidak dapat menyelesaikan maslahnya sendiri.
Saya teringat film “I Not Stupid” (Singlish) produksi Singapura. Film ini menjadi alternatif tontonan bagi orangtua dan guru. Saya masih ingat, saat anak saya sekolah dasar, ada kegiatan parenting di sekolahnya. Ketika pulang, kami mendapatkan VCD film tersebut. Ternyata, film itu ada kelanjutannya yakni I Not Stupid 2, yakni kisah tokoh –tokoh dalam film tersebut yang telah beranjak remaja. Banyak hikmah yang kita dapatkan setelah menonton film ini.
Memang tak mudah menjadi orangtua. Namun sebagai orangtua, harus tahu karakter anak kita. Demikian juga dengan siswa. Semoga kita menjadi orangtua atau guru yang memberi kebebasan pada anak/siswa melakukan sesuatu dengan memberitahu segala risiko yang ia hadapi sesuai dengan tanggung jawab yang diembannya. Tak selamanya menjadi anak penurut. Perlu kita dengarkan keluh kesahnya.
Rumahku, 11 November 2020
Catatan: Penulisan I Not Stupid bukan I’m Not Stupid karena di Singapura dikenal dengan Singlish, bahasa percakapan di Singapura, perpaduan bahasa Inggris dan Mandarin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
