(87) TRADISI UNIK DI GRESIK SEBAGAI WUJUD KEGEMBIRAAN MENYAMBUT RAMADHAN
TRADISI UNIK DI GRESIK SEBAGAI WUJUD KEGEMBIRAAN MENYAMBUT RAMADHAN
Oleh: Laili Rusmawaty,S.S.,M.Pd.
Setahun lalu, 18 April 2020, saya menulis artikel tentang Ramadhan Tak Biasa di blog gurusiana. Memang, satu tahun lalu, kali pertama kita menyambut Ramadhan pada masa pandemi covid-19. Ada gurauan di grup wa. Masa pandemi ini, manusia lebih dulu dikurung daripada setan sebelum jumpa Ramadhan.
Ini kali kedua kita menyambut Ramadhan, yang sebentar lagi tiba. Namun, ada secercah harapan karena kita sudah berdamai dengan covid-19.
Surya (8/04/2021) memberitakan bahwa pemerintah memperbolehkan kegiatan salat tarawih, salat Idul Fitri berjamaah, pengajian, peringatan Nuzulul Quran, pengumpulan dan penyaluran zakat, infak, dan sedekah, tetapi tetap memerhatikan protokol kesehatan dan menghindari kerumunan masa. Semoga begitu pula dengan tradisi di Gresik bisa diselenggarakan.
Ya. Saya ingat beberapa tradisi unik di Gresik, yang menjadi kenangan terindah saat masih kecil bahkan menjadi salah satu tugas menulis untuk siswa saya. Tradisi tersebut di antaranya:
Damar Kurung
Bila lampion khas warga Tiongkok adalah lampu bentuk bulat agak lonjong ke samping atau ke bawah berwarna merah. Namun, di Gresik terdapat lampion berbentuk persegi yang disebut damar kurung. Damar kurung berbentuk persegi dengan ukiran kayu tipis di atasnya. Seluruh sisinya dihiasi dengan lukisan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Gresik terutama saat Ramadhan.
Damar yang berarti lampu yang mengeluarkan cahaya dari api kecil, sedang Kurung diartikan seperti tempat hewan tinggal, misalnya burung (bentuknya mirip seperti kurungan manuk/ burung). Jadi secara keseluruhan, damar kurung memiliki makna lentera berbentuk kurungan dengan cara digantung.
Saat kecil, hampir tiap tahun orangtua saya membelikan benda ini. Bersama adik-adik dan teman-teman di kampung, saya memasang lampion pada malam hari dan dipajang di depan rumah.
Saya masih ingat ketika pertama kali menjadi guru, saya penasaran dengan lampion ini. Saya datangi rumah Mbah Masmundari, pelukis damarkurung. Namun sayang, saya belum bisa berjumpa. Saya masih bersyukur karena tahu rumah beliau dan mendapatkan damar kurung.
Beberapa tahun lalu, ketika ulang tahun SMAN 1 Kebomas Gresik, kami mengadakan festival Damarkurung dengan memajang damar kurung di halaman sekolah.
Pasar Bandeng
Pasar Bandeng adalah salah satu tradisi atau kebiasaan yang ada di Gresik. Pasar Bandeng hanya ada di bulan Ramadhan. Saat itu, ada pasar dadakan yang menjual bandeng. Sekarang, bila ada Pasar Bandeng, bandeng-bandeng itu dilombakan. Pemilik bandeng terbesar dan terbaiklah yang mendapatkan juara.
Sejarah munculnya tradisi pasar bandeng ada banyak versi. Versi pertama menyebutkan adanya tradisi mudik atau pulang kampung menjelang lebaran tiba. Ketika itu santri-santri Sunan Giri di pondok pesantren Giri Kedaton juga mudik. Mereka membawa oleh-oleh badeng karena di Gresik memiliki tambak yang menghasilkan bandeng berkualitas tinggi. Kemampuan ini pun diajarkan oleh Sunan Guru kepada masyarakat Gresik yang wilayahnya berada di pesisir.
Versi kedua dari tradisi pasar bandeng ini menyebutkan bahwa tradisi ini ada sejak Syekh Djalaluddin atau Buyut Senggulu yang juga masih keturunan dari Sunan Giri. Syekh Djalaluddin ini merupakan seorang pendakwah yang menyebarkan agama Islam di daerah Trate. Beliau mempunyai tiga orang putri bernama Nyai Werugil, Nyai Anger dan Nyai Mas.
Salah satu putri Syekh Djalaluddin yang bernama Nyai Mas menikah dengan salah satu putra keturunan kerajaan Islam Palembang bernama Kyai Qomis. Karena kedekatan antara kedua keluarga sangat erat, setiap tahun menjelang lebaran keluarga Kyai Qomis yang dari Palembang datang ke Gresik dengan membawa banyak orang. Karena banyaknya orang yang datang inilah masyarakat Gresik memanfaatkannya untuk berjualan bandeng.
Ketika almarhum nenek saya masih hidup, beliau menghadiahkan bandeng kepada besan yang tinggal di Gresik. Beliau juga membeli beberapa bandeng untuk dimakan saat Lebaran saat anak dan menantu datang. Nenek memasak bandeng dengan air dan garam saja. Bandeng itu dimasak sampai empuk. Masakan itu bernama Pindang Bandeng. Sungguh lezat terasa. Apalagi dimakan dengan sambal terasi.
Gresik, 10 April 2021
Tentang Penulis
Laili Rusmawaty adalah guru SMAN 1 Kebomas Gresik. Pernah menjadi guru SD Muhammadiyah GKB Gresik. Beberapa karyanya adalah Perpustakaan Sekolah Ruang Keren untuk Mengenal Dunia (2018), Berteman dengan Semut, Kumpulan Cerita Pendek Anak (2020), Duniaku dalam 350 Kata Serpihan Tulisan Citizen Reporter Harian Surya (2020). Korespondensi melalui wa **(censored)**atau email **(censored)**.
Sumber gambar di bawah:
antaranews.com
gresik.info


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
