Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Berpentigraf, Yuk!

Berpentigraf, Yuk!

Pembelan diri (self defense) dan permintaan perlindungan kepada orang/pihak lain (suaka) adalah upaya pemertahanan diri. Pada karya sastra di antara upaya pemertahanan diri itu adalah melakukan perubahan. Kalau dalam istilah biologi upaya ini disebut bermutasi, mulai dari mutasi adaptif sampai dengan mutasi gen.

Munculnya pentigraf (cerpen tiga paragraf) adalah bukti adanya mutasi yang dikreatori kali pertama oleh sastrawan Tengsoe Tjahjono. Pola cerita pendek terbatas pada tiga paragraf ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Tengsoe sejak tahun 80-an. Namun, karena dianggap aneh, pola cerita ini tidak banyak direspon oleh penikmat sastra maupun pencipta sastra kala itu. Kemudian pada tahun 2014, saat Tengsoe mengabdikan dirinya di Korea, beliau memperkenalkan kembali pola penulisan cerita dengan hanya tiga paragraf ini.

Pentigraf sebenarnya bagian dari short-short story. Cerita pendek yang pendek sekali. Dikatakan pendek sekali karena penggunaan kata dalam cerita ini tidak lebih dari 210 kata. Tidak lebih dari satu halaman kertas A5 jika hendak dicetak menjadi buku. Akan menjadi lucu dan tidak seksi lagi kata Tengsoe, jika cerita berlanjut di halaman berikutnya. Oleh karena itu, Tidak banyak tokoh yang bisa diceritakan dalam tulisan ini. Namun, elemen-elemen narasi tetap harus lengkap seperti layaknya cerpen. Tema, tokoh, konflik, latar, alur, sudut pandang, dan pesan atau amanat tetap harus tersaji dalam jalinan yang berkelindan (unity).

Yang mesti dipahami dalam pentigraf adalah fokus pada satu tokoh saja. Ruang yang terbatas pada pentigraf ini tidak memungkinkan untuk adanya dialog antartokoh. Percakapan tokoh harus dihindari karena akan aneh dari sisi tipografi penulisan teks cerita. Sahut-sahutan dalam pentigraf akan menyulitkan penulisnya. Jika terpaksa ada kalimat langsung, cukup satu saja dan yang lainnya diubah menjadi kalimat deskripsi atau narasi. Perhatikan contoh berikut!

“Ah, tidaklah seperti itu seharusnya!” Kata Siti.

“Lantas seperti apa coba?” Sahut Hudi.

Suami istri yang yang biasanya selalu menunjukkan nuansa rumah tangga yang harmonis dan sejuk itu tiba-tiba sedikit riuh. Para tetangga di kompleks perumahan itu pun bertanya-tanya.

Struktur cerita seperti itu harus dihindari. Percakapan tokoh bisa dibuat menjadi kalimat tidak langsung atau dengan gaya deskrptif. Seperti contoh di bawah ini perubahannya.

Dengan sigap Siti menyela tindakan suaminya, “Ah, tidak seperti itu seharusnya!” Sambil melontar senyum khas seorang suami yang penuh dengan kesabaran dan kebijaksanaan, Hudi menghentikan sejenak aktivitasnya. Dia mengampiri putri semata wayangnya yang tadi seperti dihempas oleh istrinya di sova.

Yang perlu dipahami betul dalam menulis karya sastra bukan hanya pentigraf adalah bahwa karya sastra hakikatnya bukanlah sekadar mengubah pengalaman nyata atau menuangkan gagasan ke dalam teks. Bagaimanakah penulis mampu mendeskripsikan atau menarasikan pengalaman dan gagasannya hingga menjadi sastra pentigraf atau bukan? Semua bergantung pada kemampuan penulis memilih, mengolah, dan menata kata-kata. Pengalaman empiris, keluh kesah, dan pikiran harus diubah dari sekadar tangkapan indera menjadi fakta imaji penulis. Jangan sampai pentigraf ini sebatas curhat atau informasi atas fakta saja.

Hal terakhir yang menjadi kunci ketika menulis pentigraf adalah struktur cerita. Karena hanya tiga paragraf saja, paragraf pertama harus sudah dimulai dengan orientasi dan potensi konflik yang dialami tokoh. Karakter tokoh harus kuat karena dialah yang nanti mengarahkan alur. Pada paragraf kedua penulis harus mampu mengembangkan konflik. Cerita memuncak hingga pergulatan batin sang tokoh sampai memunculkan empati/simpati pembaca (suspense). Yang harus tetap terjaga ketika kita menulis pentigraf adalah kelogisan peristiwa (plausibilitas). Jangan sampai karena asyik mengikuti alur, cerita mengembang keluar nalar pembaca. Berikutnya, paragraf ketiga. Inti dari sebuah karya agar bisa disebut pentigraf yang seksi (kata Tengsoe pula) adalah pada kemampuannya menghadirkan kejutan (surprise) kepada pembacanya. Cerita berakhir dengan sesuatu yang tak terduga sebelumnya oleh pembaca.

....

Sejimpit robusta menempel di kemasan bertuliskan SMP 3 Kalipuro tak cukup disedu untuk menemaninya menepis rindu yang kian membiru. Mashudi makin beku di ribang kala aksa.**

Inisiator TUKAR TUGU,

KS SMPN 3 Songgon Satap

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post