Mengenal Puisi TELELET (Genre Baru Puisi Indonesia)
Minggu (18/7) adalah hari libur terindah selama musim pandemi Covid-19. Bukan hanya karena saya dan keluarga terhindar dari paparan virus varian baru, melainkan karena hari ini saya diperkenalkan dengan puisi varian baru.
TELELET nama varian puisi genre baru ini. Nama TELELET diambil dari akronim Tiga Empat Lima Enam Lima Empat Tiga. Akronin nama dari genre puisi ini sekaligus merupakan ciri jumlah baris tiap bait puisi TELELET. Ciri lain yang perlu juga dicermati dalam ragam puisi ini adalah kesederhanaan bahasa yang digunakan. Bahasanya tidak banyak menggunakan majas/kias/konotasi. Puisi ini cenderung menggunakan ragam bahasa sehari-hari.
Dari sisi tema, puisi TELELET getol mengangkat persoalan kekinian yang terjadi di masyarakat. Konstruksinya, bait pertama isu, bait kedua persoalan pokok, bait ketiga rincian persoalan, bait keempat klimaks, bait kelima antiklimaks atau solusi, bait keenam simpulan, dan bait ketujuh penutup berisi ungkapan peneduh.
Berikut ini karya puisi TELELET pertama saya yang berbuah reward INTUISI MATA ELANG (Antologi TELELET karya Sang Founder, Dr. Marjuki, M.Pd.)
NULIS PUISI TELELET
Oleh: Mashudi
Hari ini kita belajar nulis
Saat suasana rinai gerimis
Agar suasana jadi lebih manis.
Jika hari ini engkau risau
Jangan biasakan nulis status galau
Apalagi terpikir mengasah mandau
Mari sanding bersamaku meracau
Puisi telelet ini ajaib
Baru sadar dia begitu ajib
Tidak datang dari dunia gaib
Meski bentuknya kurang karib
Tapi yakin kelak jadi puisi wajib.
Saat kita merangkai puisi
Usir sirna segala gengsi
Agar puisimu menampung misi
Jangan pernah berhenti beraksi
Pengalaman bukanlah hal basi
Ia bisa jadi bahan untuk diskusi.
Di sini kita tak perlu malu
Apalagi mikir negatif dan banyak halu
Puisi TELOLET bisa menangkal pilu
Di tengah pandemi yang itu mulu
Terus berdoa pandemi berlalu.
Lewat tulisan kita bisa berbagi
Sambung silaturahmi terus bersinergi
Walau kita bukan ahli pedagogi
Puisi kita pasti membangkitkan energi.
Ini zaman mendekati akhir
Asma Allah harus tetap terukir
Jangan terlepas dari pola pikir.
Genteng, 18 Juli 2021 (Saat WBINAR NASIONAL "MENGENAL PUISI TELELET")
Genre puisi yang digagas oleh Dr. Marjuki, M.Pd ini adalah luapan kegelisahan beliau atas berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Selain itu, puisi TELELET ini beliau sulut untuk menerangi ruang-ruang gelap dan menerobos jalan buntu di kelas-kelas belajar sastra khususnya puisi.
Salam kenal dariku, PUISI TELELET! Aku berjanji akan mengakrabi, mencintai, dan menjagamu hingga di ujung waktu.**
#penjaga_literasi #TeleletAsyik
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
