GURU IDOLAKU ... ?!
Pembelajaran semester dua sudah berjalan dua pekan, tapi Putri merasa belum sekolah. Setiap pagi ia berangkat rapi, pulang tetap rapi, hanya isi kepalanya yang tetap kosong—seperti flashdisk belum diformat. Di kelas, hari-hari diwarnai ini itu dan ina inu: rapat mendadak, sosialisasi kilat, dan pengumuman panjang yang intinya, “Nanti belajar ya.”
Pak Qomar, guru paling taat jam pelajaran, kini sering izin cuti. Putri sampai hafal kode kehadiran: hadir, izin, daring, dan “menyusul”. Katanya, demi keseimbangan hidup. Putri mengangguk, sambil bertanya dalam hati, “Kalau keseimbangan murid gimana, Pak?”
Matematika dan Bahasa Indonesia—mapel sakral untuk Tes Kompetensi Akademik kelas sembilan—lebih sering hidup di sambutan Kepala Sekolah saat upacara. “Ini penting!” katanya lantang. Putri setuju. Sayangnya, yang penting sering berhenti di podium.
Yang paling bikin Putri heran, guru Seni Budaya—idolanya—tampak lesu. Tak ada lagi proyek kolase dari barang bekas atau pementasan dadakan yang bikin kelas heboh. Kini, seni terasa seperti fotokopi hitam putih: ada gambarnya, tapi tak ada warnanya.
Putri akhirnya paham, kegagalan murid tak sesederhana “kurang belajar”. Ada kurikulum yang kelelahan, guru yang kehabisan napas, dan sistem yang sibuk berlari tapi lupa tujuan. Humor pun lahir sebagai obat: Putri menulis di buku catatan, “Sekolah adalah tempat belajar. Kalau belum belajar, berarti kita masih di tempat yang salah—atau waktunya yang salah.”
Sejak itu, Putri mengidolakan guru bukan karena sempurna, melainkan karena mau hadir, mau mendengar, dan mau belajar bersama. Karena pendidikan, katanya, bukan soal RPP paling rapi, tapi pertemuan paling bermakna.**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
