tantangan(179) JUJUR ADALAH HAL YANG UTAMA
JUJUR ADALAH HAL YANG UTAMA
Oleh Laili Rusmawaty
Guru SMAN 1 Kebomas, Gresik
Beberapa tahun terakhir ini bangsa ini mengalami penurunan karakter, terutama karakter jujur, hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya kasus korupsi, dari kasus yang ada pada tahun 2014- 2015 tercatat 803 kasus angka ini meningkat dari tahun 2012- 2013 dengan angka 229 kasus yang ada. Pada tahun 2017, lembaga Survey and Ekonomic Risk Consultancy, memberikan predikat kepada Indonesia yaitu Negara terkorup di Asia Pasifik. Terakhir, Desember 2020 ini, kasus Menteri Sosial menjadi tersangka Kasus Bansos Covid-19 menjadi indikasi bahwa nilai-nilai kejujuran masih menjadi batu sandungan dalam membangun suatu bangsa.
Pendidikan karakter khususnya kejujuran ditanamkan sejak dini. Mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Penegakan hukum yang benar dapat menjadikan efek jera bagi pelakunya. Peran sekolah sebagai lembaga pendidikan seharusnya dapat mencetak generasi yang jujur yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Misalnya dalam mengerjakan ulangan atau penilaian, menghadirkan kantin kejujuran, dan sebagainya sebagai salah satu praktik mengedepankan nilai-nilai kejujuran.
Saya teringat salah satu guru saya di SMA kelas 2. Beliau bernama Pak Fauzi. Pengajar fisika. Beliau adalah orang yang sangat ditakuti oleh teman-teman karena ketika mengajar tidak ada satupun kata terucap dari lisan kami. Ketika beliau menerangkan materi di papan tulis, tak ada yang bertanya. Padahal, seandainya bertanya, Pak Fauzi pasti akan menjawab. Ketakutan lebih dulu menguasai kami.
Kami pun pagi-pagi sekali untuk menyontek jawaban teman terpandai di kelas kalau ada soal fisika sebagai pekerjaan rumah. Hampir semua siswa melakukannya. Yang penting mengerjakan soal meskipun sering kami tidak paham
Ketika Pak Fauzi hadir di kelas, beliau berkeliling melihat jawaban kami semua. Mungkin beliau tahu apa yang terjadi bahwa kami semua menyontek sehingga jawaban hampir sama semua. Beliau hanya berkata,” Salah semua!” Lalu beliau memberi jawaban yang benar di papan tulis.
Momok yang paling menakutkan adalah mengerjakan soal ulangan fisika. Soalnya pun hanya 2 – 3. Tak ada yang menoleh ke kiri dan ke kanan. Saya pun sampai sekarang heran, mengapa kami semua takut pada Pak Fauzi. Padahal beliau orang yang ramah. Sebenarnya, saya tidak takut pada beliau. Hanya suasana kelas yang sunyi dan kabar Pak Fauzi yang tegas itu membuat saya takut juga.
Nilai rapor fisika kami satu kelas, ada yang 4 dan 5. Nilai 6 dan 7 hanya bisa dihitung dengan satu jari. Saya mendapatkan nilai 5. Namun, saat itu saya saya tidak sedih. Saya mengakui bahwa memang saya benar-benar tidak memahami pelajaran fisika. Kalau tidak bisa, ya harus belajar sungguh-sungguh.
Pengalaman ini membuat saya menarik simpulan bahwa jujur adalah hal utama. Kalau kita memang tidak memahami materi yang diajarkan guru, dan mendapatkan nilai rendah, itu karena kita belum sungguh-sungguh dalam belajar. Belajar adalah proses. Bertanya kepada guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, sangat diperlukan agar kita paham. Tak perlu takut pada guru.
Dari pengalaman saat sekolah itu, setelah menjadi guru, saya selalu memberi peluang siswa untuk bertanya dan berpendapat saat pelajaran berlangsung. Atau saya akan memberi pertanyaan satu persatu kepada siswa secara acak. Namun, saya meniru sikap Pak Fauzi agar siswa mengerjakan soal dengan jujur. Mendapatkan nilai jelek itu wajar. Dibutuhkan ketekunan. Kalau mereka ada masalah, saya dekati mereka.
Dalam kegiatan yang melibatkan siswa sebagai panitia, saya juga menuruh siswa berlaku jujur dalam membuat laporan. Kalau ada saldo dari uang sekolah, harus dikembalikan.
“Anak-anak, berbuat jujur atau tidak. Orang lain mengetahui atau tidak, jangan lupa, Allah akan melihat semua yang kita lakukan. Di akhirat kelak, ada hari pembalasan, jangan lupakan itu. Kalau dulu kalian suka menyontek, hari ini dan seterusnya, jangan dilakukan. Kalau kalian belajar dengan kesungguhan hati, pasti bisa,” demikaian kata-kata yang sering saya sampaikan pada siswa.
Terima kasih Pak Fauzi.
Rumahku, 10 Desember 2020
Tentang Penulis
Laili Rusmawaty, S.S.,M.Pd adalah guru bahasa Indonesia dan pengurus perpustakaan sekolah di SMAN 1 Kebomas, Gresik.
Buku yang dibuat Greget Menulis. Antologi (2018), Pepustakaan Sekolah Ruang Keren untuk Mengenal Dunia (2019), Dari Film Pendek Hingga Pandai Sikek: 62 Best Prectice Pembelajaran Paling dicari di Indonesia. Antologi (2019), Ramadhan Bersama Anak. Antologi (2019), Bersama Merajut Pelangi. Antologi (2020), Satu Derap Seribu Giat Guru Penggerak Menjawab. Antologi (2020). Berteman dengan Semut (2020), Duniaku dalam 350 Kata Serpihan Tulisan Citizen Reporter Harian Surya (2020) Terbanglah Tinggi untuk Mengenal Dunia. Antologi (2020). Korespondensi dapat melalui email **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan