Laili Rusma

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
(9) BIBLIOMANIA DAN TSUNDOKU
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.pngdownload.id%2Fdownload%2Fcartoon-books.html&psig=AOvVaw00mDnIHgPt42fvwPZilPDr&ust=1611413374935000&source=images&cd=vfe&ved=0CAMQjB1qFwoTCOC4wOTkr-4CFQAAAAAdAAAAABAJ

(9) BIBLIOMANIA DAN TSUNDOKU

Bibliomania dan Tsundoku adalah istilah-istilah yang berhubungan dengan buku. Sebagai guru, kita sering membeli buku atau mengoleksi buku. Apakah kita sudah membaca semua buku yang kita beli? Lho, apa hubungannya dengan kedua istilah tersebut?

Bibliomania adalah istilah untuk orang-orang yang membeli buku namun tidak sempat membacanya. Dalam bahasa Jepang, disebut Tsundoku. Kata Tsundoku berasal dari dua kata, yaitu tsunde-oku yang berarti 'dibiarkan menumpuk untuk nanti' dan dokusho, yaitu 'membaca buku'. Jika digabungkan, Tsundoku dapat diartikan sebagai membeli bahan bacaan dan menumpuknya.

Seorang pengajar dari University of London, Andrew Gerstle mengatakan kalau istilah Tsundoku pertama kali ditemukan di teks berbahasa Jepang pada 1879.

Walaupun mirip, sebenarnya istilah Bibliomania dan Tsundoku berbeda. Bibliomania digambarkan sebagai niat untuk mengumpulkan atau mengoleksi buku saja tanpa membacanya. Sedangkan seseorang yang mengalami Tsundoku dan memiliki tumpukan buku yang belum dibacanya di rumah melakukan hal itu karena ketidak sengajaan. Karena tidak ada istilah Tsundoku dalam berbahasa Inggris, istilah bibiliomania sering dianggap sama dengan istilah Tsundoku.

Banyak orang yang juga menggunakan istilah Tsundoku untuk barang-barang seperti pakaian, bahkan film yang belum ditonton maupun game yang belum dimainkan.

Januari 2019 lalu, Serial Tidying Up with Marie Kondo di Netflix mengundang beragam komentar dari penggemar. Marie Kondo adalah konsultan tata rumah asal Jepang dan pencipta metode KonMari (merapikan rumah), yang mengunjungi beberapa rumah dan membantu penghuninya menata dan merapikan rumahnya. Disebutkan di serial tersebut, tokoh Marie menyarankan kita hanya butuh 30 buku.

Frank Rose, seorang lelaki tua pensiunan pegawai negeri warga Amerika Serikat, mengalami masalah Tsundoku ini. Sesudah pensiun, ia membeli begitu banyak buku. Ia memiliki harapan bahwa akan membaca buku-buku tersebut saat pensiun.

Rose akan menyumbangkan 13.000 bukunya untuk Perpustakaan Dimick jika ia meninggal nanti. Tetapi, Rose memutuskan bahwa ia tidak ingin menunggu lebih lama. Para relawan perpustakaan mulai mengemas buku-buku Rose sebanyak 500 boks besar. Ini adalah donasi terbesar dalam sejarah perpustakaan itu.

Rumahku, 22 Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post