Fa-Biayyi Alaa'i Rabbi Kuma Tukadzdzi Ban
Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan’. Ampuh! ayat ini selalu Abah pakai untuk mendoktrin jamaah Yasin-Tahlil yang sesekali menggerutu atas apa yang ia alami. Tidak ekstrim sebenarnya, tapi setiap kali ada anggota jamaah yang mengeluhkan kurangnya ini dan itu, Abah selalu menanggapinya dengan Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Bukan hanya itu, Abah juga menambahkan keterangan panjang dan selalu melebar yang pasti membuat kami ‘diam’ tanpa ekspresi. Apalagi dengan idiolek khas Abah, /yaitu/, yang lalu diikuti keterangan panjang dan selalu melebar hingga berpotensi melebihi kuota sebuah pentigraf.
Kamis malam ini, ketika giliran tempat jamaah Yasin-Tahlil di rumah Hudi, Abah menemukan momentum itu lagi. “Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban, kita itu jangan sekali-kali yaitu mengingkari nikmat Allah. Coba kita rasa dan lihat. Lidah, yaitu indra untuk merasa asin, manis, pahit dan lain-lain. Kalau kita tidak bisa merasakan itu semua, jangan-jangan kita terkena korona. Mata, yaitu indra melihat. Coba kalau kita tidak bisa melihat perempuan cantik. Rabun, kita dikira. Maka itu, jangan sekali-kali yaitu kita mendustakan nikmat yang telah Allah berikan sekecil apa pun itu.” Percaya ‘kan’ panjang dan lebar? Padahal persoalannya hanya sederhana. Pak Heru tidak puas dengan layanan administrasi di kantor desa.
Azan isya berkumandang dari musala depan rumah. Hampir semua jamaah Yasin-Tahlil mulai berguman, “kapan makannya?”. Abah masih mengurai kalimat jabaran dari ayat Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Tak ada tanggapan dari jamaah, mungkin juga tak ada yang masuk ke kalbu mereka. Seperti yang telah lalu, setiap Abah bertausiah, ekspresi enggan dan ogah mendengar terlihat samar dari sorot mata mereka. Padahal, jika jamaah mau jujur, ibarat kata, apa yang disampaikan Abah itu daging semua, benar semua. Bukankah nikmat Allah membentang tak terhingga di sekitar kita? **
Saduran Tak Ada Lagi Gelas, puisi karya Samsudin Adlawi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
