FILMKU BUKAN FILMKU
Sejak TK aku sudah gemar berakting. Panggung pertamaku adalah teras kelas, penontonnya guru dan teman yang lebih sibuk mengunyah bekal. Aku kebagian peran pohon—diam, tapi merasa berbakat.
Bakat itu kubawa sampai lulus SMA. Dengan penuh keyakinan dan tas ransel berisi mimpi, aku masuk kampus seni, jurusan film dan televisi. Di sanalah aku merasa terlahir kembali, lengkap dengan jargon “artistik” dan kopi sachet tengah malam.
Selama kuliah, karya demi karya lahir. Aku menulis skenario tentang manusia dan hujan—karena hujan selalu terlihat filosofis. Aku menyutradarai film pendek dengan judul panjang tapi durasi pendek. Pernah juga jadi produser, tugasnya memastikan semua kru kebagian nasi bungkus dan tidak kabur sebelum syuting selesai.
Aku bermimpi besar. Aku ingin seperti Hanung Bramantyo atau Riri Reza. Karyaku ingin kukenang sebagai jati diri, bukan sekadar file berjudul final_fix_fix_beneran.mp4.
Lalu luluslah aku. Dunia nyata menyapaku dengan hangat dan sedikit menyeringai. Suatu hari, filmku diputar di acara keluarga. Paman berkomentar, “Ini film siapa, kok kayak sinetron?” Sepupu bertanya, “Ada versi TikTok-nya?”
Saat itulah aku sadar: filmku memang bukan sepenuhnya filmku. Ia sudah jadi milik penonton, komentar, dan meme. Tapi tak apa. Selama masih ada yang menonton—meski sambil tertawa—aku tahu aku masih berakting: memerankan diriku sendiri, yang keras kepala mencintai film.**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
