tantangan(158) SURAT PERJANJIAN
Akhir-akhir ini udara terasa panas meskipun hari sudah malam. Hujan juga jarang datang padahal sudah memasuki musim hujan. Keluarga Pak Jaka pun sering duduk-duduk di teras rumah untuk menghirup udara segar. Udara di dalam rumah memang tak sesegar udara di luar. Seperti biasanya, setelah sholat isya berjamaah di rumah, keluarga Pak Jaka, bercengkrama di luar sambil bercakap-cakap.
Rahmi, anak bungsu Pak Jaka, bisik-bisik kepada Pak Jaka. Ia ingin Uminya tidak mendengar percakapan mereka berdua. Namun, Bu Jaka tidak kehabisan akal. Ia pura-pura tertidur sambil menyandarkan tubuhnya di dinding teras rumah.
"Abi, aku janji deh, ngak akan beli apa-apa lagi," kata Rahmi berbisk pada Abinya.
"Ingin beli apa?" yanya Pak Jaka penasaran.
"Aku ingin sepatu, gitar, dan rak buku," kata Rahmi.
"Lho, kok banyak permintaannya?"
"Iya, Bi. Habis, ini sepatuku cuma satu, sekarang kekecilan. Kalau sudah masuk sekolah lagi, sepatu itu tidak akan muat. Untuk gitar, Abi pernah janji membelikanku gitar kalau sudah bisa bermain gitar lebih dari 3 lagu. Itu, punya Kak Rahman sudah tidak bisa dipakai lagi. Rak dipakai untuk meletakkan buku. Masa buku-bukuku diletakkan di kardus. Tuh, rak lama sudah tidak muat," kata Rahmi meyakinkan Abinya.
Pak Jaka memang melatih anak-anaknya untuk berhemat. Apalagi pada masa pandemi ini. Ia bersyukur kalau anak-anaknya menyadari kondisinya saat ini. Memang, ia dulu pernah berjanji untuk membelikan Rahmi gitar kalau sudah mahir. Gitar Rahman, anak sulungnya, memang sudah tak karuan nadanya.
"Bagaimana, Abi, boleh tidak?" tanya Rahmi merajuk.
"Eeehhhmm begini. Kalau sudah dibelikan ketiga benda itu, apa keinginan kamu selanjutnya?" tanya Pak Jaka.
"Aku nggak mau apa-apa lagi, Bi," jawab RAhmi.
"Sampai kapan? Lima tahun lagi?" tanya Pak Jaka sambil bergurau.
"Kok lama sekali, ya tidak mau, Bi," kata Rahmi.
" Ok. Tiga tahun lagi," kata Pak Jaka sambil masuk ke dalam rumah. Ternyata Pak Jaka mengambil pulpun dan buku agendanya.
"Ok. Ini, tulis di sini. Ini surat perjanjian bahwa kamu tidak akan meminta beli-beli lagi selama 3 tahun. Kalau bicara sih bisa dibantah. Tapi kalau tulisan, tidak bisa," kata Pak Jaka sambil menyodorkan kertas dan pulpennya ke anak bungsunya.
"Lho, kok pakai begini, Bi?" tanya Rahmi.
"Iya, pakai begini. Biar kamu tahu dan ingat. Tidak boleh melanggar isi surat perjanjian," kata Pak Jaka lagi.
Lama sekali Rahmi berpikir. Ia menimbang-nimbang apa yang akan ia tulis. Akhirnya Rahmi berkata," Okelah, Bi. Aku mau sepatu saja. Biar bukunya masih di kardus. nanti aku akan mencoba buat rak dari kardus. Abi bantu ya?" kata Rahmi.
"Lho, bagaimana dengan gitar?" tanya Abi penasaran, ingin tahu jawaban anak bungsunya itu.
"Untuk gitar, nggak usahlah, Bi. Pakai punya Kak Rahman saja dulu. Aku akan menabung meskipun selama ini tidak dapat uang jajan, kan pandemi hehe," kata Rahmi.
Pak Jaka pun memeluk Rahmi. Ia tidak kuasa menahan haru atas jawaban anak perempuannya itu. Ia bersyukur bahwa Rahmi mengerti keadaannya sekarang. Pak Jaka berjanji dalam hati, akan membelikan gitar pada anaknya tersebut karena Rahmi sangat berbakat.
"Besok, tidak perlu buat rak dari kardus, tapi Abi buatkan dari triplek. Abi masih punya beberapa triplek dan kayu sisa perbaikan lagit-langit rumah yang rusak.
"Terima kasih, Abi. Abi baaaikkk, deh," kata Rahmi mempererat pelukannya.
"Eh, ada apa. Kok gembira sekali," kata Bu Jaka sambil membuka matanya.
"Rahasia kita berdua, Umi," kata Rahmi pada Bu Jaka.
"Iya, rahasia, ya?" kata Pak Jaka sambil mengerjapkan matanya.
Ketiganya pun tertawa bersama.
Rahman yang baru saja mengikuti kuliah daring di malam hari, terheran-heran melihat Abi, Umi dan adiknya tertawa bersama.
Rumahku, 19 November 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan