Laili Rusma

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
(189) FILOSOFI PENSIL
pngegg.com

(189) FILOSOFI PENSIL

Salah satu penulis favorit saya adalah Nur Cholis Huda. Beliau adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Beliau sangat produktif dalam menulis. Sekarang, tiap Ramadan, beliau meluncurkan buku sebagai ungkapan rasa syukur. Ada 3 buku beliau yang sudah saya miliki, yakni Anekdot Tokoh-Tokoh Muhammadiyah (2008), Rumput Tetangga Tidak Lebih Hijau (2011), dan Jangan Tinggalkan Aku Sendiri (2021). Tulisan beliau ringan dengan bahasa mudah dipahami orang awam seperti saya ini.

Ada yang menarik dalam buku Rumput Tetangga Tidak Lebih Hijau. Saya tidak pernah bosan membacanya berulang-ulang. Salah satu tulisan di dalamnya adalah tentang pensil. Tulisan beliau tersebut terinspirasi dari "another-reni.blog.spot.com. tentang pensil yang memiliki lima kualitas. Mungkin bisa menjadi renungan kita bersama.

Pertama, pesil itu bisa menulis karena ada tangan yang menggerakkannya. Demikian juga dengan hidup kita. Apapun yang kita capai karena ada Tangan Tuhan yang membimbing. Kita sering lalai ketika kita mencapai puncak ketenaran.

Saat memimpin sebuah perserikatan atau suatu lembaga, jangan lupa diri. Jangan merasa paling berjasa. Sesungguhnya, ada Tangan Tuhan di balik itu semua. Bahkan kita membusungkan dada karena prestasi yang bukan prestasi kita, tetapi prestasi orang lain. Kita sukses karena ada orang-orang yang membantu kita.

Sebaliknya, bila kita menghadapi masalah, Tuhan tidak membiarkan kita sendirian. Tangan Tuhan membimbing kita seperti manusia membimbing pensil. Tuhan akan membantu hambanya yang memiliki niat ikhlas untuk kebaikan sesama.

Kedua, pensil memberi kesempatan menghapus tulisan yang salah dan memperbaikinya. Demikian juga dengan kita. Kita bersedia mengakui kesalahan dan melakukan kebaikan lebih banyak lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Ketiga, ketika menulis, terkadang beberapa kali pensil berhenti karena tumpul, lalu menajamkan diri dengan rautan. Hidup tidak selalu berjalan mulus, ada ujian dan kesulitan. Lihatlah orang-orang sukses di sekeliling kita. Mereka menapaki hidup dengan menerjang rintangan sehingga menjadi pribadi yang kuat. Sesungguhnya, bersama kesulitan, ada kemudahan.

Keempat, bagian penting dari pensil adalah arang di dalamnya, bukan kayunya. Arang itulah yang dipakai untuk menulis. Manusia juga demikian. Bukan faktor fisik yang utama melainkan jiwa dalam diri manusia.

Peradaban dibangun dengan ide dan langkah besar oleh orang-orang yang berjiwa besar, bukan fisik yang besar. Oleh karena itu, merawat dan menjaga jiwa kita harus dilakukan dengan kesungguhan dan kehati-hatian.

Kelima, pensil meninggalkan goresan. Goresan itu terbaca ketika kita masih hidup atau sesudah berpulang. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Semoga kita menggoreskan nama yang baik. Aamiin.

Rumahku, 21 Juli 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post