tantangan(152) MELIHAT DUNIA DENGAN SUDUT PANDANG BERBEDA
Mengapa kita harus membaca? Mengapa kita harus bersosialisasi dengan orang lain? Mengapa kita dianjurkan untuk mendengarkan nasihat, tausiah dalam sebuah majelis ilmu baik ilmu dunia maupun tentang agama? Semua itu berguna agar dapat mengambil pelajaran dari apa yang kita baca, kita dengar, dan kita pahami dari bergaul dengan orang lain.
Hari ini saya membaca sebuah kisah yang berjudul Tembok Kosong buah karya Irwan Widiatmoko, Mr Super Great Memory, pemegang Rekor Muri Daya Ingat Pertama, dalam bukunya yang berjudul Terapi Berpikir Positif in Comic (2014). Cerita dimulai dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di rumah sakit.
Seorang di antaranya menderita sakit pernafasan, yang mengharuskan duduk satu jam setiap sore untuk mengosongkan cairan di paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela kamar. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya yang patah, sehingga jauh dari jendela dan tak bisa melihat pemandangan di luar.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela, bercerita tentang apa yang dilihatnya kepada teman satu kamar yang hanya bisa berbaring. Pria yang duduk di dekat jendela, bercerita tentag betapa luas dan indahnya di luar sana. Pria kedua sangat senang dengan cerita temannya tersebut.
Pria pertama itu bercerita tentag keadaan di luar dengan detil, sedangkan pria yang berbaring, memejamkan mata sambil membayangkan semua keindahan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, semangat hidupnya bertambah.
Suatu pagi, perawat mendapati pria yang sering duduk dekat jendela tersebut, meninggal dengan tersenyum. Perawat itu sedih karena pria itu sangat baik. Begitu pula dengan pria yang tidak bisa bangun, merasa sedih juga karena tidak bisa mendengarkan cerita temannya tersebut.
Kemudian, pria kedua itu meminta pada perawat untuk memindahkannya ke tempat tidur dekat jendela. Dengan senang hati, perawat itu menuruti kemauannya. Saat semua sudah selesai, ia meninggalkan pria tadi di dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria itu memaksanakn diri untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela seperti yang pernah diceritakan oleh temannya yang sudah meninggal itu.
Tiba-tiba, ia terkejut karena jendela itu menghadap tembok kosong.
"Mengapa Bapak itu selalu bilang kalau di balik jendela ini ada pemandangan yang indah?" tanya pria tersebut kepada perawat.
"Oh, Bapak itu. Ia memang selalu begitu, Pak. Ia ingin Anda memiliki semangat hidup. Walaupun tak dapat melihat, beliau selalu memberi semangat pada orang lain dengan kisah-kisahnya yang indah, agar selalu bersyukur pada Tuhan. Meskipun beliau tunanetra, hatinya mampu melihat seisi dunia.
Ya, dari kisah di atas, bisa diambil pelajaran bahwa ada oang yang selalu mengeluh. Namun, di sisi lain ada yang selalu bersyukur. Kalau selalu mengeluh, dapat merusak diri sendiri, bahkan orang lain. Sedangkan yang satuya membangun diri sendiri dan orang lain dengan selalu bersyukur dan memberi semangat kepada orang lain.
Ah, kisah itu memberi hikmah. Apakah kita termasuk orang yang suka mengeluh atau pandai bersyukur?
Rumahku, 13 November 2020
Sumber
Widiatmoko, Irwan. 2014. Terapi Berpikir Positif in Comic. Jakarta: Penerbit Change
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan