(111) PELATIHAN MENDONGENG 2 OLEH MEDIAGURU INDONESIA
Mendongeng merupakan cara untuk menyampaikan suatu cerita kepada para para pendengar khususnya anak-anak. Ketika mendongeng, dapat disertai dengan gambar, foto, ataupun suara yang berbeda sesuai karakter tokoh. Teknik ini bermanfaat melatih kemampuan mendengar atau menyimak secara menyenangkan. Saat mendongeng, hindari menggurui. Biarkan anak-anak mengambil simpulan atau pelajaran dari dongeng tersebut.
Demikian penuturan Wiwiek Puspitasari, pendongeng nasional, penulis buku dongeng best seller dalam Pelatihan Mendongeng 2 (30/04) yang diselenggarakan oleh MediaGuru Indonesia. Pendongeng harus mempunyai kemampuan berbicara yang baik, memahami karakter pendengar, meniru suara-suara, pintar mengatur nada dan intonasi, dan keterampilan memakai alat bantu. Teknik bercerita bisa berhasil, jika pendengar mampu menangkap jalan cerita serta merasa terhibur. Selain itu, pesan moral dalam cerita juga diperoleh.
Kemampuan mendongeng ditambah dengan membuat buku dongeng/cerita anak sangat diperlukan dalam dunia pendidikan di Indonesia terutama untuk anak usia dini. “Sayang kalau kita memiliki ide cerita anak namun tidak dituangkan dalam tulisan dan menjadi buku. Ayo, kita bersemangat membuat buku anak. Mungkin kita bisa membuat buku antologi bersama,” kata Wiwiek.
Wiwiek memberi rambu-rambu membuat buku cerita anak. Buku kata tanpa kata hanya gambar atau 1 kata tiap halaman maksimal 8 halaman (Bayi-Batita). Buku Cerita Bergambar 5-8 tahun, 16 halaman. Buku Cerita Bergambar 7-9 tahun, 20 halaman. Kumpulan Cerita, 15 judul cerita, 50 halaman disesuaikan usia anak jika bergambar atau tidak. Novel anak, 50 halaman boleh bergambar boleh tidak.
Seorang penulis buku cerita anak pantang menyalin teks yang ada di internet. Kalau ide penulis sama dengan ide cerita yang ada di internet, diusahakan kalimatnya berbeda dengan teks yang sudah ada.
Menulis buku cerita anak lebih banyak menampilkan gambar daripada tulisan. Terutama untuk anak PAUD , TK, dan SD kelas 1-2. Penulis dapat membuat gambar dengan krayon lalu discan dan diberi teks. Gambar yang mendukung cerita bisa meminta bantuan ilustrator. Hindari mengambil gambar dari internet.
Daftar pustaka bersifat opsional. Disarankan daftar pustaka bersumber dari buku, bukan dari internet semua. Daftar pustaka menjadi acuan bahwa cerita dibuat berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan apabila menulis cerita sejarah.
Pelatihan yang diikuti 17 guru via Zoom Cloud Meeting ini berlangsung serius namun santai. Diskusi narasumber dan peserta berjalan gayeng. Ada 3 pertemuan dan diharapkan peserta dapat mendongeng dengan baik dan menghasilkan buku.
Gresik, 4 April 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
