(252) PERLU BELAJAR EJAAN
Mempelajari bahasa Indonesia, tak lepas dari kebahasaan. Pada kurikulum 2013, yang diangkat adalah beragam teks. Siswa pun dilatih untuk memiliki keterampilan menulis teks negosiasi, teks eksposisi, teks prosedur, teks ekplanasi, artikel, disamping apresiasi terhadap sastra. Bamyak yang mengabaikan masalah tata bahasa. Yang penting menulis dengan tidak memerhatikan ejaan. Hal ini patut disayangkan karena mereka adalah siswa sekolah lanjutan atas.
Sudah satu setengah tahun, siswa tidak bertatap muka dengam guru. Mereka pun tidak sering berinteraksi melalui zoom claud meeting, google meet, atau yang lain. Mereka lebih banyak mencari pengetahuan dari google.
Ternyata memang benar. Pembelajaran tatap muka tetap pembelajaran terbaik. Guru dapat mengetahui kondisi sidwa secara nyata. Ini terbukti dari evaluasi pengetahuan mereka tentang ejaan. Hampir 80 % siswa mendapatkan nilai di bawah KKM. Berbeda dengan evaluasi yang dilalukan guru ketika sebelum pandemi. Hamya 10 % yang mendapatkan nilai di bawah KKM. Ini menjadi bahan evaluasi dan intropeksi guru untuk memberi pengetahuan tentang ejaan dengan metode yang lebih tepat.
Rumahku, 23 September 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
