Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
ANOMALI, INI BUKAN SOAL CUACA
Ilustrasi tidak harus sesuai narasi

ANOMALI, INI BUKAN SOAL CUACA

ANOMALI, INI BUKAN SOAL CUACA

Banyak peristiwa hari ini terjadi di luar nurul, meminjam istilah anak zaman sekarang: tak masuk nalar kelaziman. Gejala A yang mestinya melahirkan A’, justru berujung B, bahkan Z. Yang rajin tak selalu menuai, yang gaduh justru diganjar panggung. Kita pun gagap membaca arah, sebab peta lama tak lagi memadai untuk wilayah yang berubah cepat.

Kita terbiasa memprediksi dengan pola: tanda-tanda yang terlihat, kebiasaan yang berulang, atau intuisi yang diasah pengalaman. Namun anomali meruntuhkan semuanya. Bahkan ahli meteorologi pun memilih kata “prakiraan”, bukan “perkiraan apalagi kepastian”. Cuaca saja—yang berbasis data dan model—tak berani dipastikan. Apalagi urusan sosial, politik, dan budaya yang penuh variabel tak terukur.

Di sinilah kita sering keliru: menyederhanakan kompleksitas. Kita ingin jawaban cepat, padahal realitas bergerak zig-zag. Algoritma mempercepat gema, popularitas menutup kualitas, dan emosi mengalahkan verifikasi. Akibatnya, keputusan diambil bukan atas dasar kedalaman analisis, melainkan kecepatan respons. Anomali pun dinormalisasi.

Menariknya, dongeng hari ini tak lagi dimulai dengan “konon katanya” atau “alkisah di sebuah desa kecil”. Ia bermula dengan “jika nanti aku terpilih” atau “jika nanti aku menjadi”. Imajinasi kolektif bergeser: dari cerita tentang nilai menjadi narasi tentang posisi. Janji mengalahkan proses; citra mengalahkan substansi.

Sosiolog Ulrich Beck menyebut gejala ini sebagai bagian dari risk society: masyarakat yang hidup dalam ketidakpastian buatan manusia sendiri, di mana risiko diproduksi oleh sistem yang kita bangun—teknologi, media, dan tata kelola—lalu kita kelola dengan ilusi kontrol. Maka, anomali bukan sekadar penyimpangan; ia cermin dari tata sosial yang rapuh.

Catatan kritisnya jelas: kita perlu literasi risiko. Bukan untuk menjadi sinis, melainkan waspada; bukan untuk pasrah, melainkan adaptif. Membaca tanda dengan data, menimbang dengan etika, dan bertindak dengan kehati-hatian. Karena di zaman anomali, yang paling berbahaya bukan ketidakpastian, melainkan kepercayaan diri yang berlebihan.**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post