Laili Rusma

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
(126) BUAH KEJUJURAN (1)
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fberitaekspres.com%2F2016%2F11%2F16%2Fpostingan-facebook-pemulung-cilik-akhirnya-dirawat-di-panti-anak%2F&psig=AOvVaw0BAvXVqIifmUqADRngpxIc&ust=1621524309710000&source=images&cd=vfe&ved=0CAMQjB1qFwoTCMiZi_yG1vACFQAAAAAdAAAAABAY

(126) BUAH KEJUJURAN (1)

Ahmad adalah anak yatim. Ayahnya sudah lama meninggal. Ahmad adalah anak pertama. Ia memiliki adik yang masih kecil, umur 4 tahun. Ibunya bekerja sebagai pencuci baju tetangga yang membutuhkan tenaganya. Ibu Ahmad berkeliling dari tetangga satu ke tetangga lain untuk mencuci baju.

Sejak ayah Ahmad meninggal, Ahmad putus sekolah karena ibunya tak sanggup membiayainya. Ia hanya sampai kelas 6 SD. Sekarang ia menjadi pemulung plastik. Ia sering membawa adiknya karena tidak ada yang menjaga.

Setelah salat subuh, ia berangkat bersama adiknya menaiki bus menuju ke kota. Sopir dan kondektur bus sudah hafal dengan Ahmad. Mereka tidak memungut uang karcis. Setelah sampai di terminal, Ia berkeliling kota mencari sampah plastik dari rumah ke rumah. Dari kampung ke kampung. Kalau sudah dirasa cukup, ia akan pulang dan memberikannya kepada pengepul. Upah yang ia terima sering tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Ahmad tidak pernah meminta uang kepada Ibunya. Semua uang hasil upah itu, ia berikan kepada Ibunya. Ia tahu ibunya sangat membutuhkannya. Apalagi saat ini ibunya sering sakit. Ia tidak tega melihat kondisi ibunya. Sebagian uang tersebut ia belikan obat untuk ibunya.

Seperti biasa, ia melewati perumahan untuk menuju ke terminal. Tiba-tiba saja, ia melihat sebuah sepeda gunung dengan kunci yang masih menggantung. Sepeda itu tergeletak begitu saja di depan sebuah rumah. Ahmad menghentikan langkahnya. Ia pun mengambil kunci itu sambil mengetuk pintu rumah di depan tempat sepeda gunung itu berada.

“Assalamu alaikum. Permisi,”teriak Ahmad.

“Assalamu alaikum. Permisi!”

"Assalamu alaikum. Permisi!”

Ahmad sudah memberi salam 3 kali kepada pemilik rumah. Namun tidak ada yang menyahut. Ia ingat perkataan guru agamanya bahwa, apabila sampai 3x mengucapkan salam, tidak ada yang menyahut, berarti rumah yang didatangi tidak ada orangnya.

Ahmad meletakkan bungkusan rongsokan. Ia melihat adiknya mengantuk. Ahmadpun memberikan minum dan makanan bekal dari ibunya.

Ahmad tidak melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Ia tetap di depan rumah tersebut sambil menunggu sepeda gunung yang kuncinya masih tertinggal tersebut.

Ahmad pun mengulang mengucapkan salam lagi. Tetapi tidak ada juga yang menyahut. Ia menghela napas. Panas terik tidak dirasakan. Ia hanya ingin menyelamatkan sepeda gunung tersebut.

Tiba-tiba saja ... (bersambung)

Rumahku, 19 Mei 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post