(205) BUAH KEJUJURAN
Di sebuah kerajaan, hiduplah seorang raja yang sudah tua. Ia ingin mendapatkan pengganti yang benar-benar sesuai keinginannya. Berbeda dengan kebiasaan di kerajaan, ia tidak menunjuk anaknya menjadi raja. Ia memanggil para pemuda di negeri itu.
"Wahai rakyatku semua. Hai pemuda-pemudi dari seluruh pelosok negeri. Hari ini saya mengadakan lomba. Kalian semua akan mendapatkan sebuah biji. Tanamlah biji ini di rumah kalian. Dalam setahun, silakan kembali ke sini dan perlihatkan tanaman kalian pada saya."
"Yang memiliki tanaman terbaik, akan saya tunjuk menjadi raja penggantiku!" kata raja bersemangat.
Kemudian, raja menyuruh para pengawal kerajaan untuk membagikan biji-biji itu kepada seluruh pemuda-pemudi di negeri itu.
Tersebutlah seorang pemuda bernama Karno, sangat gembiramendapatkan biji tersebut. Ia pun menanamnya di halaman rumah. Tiap hari, ia menyiramnya dengan baik. Namun, sampai satu bulan, belum ada tanda-tanda bahwa biji tersebut tumbuh.
Sesudah enam bulan, para pemuda mulai membicarakan tanaman mereka masing-masing. Mereka mengatakan bahwa tanamannya telah tumbuh tinggi. Karno hanya diam saja mendengar pembicaraan teman-temannya. Ia pun mengamati halamannya tiap hari. Tetapi, tidak ada tanda-tanda biji itu menjadi tanaman.
Tak terasa, telah setahun sayembara itu dilaksanakan. Semua pemuda di negeri itu berramai-ramai ke kerajaan untuk memperlihatkan tanaman hasil biji-bijian yang diberikan raja pada mereka. Raja menyambut para pemuda tersebut dan memuji tanaman yang mereka bawa.
"Wah, kalian luar biasa. Tanaman yang kalian bawa ini sangat indah," puji raja.
Saat itu, Karno pergi ke kerajaan juga. Ia dipaksa ibunya untuk ikut. Ibunya mendorong Karno agar mengatakan yang sebenarnya.
"Sekarang, saatnya saya akan menunjukkan siapa yang pantas menjadi pengganti saja," kata raja.
Raja melihat Karno yang berada di deretan paling belakang. Raja melihat Karno membawa pot namun tidak ada tanamannya.
"Silakan kamu yang di deretan paling belakang itu, maju ke depan," kata raja.
Karno gemetar. Ia gugup. Ia tidak mengira raja memanggilnya. Ia pun cemas. Pasti raja akan menghukumnya. Para pemuda banyak yang mengejek Karno karena ia hanya membawa pot saja.
"Hai pemuda, siapa namamu?" tanya Raja.
"Karno, Tuanku," kata Karno gugup.
"Apa yang kau bawa, Karno?" tanya Raja.
"E, e, e... maafkan saya, Raja. Saya membawa pot saja karena biji yang Raja berikan tidak bisa tumbuh di halaman rumah hamba," kata Karno tertunduk.
"Baiklah, Karno. Saya menghargai kejujuranmu," kata Raja.
"Wahai semua rakyatku. Hari ini saya umumkan bahwa yang berhak menjadi raja adalah Karno. Sebenarnya, saya memberi biji-bijian yang sudah dimasak dan tidak mungkin bisa tumbuh lagi. Karno telah menunjukkan keberanian untuk datang ke sini dengan membawa pot tanpa tanaman dan mengatakan yang sebenarnya. Ia berhak menjadi raja," kata Raja berapi-api.
Begitulah kisah Karno yang jujur. Kejujuran membawa keberkahan.
Rumahku, 6 Agustus 2021
Disadur dari cerita Terapi Berpikir Positif in Comik oleh Irwan Widiatmoko (2014)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
