(58) DEMI WAKTU
Sudah lama Bu Bejo tidak membuka-buka terjemahan Al Quran. Tiba-tiba, ia sampai pada surat Al Asr,
Demi waktu
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran
Sontak saja, Bu Bejo seakan-akan baru tahu isi surat tersebut. Ia menyadari telah lama tidak membuka-buka terjemahan Al Quran. Tadi sore, kali pertama ia mengikuti pengajian perkumpukan Ibu-Ibu majelis taklim yang fokus pada Al Quran dan tafsirnya.
Pengajian baginya merupakan oase. Bu Bejo jarang sekali mengikuti pengajian karena pendemi covid-19. Namun ia kerap mendengarkan ceramah agama sebagai pengisi dahaga dan tamparan baginya apakah ia benar-benar seorang muslim yang telah menjalankam kewajiban atau belum.
Selama ini ia sibuk main hp, mengisi waktu dengan percuma dan melakukan sesuatu mengejar dunia. Ia menyadari sisa waktunya tidak begitu banyak. Hampir setengah abad akan ia lalui 3 tahun lagi.
Ah, selama ini, apa yang ia lakukan? Bermanfaatkah bagi orang banyak? Atau hanya ingin mendapat pujian dan kesenangan dunia?
Bu Bejo tergidik.Ia teringat dengan teman, tetangga, bahkan orangtuanya yang meninggal husnul khotimah. Bisakah ia seperti itu?
Tanpa terasa, air matanya meleleh. Sesungguhnya ia mengerjakan sesuatu sia-sia saja jika ingin mendapat pujian dan sanjungan orang.
Ah, ia pun tafakur. Mengoreksi diri. Hanya diri sendiri dan Allah saja yang tahu kekurangannya. Ia tak boleh lalai karena Allah telah menutupi aib-aibnya. Karena itu, sejak dulu, ia tak mau membicarakan aib orang lain karena masih banyak aib yang ada dalam dirinya dan harus diperbaiki.
Sesungguhnya mendengarkan tausiah dalam pengajian atau nasihat-nasihat yang baik membuat hidup lebih tenang dan optimis untuk meraih masa depan di akhirat kelak.
Sesungguhnya, manusia masuk ke surga bukan karena amal kebaikannya, tetapi karena rahmat Ilahi. Namun demikian, tidak serta merta ia berpangku tangan dan lupa diri. Sesungguhnya manusia hidup untuk beribadah kepadaNya. Apapun yang dilakukan selayaknya bernilai ibadah.Beruntunglah manusia yang mempersiapkan diri lebih awal karena mereka tidak tahu kapan ajal menjemput.
Ya, itulah tausiah yang diberikan ustadz tadi sore. Bu Bejo pun mulai menulis simpulan di buku catatannya. Catatan itu penting buat dirinya sendiri, sewaktu-waktu dibaca lagi. Atau mungkin bisa dibaca orang lain di kemudian hari.
Rumahku, 12 Maret 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
