Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hormon Kebahagiaan, iyakah?

Hormon Kebahagiaan, iyakah?

Siapa orang yang senantiasa menyusun target dan merencanakan kegiatan meraihnya, dialah orang-orang yang 40% hidupnya sudah sukses. Ketika fajar terbit, orang-orang seperti ini sudah sibuk dengan persiapan fisik dan kelengkapan alat untuk beraktivitas. Berbeda dengan orang-orang yang ketika pagi buta masih memeluk erat bantal gulingnya, dialah orang-orang yang 60% hidupnya sudah bisa dikatakan gagal. Betapa tidak, pagi hari ketika udara segar, berbagai hormon dalam tubuh kita mestinya bisa dimaksimalkan fungsinya.

Dopamin salah satunya. Adalah hormon dan neurotransmitter (senyawa otak) yang berkaitan dengan penghargaan diri, seperti motivasi. Hormon ini turut memainkan peran terhadap suasana hati sehingga termasuk sebagai hormon kebahagiaan. Selain memengaruhi kesenangan diri, dopamin juga berkontribusi dalam penalaran, daya ingat, serta fungsi sistem motorik.*)  Sehingga bisa dipastikan bahwa orang yang tidak bersemangat, kurang motivasi, lamban respon, dan pelupa adalah orang yang kekurangan hormon dopamin. Lantas bagaimana mengatasinya?

Sulit mengatasi kondisi ini, namun bukan berarti tidak bisa. Seringkali kita tidak  menyadari kondisi ini. Seringkali kita menganggap kemalasan, kelambanan respon, pelupa adalah hal biasa dalam siklus kehidupan seseorang. Karena dianggap biasa inilah kita sering abai. Nanti akan normal sendiri seperti biasa pula. Padahal, jika mau, kita bisa mengatur dan mengelola kondisi kita sekehendak diri kita. Bagaimana caranya?

Pertama, mulailah dengan berpikir positif abaikan prasangka negatif sehingga bebas stres. Anggaplah semua yang terjadi dan menimpa kita pasti ada hikmahnya. Hikmah menuju kebaikan diri kita. Kedua, sedikit demi sedikit kurangi makanan/minuman berkafein karena kandungan kafein dapat mengganggu keseimbangan kadar dopamin pada otak. Ketiga, perbanyak konsumsi makanan yang mengandung tirosin seperti pisang, semangka, kacang-kacangan, telor, dan daging. Jenis makanan ini mengandung asam nonesensial yang dapat menurunkan depresi. Keempat, susunlah jadwal kegiatan yang ketat. Pastikan bisa melakukan jadwal yang tersusun dengan disiplin: kapan waktu olahraga, kapan waktu belajar, kapan waktu ibadah, misalnya.

Bagaimana dengan aku sendiri? Cukup dan stabilkah horman dopamin dalam diriku? Hanya aku dan Tuhanku yang tahu.++

 

*) dikutip dari **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post