Laili Rusma

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
(165) BAHASA INDONESIA TERUS TERGERUS
cikimm.com

(165) BAHASA INDONESIA TERUS TERGERUS

Hari ini, Pak Eko Prasetyo, Pemimpin Redaksi Majalah Literasi Indonesia sekaligus salah satu pelopor Media GuruIndonesia dan gurusiana, menulis di grup wa pelatihan menulis, tentang merosotnya penggunaan bahasa Indonesia. Beliau menorehkan penanya yang berjudul Bahasa Gado-Gado. Selain sebagai pegiat literasi dan penulis, beliau adalah pakar bahasa Indonesia yang sebentar lagi meraih gelar doktor.

Bahasa gado-gado adalah penggunaan bahasa Indonesia diselipi bahasa Inggris. Orang lebih bangga menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Ini perlu perhatian bagi kita semua. Sekitar tahun 2015, beliau berkirim surat ke koran Tempo yang isinya tentang makin pudarnya pesona bahasa Indonesia.

Bahkan, baru saja beliau melihat tayangan Master Chef di RCTI, yang para jurinya sering sekali menyisipkan kosa kata Inggris saat berinteraksi dengan peserta ajang keterampilan memasak itu. Apakah mereka tidak memahami padanan kata untuk istilah-istilah asing tersebut atau untuk mengangkat gengsi.

Saya sendiri sebagai guru bahasa Indonesia mengalami hal yang mirip dengan Pak Eko. Hanya saja, yang saya alami adalah makin hari siswa saya tidak bisa menulis secara runut dan penggunaan ejaan yang masih perlu bimbingan. Padahal, mereka sudah duduk di bangku SMA. Ketika mereka bertanya di whatsapp apakah saya sudah berada di sekolah atau belum, mereka pun menulis "Ibu sudah di sekolah ta?" bahkan terkadang tanpa salam dan menyebutkan identitas diri terlebih dahulu.

Bagaimana dengan berbahasa lisan? Ketika menjelaskan karya tulis atau memaparkan sesuatu, mereka banyak memakai bahasa gaul dan gado-gado dengan bahasa daerah. Nilai pelajaran bahasa Inggris pun lebih tinggi daripada bahasa Indonesia.

Dulu, saya adalah guru Sekolah Dasar. Saya mewajibkan siswa untuk menulis dengan huruf tegak bersambung dan kerap menyuruh siswa untuk mengarang. Saya meniru guru bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, Bu Nurbaiti (Al Fatihah untuk beliau). Hampir tiap hari beliau mewajibkan kami untuk mengarang. Namun, saya berterima kasih kepada beliau karena apa yang beliau lakukan adalah pembiasaan untuk menuangkan ide ke dalam tulisan dengan huruf yang benar dan rapi.

Kerap, saya menjumpai siswa menulis namanya sendiri salah dalam penempatan huruf kapital dan tidak. Pembuatan paragraf, dan menuangkan ide ke dalam tulisan. Kalau tulisan mereka sangat bagus, saya memiliki prasangka kalau mereka meniru dari internet. Ternyata, dugaan saya benar. Perlu diadakan penelitian tentang hal ini.

Bagaimana dengan melatih berbicara siswa? Tiap hari, siswa saya suruh maju satu per satu untuk bercerita atau monolog. Bahkan, ada siswa yang tiap hari selalu ingin tampil untuk berceita, saya membiarkannya. Teman-temannya pun akan menanti cerita teman-temannya yang tiap hari berbeda satu dengan yang lain.

Sekolah Dasar adalah kali pertama siswa mengenal materi yang diajarkan guru. Ingatan kita lebih kuat daripada pembelajaran di sekolah tingkat pertama atau atas. Pada saat itu, guru mengukir di atas batu. Kini, pembelajaran di Sekolah Dasar bersifat tematik. Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang dikemas dalam bentuk tema-tema berdasarkan muatan beberapa mata pelajaran yang dipadukan atau diintegrasikan. Meskipun bahasa Indonesia merupakan bagian dari pembelajaran tematik tersebut, guru harus memiliki strategi agar siswanya juga memiliki keterampilan berbahasa Indonesia, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Pada pandemi covid-19 inipun 4 keterampilan tersebut jangan diabaikan, baik jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, bahkan perguruan tinggi. Jangan hanya memberikan tugas saja kepada siswa, namun kita bisa memberi bimbingan dan pembinaan. Memang, dibutuhkan kesabaran kita sebagai guru. Memasyarakatkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia), memaksa siswa untuk membaca dan menulis dengan strategi yang menyenangkan sangat diperlukan ketika bahasa nasional dan bahasa negara terus tergerus. Siapa lagi yang dapat menjaga bahasa ini kalau bukan kita sendiri.

Rumahku, 27 Juni 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post