LAMPIASKAN DENDAM
Ada desir puas yang singgahsaat bara dendam menemukan jalannya.Itu tanda aku belum runtuh,masih berdiri lebih tinggi dari lukayang kau kira telah menjatuhkanku.Dan kau—sebaiknya menahan suara,merapatkan mulut pada sunyi.Sebab bila kata-katamu kembali melukai,amarah ini bisa menjalarmelebihi batas yang kupagari sendiri.Jangan salah sangka.Aku bukan telaga tanpa riak,bukan pula tanah yang selalu sedia memaafkan.Kesabaranku tak sepanjang doa ibu,kebijaksanaanku tak seteguh pertimbangan ayah.Aku belajar menahan,namun juga belajar melawan.Maka jangan uji apipada sekam yang masih hangat,sebab diamku adalah peringatan terakhirsebelum dendam bicaradengan caranya sendiri. ✨
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
