GERHANA BULAN
Sejak dua hari lalu, Syalsha sudah pasang status WA, story IG, twitter, hingga FB bahwa akan ada gerhana bulan. Bukan perihal gerhana dan gejala sainnya yang menarik bagi Syalsha, melainkan perihal libur sekolahnya. Semangat sekali dia memperbarui statusnya, bahkan sehari bisa enam kali.
Zaman dulu, ketika ada berita gerhana entah itu bulan atau matahari, kepanikan masyarakat sangat terasa. Para tetua kampung dan tokoh adat selalu mengaitkannya dengan hal-hal supranatural/mistis. Gerhana itu pertanda bulan dan matahari berseteru. Ada pula anggapan, gerhana berarti virus sehingga semua makanan harus ditutup rapat. Yang paling ekstrim, anggapan bahwa bulan ditelan makhluk besar/raksasa. Untuk mengusirnya, masyarakat harus menabuh kentongan beramai-ramai.
Itu kalau gerhana bulan. Beda ceritanya kalau yang gerhana adalah Syalsha. Ups, apa kaitannya? Syalsha ini nama panjangnya Syalsha Wulandari Prasetya. Wulan (Ind.: bulan) kadang menggantikan Syalsha sesuai ruang dan waktu. Saat di sekolah, para teman memanggil Syalsha, ketika di rumah akrab dengan Wulan. "Wulan, mengapa wajahmu murung?" "Dimakan gerhana!" Jawabnya ketus.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
